PSIM Jogja, Sebuah Kebanggaan dan Warisan

Mendukung kebanggan bukan karena warisan, tapi dari hati”, kalimat tersebut adalah kata-kata yang belakangan ini sering saya temui di beberapa platform media sosial, baik sebagai caption suatu foto atau sebagai cuitan di Twitter. Agak menggelikan karena dari kalimat tersebut seperti memperlakukan kata “Warisan” sebagai harta material seperti emas, uang atau tanah pemberian orang tua. Sebenarnya itu sah-sah saja sih, karena memang kebebasan berpendapat sangat dijamin di Indonesia.

Namun bagi saya pribadi, PSIM Jogjakarta bukan hanya sekedar klub sepak bola saja. Klub ini sudah menjadi warisan yang berharga dari orang – orang terdahulu, yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya untuk dijaga, dirawat dan diperjuangkan dengan sepenuh hati. Sebuah klub yang memberi warna dalam cerita hidup para pandemen-nya, menjadikan sebuah kebanggaan tersendiri dan sampai pada akhirnya nanti untuk di wariskan kembali pada anak cucu kita kelak saat mereka beranjak dewasa.

Sejak masih kecil banyak cerita yang saya dengar tentang PSIM Jogja dari orang-orang di sekitar tempat tinggal saya. Mungkin PSIM bukanlah tim yang memiliki sejarah sebagai klub yang memenangi banyak kejuaraan. Perjalanan PSIM dari awal didirikan hingga saat ini tidak selalu dipenuhi dengan cerita-cerita kemenangan dan raihan trofi yang gemilang. Sebagai salah satu klub tertua dan pendiri PSSI, mungkin awalnya PSIM bisa banyak berbicara di kancah persepakbolaan nasional. Dibuktikan dengan raihan gelar perserikatan dan seringnya menjadi runner up pada era pra kemerdekaan. Namun setelah era itu, PSIM tidak banyak terdengar dan baru bisa mengangkat piala lagi pada tahun 2005.

Nyatanya hal tersebut tidak menyurutkan para Pandemen PSIM untuk terus mendukung kebanggaan tlatah Mataram ini. Bukankah peran supporter sangat ditunggu ketika timnya sedang tidak dalam masa jayanya? Tentu akan lebih mudah untuk mendukung Barcelona dibandingkan Espanyol. Para Manchunian tentunya akan lebih banyak untuk memilih MU atau bahkan City daripada menjadi supporter FC United of Manchester. Orang Turin atau bahkan Italia akan lebih memilih menjadi tifosi Juventus ketimbang bersusah payah mendukung Torino. Namun nyatanya tim-tim “nomor 2” tersebut hingga kini tetap memiliki basis pendukung yang fanatik. Hal ini membuktikan bahwa menjadi pendukung suatu klub sepakbola tidak melulu karena hasil di atas lapangan, atau berdasarkan tim mana yang saat ini lebih popular dan sedang ngehitz. Bukankah hidup ini adalah perjuangan? Termasuk memperjuangkan kebanggan kita untuk mengulang kejayaannya?

Begitu pula mendukung PSIM, saat ini mungkin PSIM bukanlah tim dengan materi pemain yang penuh bintang seperti squad Johor Darul Ta’zim yang disokong oleh Putra Mahkota Kesultanan Johor. Bukan pula tim dengan tim yang memiliki kekuatan finansial dan memiliki market share yang luas seperti Persib Bandung atau Arema. Tapi pada titik inilah alasan kita untuk mendukung PSIM menjadi semakin kuat, agar tim yang awal berdirinya tidak hanya bertujuan untuk bermain bola ini dapat terus eksis di persepakbolaan Indonesia. PSIM lebih dari itu, para simbah-simbah kita dulu mendirikan PSIM pada tahun 1929 sebagai salah suatu badan pergerakan untukberjuang meraih kemerdekaan, sebuah tujuan yang sangat mulia. Tentunya menjadi tugas kita saat ini sebagai “pewaris” dan “penerus” perjuangan generasi-generasi yang sebelumnya mendukung PSIM untuk tetap terus mengawal Laskar Mataram.

Kita tidak tahu apakah PSIM akan mengangkat trofi lagi pada generasi kita saat ini atau malah pada generasi selanjutnya. Tapi keyakinan itu akan selalu tetap ada. Hari demi hari, dari pertandingan satu ke pertandingan lain dari setiap kilometer jarak yang di tempuh untuk datang mendukung PSIM Jogja, rasa cinta dan kebanggan ini akan selalu tumbuh lebih kuat dan mendalam. Lantangnya suara dukungan kita akan terus terdengar sampai nanti, hingga habisnya hembusan nafas, akan selalu kita jaga warisan yang di berikan oleh para leluhur. Semoga untuk kedepannya, PSIM Jogja dapat lebih baik lagi dan berprestasi tentunya. Kini buktikan bahwa dengan caranya sendiri PSIM Jogja bisa bangkit dan berjaya kembali seperti sedia kala. Semua semangat, doa dan dukungan ini untukmu Laskar Mataram.


Ditulis oleh Tisanto Harjoinangun

artikel dengan judul yang sama juga dapat dibaca melalui link  http://tisanto.blogspot.co.id

sumber gambar: Instagram PSIMJOGJA_official

Leave a Reply

%d bloggers like this: