Kota dan Sepakbola: Mural-Mural Laskar Mataram di Sudut-Sudut Yogya

Sudah tidak dapat dihitung dengan tangan lagi julukan yang disematkan pada kota Jogja. Mulai dari kota Istimewa, kota Gudeg, kota Pelajar, kota Budaya dan julukan-julukan lain yang sering disebutkan untuk menggambarkan betapa majemuknya Jogja dan orang-orang yang mengisinya. Salah satu julukan Jogja yang lain adalah kota seni, mengingat banyaknya seniman dan pameran seni baik dalam skala lokal maupun internasional yang hampir setiap tahun mengisi agenda-agenda Jogja. Karya-karya seniman jalanan dalam bentuk street art atau mural menjadi hal yang sangat lazim dijumpai di Jogja. Mulai dari gang-gang sempit di kampung-kampung hingga tembok besar di jalan-jalan protokol. Disisi lain, geliat sepakbola di Yogyakarta khususnya di kota Jogja saat ini sedang gila-gilanya, setidaknya dalam 2 tahun terakhir ini. Lalu bagaimana kombinasi orang-orang Jogja yang katanya “artsy” tersebut dengan kegilaannya pada sepakbola? Hasilnya adalah mural-mural bertemakan sepakbola yang semakin marak ditemukan di sudut-sudut kota Jogja belakangan ini. Sepanjang ingatan penulis, mural pertama bertemakan sepakbola yang paling booming adalah mural wajah Jaime Sandoval di Jalan Gayam sebelum tahun 2010an. Kala itu masih sangat minim mural-mural sepakbola di Jogja, paling banter hanyalah vandalisme di tembok atau jalanan Jogja. Namun dalam beberapa tahun terakhir mural-mural bertemakan sepakbola, atau PSIM pada khususnya, berkembang dengan sangat pesat. Mulai dari sekedar blok di dinding bertuliskan PSIM hingga mural-mural berdimensi yang besar dengan tingkat kesulitan yang tinggi.

Mural “resmi” Brajamusti di simpang Jl. Kusumanegara – Jl. Cendana
“Aku Yakin Dengan Kamu”, mural di Gowongan Lor
Tribute to Mandala Krida, mural di depan eks Bioskop Permata
Mural dengan dimensi yang sangat panjang di daerah Tukangan
Mural di simpang 4 Bausasran
Mural di Jl. Magelang, “Bom Cat” menjadi resiko tersendiri terhadap mural-mural yang ada
Mural dengan motif army di bawah fly over Lempuyangan.
Yang terbaru, mural di Jl. Hayam Wuruk, Lempuyangan.

Selain mural-mural di atas, masih banyak mural-mural lain yang tersebar di berbagai penjuru Jogja. Bahkan hingga di luar kota hingga ke Sleman, Bantul, Kulon Progo dan Gunung Kidul. Hajar terus tembok-tembok kota, terus berkarya teman-teman Pandemen PSIM!

Ditulis oleh Redaksi Yodab! (DAZ)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: