Perlukah Pemain Asing dalam Divisi Utama?

(© ligaindonesia.co.id)

Kompetisi Divisi Utama dijadwalkan 3 bulan lagi akan dimulai. Format dan regulasi kompetisi belum dirilis namun klub-klub peserta Divisi Utama saat ini sudah mulai bersiap-siap untuk menghadapi musim baru. Yang menjadi pertanyaan seperti apa bentuk kompetisi resmi ini dan regulasi seperti apakah yang akan diterapkan mengingat kompetisi resmi sempat vakum selama kurang lebih 1 tahun akibat pembekuan PSSI.

Yang menjadi pertanyaan besar penulis saat ini adalah regulasi pemain asing dalam kompetisi Divisi Utama. Apakah akan seperti kompetisi tahun 2015 lalu atau menggunakan “aturan lama” berupa pembatasan jumlah pemain asing dalam kompetisi Divisi Utama. Hal ini tentu akan berdampak pada persiapan klub-klub peserta Divisi Utama mengingat saat ini sedang hangat-hangatnya bursa transfer pemain.

Lalu perlukah pemain asing dalam divisi utama? Di sini penulis akan mengulik dan berpendapat sedikit mengenai dampak adanya pemain asing dalam kompetisi divisi utama. Tentu, masyarakat Jogja sendiri khususnya suporter PSIM Yogyakarta tidak akan lupa siapa itu Jaime Sandoval, Garredo, atau Adolfo Souza. Ketiganya merupakan segelintir pemain asing yang pernah merumput bersama Laskar Mataram saat menjalani kompetisi liga. Tak dipungkiri, ketiganya merupakan pemain yang berjasa untuk PSIM di masanya.

Emile Linkers, salah satu dari Trio Belanda PSIM di musim 2012 (© psimjogja.com)

Terlepas dari pemain asing yang telah berjasa untuk PSIM maupun klub-klub peserta Divisi Utama yang lain, menurut penulis sendiri kompetisi ini akan lebih baik tanpa pemain asing. Hal ini ditinjau dari kompetisi tahun 2016 yaitu ISC B yang banyak pesertanya akan berlaga Divisi Utama tetap menarik meskipun dengan aturan tanpa pemain asing. ISC B menjadi lebih kompetitif, melihat dari catatan yang diperoleh penulis nilai yang diperoleh masing-masing klub saat menjalani fase grup maupun 8 besar tidak terpaut jauh. Ditambah lagi gaji pemain asing tentunya sangat tinggi akan membebani keuangan klub itu sendiri. Malah lebih bagus bila gaji pemain asing yang tinggi tadi digunakan untuk membina bibit-bibit muda klub yang tentunya akan berguna di masa depan. Selain itu tempat utama yang biasanya diisi pemain asing bisa menjadi kesempatan besar untuk pemain-pemain lokal unjuk gigi.

Walau begitu masih banyak klub yang berpikir bahwa pemain asing lebih berkualitas dari pemain lokal. Penulis menganggap hal ini merupakan kesalahan, dimana tidak selalu pemain asing mendatangkan prestasi. Sudah saatnya klub-klub Indonesia berpikir lebih maju dimana mengutamakan pembinaan pemain dibandingkan prestasi semata. Karena penulis percaya pembinaan sebagai proses terbaik untuk mendatangkan prestasi.

Ditulis oleh Redaksi Yodab! (RAA)

Sumber gambar: www.psimjogja.com, ligaindonesia.co.id

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: