Pembangunan Yogyakarta dari Tahun ke Tahun

   Perkembangan zaman merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari. Perkembangan zaman membuat kita menjadi lebih maju dan semakin modern. Perkembangan itu terlihat di berbagai kota di Indonesia khususnya kota Yogyakarta. Perkembangan di kota Yogyakarta terjadi di berbagai bidang, seperti pembangunan, ekonomi, budaya, sosial dan politik.

Terlihat sekali dari sejarah perkembangan zaman di kota Yogyakarta saat ini dan dulu berbeda. Dahulu Yogyakarta merupakan sebuah kota yang bisa dikata masih terlihat berbudaya. Kota Yogyakarta pada awal tahun 2000an belum terlalu banyak terlihat gedung-gedung tinggi dan hotel-hotel berbintang. Yogyakarta masih terlihat “Njawani”. Pada tahun-tahun itu juga penulis merasakan Kota Yogyakarta belum terlihat padat, masih banyak tanah-tanah kosong disana-sini dan bisa dibilang masih belum tertata dan jelas arah pembangunannya.

Memasuki tahun 2004, Yogyakarta mengalami sedikit perubahan. Tempat-tempat umum sekarang semakin ditata. Terlihat banyaknya pemindahan tempat-tempat berdagang masyarakat ke tempat yang lebih layak dan perbaikan fasilitas-fasilitas umum serta pembangunan ruang publik baru. Hal itu dipicu karena semakin padatnya kota Yogyakarta dari tahun ke tahun. Terlihat dari tanah-tanah yang tadinya kosong sekarang terisi bangunan-bangunan.

Tahun 2008 semakin terlihat eksistensi kota Yogyakarta sebagai salah satu kota besar di Indonesia. Banyak sekali megaproyek yang disetujui oleh pemerintah saat itu. Investor-investor mulai berdatangan untuk menginvestasikan uang mereka di kota Yogyakarta. Perumahan tumbuh diberbagai tempat di Yogyakarta. Kepadatan mulai terasa di “Kota Gudeg” ini. Pertambahan penduduk dan banyaknya kaum urban menjadi pemicu utama yang mempengaruhi kepadatan dan semakin tingginya alih fungsi lahan.

Tahun 2010 Yogyakarta semakin mantap untuk berubah menjadi kota besar. Perubahan di bidang pembangunan mulai terasa. Investasi besar-besaran dari pihak asing maupun lokal juga memicu timbulnya perubahan yang sangat signifikan. Di tahun ini banyak tanah-tanah di tempat strategis berubah menjadi pertokoan maupun mini market. Dan ditahun ini pula hotel-hotel mulai menjamur di Yogyakarta. Tidak tanggung-tanggung hotel yang dibangun merupakan hotel berbintang. Ekonomi terlihat semakin tumbuh pesat, rata-rata penghasilan masyarakat Yogya semakin naik. Jalanan sempit kota Yogyakarta mulai padat dengan kendaraan-kendaraan baik itu plat AB atau plat orang-orang luar yang entah menetap atau sekedar berwisata.

Tahun berikutnya 2011, pembangunan di Kota Yogyakarta semakin tidak terkendali. Hotel-hotel dibangun di pusat-pusat pariwisata dan diantara perkampungan warga. Dan dalam hal ini tidak dipungkiri Kota Yogyakarta semakin terlihat kumuh karena perbandingan pembangunan tidak sebanding dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Gedung-gedung tinggi yang dibangun investor-investor menutupi eksotisme kota Yogyakarta. Eksotisme mulai memudar di “Bumi Mataram”. Baliho-baliho iklan menghiasi di berbagai sudut. Jalan-jalan besar mulai terlihat macet. Polusi udara semakin tinggi dan semakin berubahnya kehidupan sosial masyarakat Yogyakarta. Entah hanya penulis saja yang merasa di tahun ini sangat mencolok sekali jati diri kota budaya terlihat tergerus oleh arus modernisasi pasar.

Tahun 2012 hingga tahun 2016, Yogyakarta semakin terlihat seperti barang dagangan untuk para investor-investor. Hotel-hotel mulai terlihat diresmikan setelah bertahun-tahun dibangun. Dan banyaknya megaproyek yang disetujui pemerintah. Dan banyak perubahan kebijakan-kebijakan lama yang semakin menjadikan Yogya seperti milik investor. “Yogyakarta semakin tidak tertata!”. Penolakan disana-sini atas kebijakan pembangunan pemerintah. Ekonomi tumbuh pesat, tetapi masyarakat kehilangan haknya atas tanah dan air akibat pembangunan besar-besaran di kota Yogyakarta ini. Seakan Yogyakarta saat ini milik investor semata. “JOGJA ORA DIDOL” sebagai slogan perlawanan pada tahun-tahun ini terhadap kebijakan pembangunan Kota Yogyakarta.

Tahun ini memasuki awal tahun 2017, kota Yogyakarta semakin terlihat kurang “nyaman”. Jalanan mulai macet, tingginya polusi udara, dan pudarnya eksotisme menjadi pemicu kurang nyamanya kota Yogyakarta. Penolakan akan kebijakan pemerintah seakan kalah oleh waktu.. Gedung-gedung tinggi semakin mencakar-cakar langit-langit kota Yogyakarta. Dan tidak dipungkiri banyak masyarakat lokal yang beranggapan kelak ditahun-tahun berikutnya Yogyakarta akan seperti Jakarta. Penulis disini hanya bisa berharap kelak ditahun 2017 ini akan ada perubahan, mulai dari kebijakan yang pro rakyat dan peningkatan kesejahteraan yang sepadan dengan tingginya angka pembangunan di Yogyakarta.

Sekian.

Ditulis oleh Redaksi Yodab! (RAA)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: