Wates Crew, Never Run Never Will

Kala itu pertandingan lanjutan babak 16 besar ISC B memasuki pekan ke-3. PSIM menjamu tim tamu PSCS Cilacap. Pertandingan di stadion Sultan Agung waktu itu benar-benar panas, di dalam dan di luar lapangan. Panas karena kick-off yang dimulai pukul 14.00 WIB dan karena situasi yang kurang kondusif di tribun. Namun hal itu tetap tidak menyurutkan semangat ribuan supporter PSIM yang hadir di SSA untuk terus bernyanyi mendukung Laskar Mataram. Ditengah situasi yang kurang kondusif, sebagian besar Pandemen PSIM terutama yang berada di tribun selatan tetap melantangkan chants dukungan pada PSIM. Satu diantara elemen-elemen yang tetap khidmat bernyanyi adalah WatesCrew. Gerombolan pemuda asal Kulon Progo ini benar-benar mengaplikasikan makna “Fokus PSIM”, 2×45 menit bernyanyi untuk kebanggan. Simak wawancara kami yang bertemu langsung dengan Brajamusti Wates pada malam yang dingin di selatan Patung Kuda Wates.

(© Instagram @watescrew)

Yodab!: Bisa diceritakan profil singkat dari Wates Crew?

Wates Crew: Wates Crew merupakan regenerasi dari Brajamusti Wates yang berdiri sejak tanggal 31 Maret 2009. Lalu pada musim 2014 nama BM Wates berubah menjadi WatesCrew agar lebih fresh, dibarengi dengan logo Kepala Kuda yang merupakan modifikasi dari logo Ksatria Berkuda dari BM Wates. Patung Kuda Nyi Ageng Serang sendiri merupakan Identitas Wates dan Kulon Progo.

Anggota WatesCrew sekitar 40 orang yang sebagian besar domisli di Wates, Pengasih dan sekitarnya.

Yodab!: Apa saja suka duka selama mendukung PSIM?

Wates Crew: Suka duka tentunya banyak. Senang dan bangga bisa mensuport PSIM setiap laga di stadion, awaydays bersama rekan-rekan watescrew dan mendapat tempat tersendiri di keluarga Brajamusti.

Soal hambatan pasti ada, “gangguan” oleh suporter rival sudah menjadi hal yang biasa saat menuju Mandala Krida. Namun itulah yang membuat kami semakin dewasa, tujuan kami jauh jauh dari Wates hanya ingin fokus mensuport kebanggaan dan meminimalisir keributan.

Yodab!: Bicara soal kultur supporter, apakah WatesCrew mengadopsi suatu kultur tertentu?

Wates Crew: Sedikit banyak kami mengadopsi kultur supporter Inggris. Untuk cara berpakaian, kami tidak pernah memaksakan atau mengatur kepada anggota, yang penting nyaman saja. Tapi teman teman inisiatif kalau ke stadion berpakain casual seperti bersepatu, topi, syal, kaos, polo dan jersey bercorak biru. Sekaligus ikut mendukung dan “nglarisi” teman teman suporter yang jual merchendise seperti Bawahskor, BM Merch ,PSIM Store dan lain-lain.

Yodab!: Untuk chants, WatesCrew bisa dikategorikan sebagai salah satu laskar/komunitas yang paling “vokal” saat di atas tribun, apakah ini termasuk pengejawantahan dari kultur supporter modern yang dibawa WatesCrew?

Wates Crew: Memang kami memiliki rule tersendiri kepada anggota saat diatas tribun. Berdiri 2×45 menit dan meneriakan chant sampai suara habis adalah hal yang wajib, kami tak segan untuk mengingatkan anggota WatesCrew yg hanya duduk-duduk saja didalam stadion. Saat leader berhenti sejenak mengkomando tribun terkadang kami juga bernyanyi sendiri, sesekali mengenalkan kultur dan chant suporter klub Inggris agar sedikit kawan-kawan pelajari supaya tribun Brajamusti lebih bervariasi dan bergemuruh.

Ya pada intinya WatesCrew memulai untuk merubah mindset kawan-kawan jika suporter di dalam stadion ya suport, berdiri, bernyanyi meluapkan emosi bahkan sampai suara serak tanpa meneriakan yel-yel rasis tentunya. Supaya pemain PSIM lebih semangat dan memilik motivasi lebih untuk memenangkan pertandingan.

Yodab!: Bagaimana mengkordinir anggota supaya Rules tersebut berjalan dengan baik?

Wates Crew: Kami memiliki group chat BBM untuk komunikasi dan diskusi, seperti jika ada berita atau lagu baru langsung kami share di grup dan teman-teman antusias menghafal, lalu saat kumpul mengagendakan latihan menghafal chant PSIM bersama-sama menggunakan media gitar dsb.

Tidak hanya itu, kami juga mengkordinir teman-teman saat menuju ke stadion. Karena jarak tempuh cukup jauh menuju stadion, 2 jam sebelum pertandingan sudah berkumpul dan paling tidak 15 menit sebelum kick off sudah berada diatas tribun. Kami juga sudah meninggalkan budaya “blombongan” dan konvoi. Capek, jarak sudah jauh, buang tenaga dan waktu juga, mending tenaganya dialihkan untuk bernyanyi diatas tribun.

Yodab!: Bagaimana menurut kalian kondisi supporter PSIM saat ini?

Wates Crew: Brajamusti sekarang sudah mengalami perkembangan yang pesat dari sisi kuantitas dan kualitas. Hal tersebut harus dikordinir dengan sebaik-baiknya agar dapat berkembang dengan lebih baik lagi. Perlu resolusi dan meng-upgrade mental kita supaya tidak hanya berani “dijalanan” saja, tetapi didalam stadion kita juga harus menjadi pemberani dalam arti positif berani memberikan suara lantang semangat untuk kebanggaan.

Yodab!: Ada masukan/harapan untuk teman teman Brajamusti sendiri?

Wates Crew: Kami mengajak diri kami sendiri dan teman-teman Brajamusti pada umumnya untuk lebih semangat lagi dalam mendukung tim, contohnya dengan selalu berdiri dan meneriakkan chant sesuai arahan dirigen. Variasi chants lebih ditingkatkan dan tinggalkan yel-yel rasis, kreasi-kreasi yang lebih ditonjolkan diatas tribun.

Teman teman suporter pasti ingin melihat PSIM kembali juara dan naik ke kasta tertinggi. Maka dari itu mari bersama-sama turunkan ego masing-masing. Jangan mudah terprovokasi keributan di media sosial ataupun di dalam stadion karena stadion tidak hanya diisi oleh suporter laki-laki saja tetapi juga ada yang membawa rombongan keluarga, wanita bahkan anak-anak. Jadikan stadion bersahabat bagi siapa saja.

Yodab!: Terkait harapan untuk tim PSIM, baik secara teknis maupun nonteknis?

Wates Crew: Saat ini sepakbola sudah masuk ranah industri, itu artinya klub adalah sebuah perusahaan maka dari itu butuh pengelolaan secara profesional dan akuntabilitas yg tinggi dalam hal keuangan. Sehingga PSIM layak dikatakan klub profesional. Tim memiliki struktur yang jelas, manajemen diisi orang profesional dan PSIM memiliki tabungan dan aset jangka panjang. Jika semua hal sudah teratur, kami yakin PSIM akan berkembang lebih baik lagi dan menjadi juara.

Kami senang jika komposisi pemain PSIM diisi pemain muda berbakat tapi berbicara persiapan yang selalu mepet dan kehilangan pemain berulangkali juga sangat disayangkan. Ibarat kita membangun pondasi tapi roboh kembali. Mungkin perlu terobosan baru di musim yang akan datang, untuk mengatasi masalah-masalah ini agar tidak terluang.

Ditulis oleh Redaksi Yodab! (SK/DAZ)

Sumber gambar: Instagram @watescrew

Satu tanggapan untuk “Wates Crew, Never Run Never Will

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: