Our Love Is Too Dangerous (?)

Pekan lalu, tepatnya hari Jumat tanggal 17 Februari 2017, telepon pintar berlayar 5,5 inchi milikku bergetar dan menyalah LED biru pertanda ada pesan masuk dari aplikasi BlackBerry Messenger (BBM). Pagi itu pukul 09.02 seorang teman yang tinggal di wilayah Berbah, Sleman, memberitahu bahwa hari itu akan diadakan ujicoba PSIM melawan klub lokal di Lapangan Petir, Piyungan. Sungguh, ekspektasi untuk membalas rindu yang selama ini terpendam sangatlah tinggi. Belum lagi beberapa hari sebelum kabar itu datang, PSIM dikabarkan sudah deal dengan beberapa pemain anyar. “Ayo nonton ujicoba PSIM neng Piyungan” begitulah ajakan beberapa teman lain melalui grup obrolan aplikasi Line maupun pesan pribadi. Hal tersebut menambah keyakinan bahwa hari itu memang akan diadakan ujicoba dan memperbesar ekspektasi yang sebelumnya masih terbelit rasa ragu. “Ayo! Meh kumpul nengndi?”, timpal salah seorang teman di salah satu grup obrolan aplikasi Line.

Layaknya suasana sebelum adanya pertandingan resmi, perbincangan seputar PSIM bahkan berlangsung disela khotbah Sholat Jumat. Seakan tidak ada waktu lain untuk membahas tentang apa yang sama-sama kami cinta, ya, PSIM. Namun sepulang dari masjid, salah seorang teman mengabarkan bahwa ujicoba yang kami perbincangan sebelumnya batal digelar. “Batal?!” tanyaku tidak percaya. Setelah menyimak obrolan-obrolan di beberapa grup Line dan BBM, rasanya memang pertandingan tersebut dibatalkan. Otak ini masih bertanya-tanya seraya mengernyitkan dahi, Mengapa bisa sampai batal? Apakah karena diselenggarakan di tanah rival? Atau justru berita yang tersebar adalah hoax? Sungguh, tidak ada yang bisa menjawab. Bagi kami, suporter akar rumput, sangat membutuhkan konfirmasi dari pihak-pihak yang memang tahu dan seharusnya bertugas memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi sore itu.

Benar saja, mulai muncul cuitan-cuitan rasa kecewa dan pertanyaan seputar batalnya pertandingan tersebut di linimasa media sosial Twitter. Bukan sesuatu yang berlebihan, tidak sedikit orang yang sengaja meninggalkan pekerjaan, sekolah, atau bahkan mungkin mengesampingkan janjian bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya demi menyaksikan komposisi baru PSIM di sore yang lumayan cerah itu. Singkat cerita, ternyata pertandingan tersebut batal karena kabar ujicoba terlanjur sudah menyebar di kalangan supporter dan khalayak luas, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan gesekan sebelum, saat dan sesudah pertandingan. Seperti pada film The Imitation Game, bocornya rencana ujicoba yang sedianya tertutup tersebut sudah seperti sandi Enigma militer Jerman yang telah dipecahkan oleh sekutu. Misi-pun harus dibatalkan karena musuh telah tahu, dalam hal ini, sayangnya kita adalah musuh itu. Lalu, apakah cinta kami ini salah? Apakah cinta ini terlalu berbahaya sehinggga aktivitas tim kebanggaan tidak pelu kami ketahui sebelumnya? Apakah kami terlalu childish sehingga perlu dilimpekke?

Bila diperkenankan mengutip kata-kata Tan Malaka, bukankah sesuatu akan terbentuk jika sebelumnya terbentur berkali-kali? Begitu pula kedewasaan supporter. Semoga kedepannya suporter akan semakin dewasa setelah ditempa dengan cara-cara yang dewasa pula. Harapannya supporter PSIM bisa lebih dewasa dalam segala hal, sehingga tidak ada pihak yang perlu was-was dan mengartikan lain sebuah cinta seorang supporter kepada klub kebanggaannya. Yang terpenting, cinta terhadap PSIM jangan sampai justru (dianggap) merugikan PSIM. Memang, tidak semua supporter sama dalam menunjukkan rasa cinta yang dimiliki. Namun, tentunya ada waktu dan tempat yang tepat untuk menunjukkannya. Maka dari itu, supporter PSIM yang katanya Njogjani ini diharapkan bisa empan papan. Yaitu berlaku sebagaimana mestinya sesuai dengan tempat, situasi, dan kondisi yang ada. Jadi, cinta yang kita bina selama ini tidak menjadi salah, tidak berbahaya dan tidak menyakiti siapapun, terutama PSIM.

Ditulis oleh Pratiwarsy
                      cukup umur, anggota keluarga Tikus Wirog Korwil Timoho

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: