One More Chance, Sir

Januari lalu, Federasi Sepakbola Jerman atau yang biasa disebut DFB, menjatuhkan hukuman kepada Borussia Dortmund untuk mengosongkan tribun selatan yang mempunyai julukan Yellow Wall. Tidak hanya itu, Dortmund harus membayar denda sebesar 100.000 (seratus ribu) euro. Hukuman tersebut lantaran para fans Borussia Dortmund yang menghuni tribun selatan membentangkan spanduk provokatif dan berujung pada kerusuhan kecil diluar stadion dalam pertandingan melawan RB Leipzig.

(© en.as.com)

Namun, bukan kerusuhan itu yang akan menjadi titik fokus. Lihatlah bagaimana hukuman tersebut “tepat sasaran”. Pengosongan tribun selatan dalam satu pertandingan dapat diartikan sebagai hukuman untuk The Unity, Ultras penghuni tribun selatan Signal Iduna Park yang dituding menjadi biang kerok dari kejadian tersebut. Sedangkan 100.000 euro adalah hukuman untuk Pihak Klub karena perilaku para fansnya. Kenapa bisa dibilang tepat sasaran? Hal tersebut bisa dilihat dari hukuman tersebut disematkan kepada siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas insiden tersebut. Tidak ada pihak lain yang dirugikan dengan diturunkannya hukuman tersebut. Pertandingan selanjutnya tetap bisa berlangsung walaupun tanpa nyanyian semangat dari si tembok kuning. Yang dapat dijadikan contoh adalah, polisi hanya menangkap orang-orang yang terbukti menjadi trouble maker dalam insiden tersebut. Memang itu sebenarnya tugas polisi di dalam suatu pertandingan sepakbola. Tugas polisi bukanlah membentuk suatu stigma dan menjadikannya dasar atas kebijakan di lain hari.

Bagaimana dengan yang terjadi di Indonesia? Sepertinya peribahasa “sudah jatuh, masih tertimpa tangga pula” tepat disematkan pada tim dan supporter yang terlanjur mendapat stigma negatif dari masyarakat dan Kepolisian di Indonesia. Sudah didenda oleh PSSI, masih dilarang bertanding pula karena alasan keamanan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Apakah hal tersebut bijak? Tentu anda bisa menilainya sendiri. Bisa dihitung secara matematis, lihatlah berapa orang yang ikut andil dalam kerusuhan dan bandingkan dengan yang masih berada di tempat seharusnya dan tidak melakukan kerusuhan. Setelah didapat angkanya lalu siapa yang kena getah dari peristiwa tersebut? Tentu saja Klub, Tim, Manajemen, penonton biasa, supporter, dan bahkan penjual arem-arem stadion yang tidak melakukan apapun kala itu. Dalam salah satu asas hukum pidana, bukankah lebih baik membebaskan 1000 orang bersalah dari pada menghukum satu orang yang tidak bersalah? Semoga beliau-beliau paham asas itu.

Beberapa pekan belakangan, Manajemen PSIM masih kesulitan mendapatkan izin pertandingan ujicoba. Ya, sekali lagi, pertandingan ujicoba. Bukan derby panas, atau pertandingan melawan rival abadi yang tentu akan bertensi tinggi sebelum, sepanjang, dan sesudahnya. Sangat ironis, bagaimana bisa pihak kepolisian seakan tidak mengampuni dosa supporter, sedangkan Tuhan Yang Maha Esa, zat yang sama-sama kita imani, senantiasa mengampuni dosa-dosa makhluk ciptaannya. Tulisan ini bukanlah sebuah Pledoi dari segala perbuatan supporter PSIM terdahulu. Namun, bukankah seorang yang telah  mengakui  perbuatannya  lebih terhormat dari sebaik-baiknya pembelaan yang telah ia lakukan? Lalu, bagaimana supporter bisa membuktikan bahwa sudah lebih baik dari kemarin bila tidak pernah diberi kesempatan untuk menunjukkannya? Tentu, pada umumnya supporter PSIM berharap dapat diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa telah belajar dan menjadi lebih baik dari insiden yang lalu. Untuk itu, kepada bapak Polisi, pengayom kami, berikanlah kesempatan itu.

Give us one more chance, Sir!


Ditulis oleh Pratiwa Wisnu Maharsy – cukup umur, anggota keluarga Tikus Wirog Korwil Timoho

Sumber gambar: en.as.com, Instagram Brajamusti_Yk

Leave a Reply

%d bloggers like this: