Gila Bola, Fanatik Namun Bertanggung Jawab

Sepak bola adalah olahraga yang unik, perpaduan antara keterampilan, seni, fanatisme, emosi dan kekerasan (violence). Tidak ada olahraga lain yang pertandingannya berlangsung begitu tegang, penuh luapan emosi, kekerasan dan hura-hura. Penonton, apalagi para officials dan pelatih, selalu terlibat secara aktif melalui emosi dan ketegangan. Dari bangku penonton selalu terdengar teriakan histeris, caci maki dan tawa yang keras, musik (vuvuzuela, tambur, dan lain sebagainya) yang seperti memecah telinga, selain tepuk sorak memekik yang tak henti-hentinya. Adu jotos dan perkelahian sampai keluar darah antar penonton/pendukung merupakan fenomena yang biasa (Lesmana, 2013).

Bebicara tentang sepak bola seperti yang diungkapkan Prof. Tjipta Lesmana tersebut diatas, mungkin terlihat adanya kontribusi beberapa pihak untuk menjalankan sebuah pertandingan. Lakon dalam sebuah pertandingan sepak bola tidak hanya para pemain yang saling merebut bola diatas lapangan hijau, namun pelatih, manager, wasit bahkan penonton/pendukungpun saling terlibat dalam aktifitas tersebut.

Pendukung merupakan pemain ke 12 bagi suatu klub sepak bola, tidak bisa dipungkiri peran dari pendukung sendiri sangat diharapkan bisa membakar semangat para punggawa yang sedang bertanding. Ada istilah “Football Without Supporter is nothing” mungkin tidak keliru. ilustrasinya, ketika ada pertandingan sepak bola, jika tidak ada penonton/pendukung sama sekali didalam stadion, pertandingan itu menjadi hambar bila diibaratkan sebuah masakan. Namun, ketika suatu pertandingan didalam stadion yang penuh dengan penonton atau pendukung, pertandingan tersebut menjadi seru dan tegang. Para pemain menjadi terbakar ketika ratusan bahkan ribuan penonton saling menarik urat saraf tenggorokannya. Selain yel-yel, chants, terkadang adu kreatifitas juga dilakukan oleh para penonton ketika memberikan dukungan untuk klub kesayangannya saat bertanding.

Tak lain dari klub asal kota Gudeg, PSIM Yogyakarta yang kini ikut serta menjadi peserta liga 2 Indonesia 2017 yang diselenggarakan oleh PT. Liga Indonesia dalam putaran laga sementara ini menempati posisi 3 teratas dengan raihan 6 poin dari 4 pertandingan, selisih satu poin dibawah martapura FC. Atas kerja keras dari seluruh stakeholder baik manager, pelatih, maupun supporter yang senantiasa mengawal kebanggan mereka ketika berlaga.

Awayday Jatidiri, Mengesampingkan Resiko

PSIM mempunyai fans yang sangat fanatik, terbukti ketika setiap match seluruh tribun dipenuhi oleh para pendukung PSIM, juga ketika match away, fans dari klub berjuluk laskar mataram ini dengan cara apapun akan tetap mengawal kemanapun PSIM menjalani pertandingan. Mereka berbondong-bondong ke stadion untuk menyaksikan dan mendukung tim kesayangannya berlaga.

Memang tidak bisa dipungkiri, ada kesan tersendiri bagi suporter ketika awayday. Tantangan yang dihadapi selama perjalanan menjadi kepuasan bagi para suporter, melewati daerah rival tentu beresiko tinggi, gesekan-gesekan antar suporter bisa terjadi kapanpun juga. Tetapi anehnya, mereka lebih memilih menghadapi resiko daripada tidak mendukung PSIM, karena bagi mereka PSIM adalah hal yang paling utama.

Hal tersebut yang menjadi titik fokus dalam tulisan ini, memang PSIM seperti candu bagi masyarakat kota Yogyakarta. Tapi, perlu untuk direnungkan, ada keluarga yang menanti dirumah. Sebaiknya, sebelum berangkat awayday dipikirkan dahulu secara matang resiko yang dihadapi besar atau tidak, bila jalur yang dilewati dirasa aman, mungkin boleh saja berangkat awayday tetapi bila jalur yang dilewati merah melintang, sebaiknya mengatur strategi untuk menggunakan jalur lain walaupun jarak yang ditempuh lebih lama. Jika memang tidak ada alternatif lain untuk melewati jalur yang dirasa rawan, pikirkan ulang resiko tersebut. Plan-B harus dipersiapkan untuk mengantisipasi moment yang tidak diinginkan. Selain itu dipertimbangkan dahulu sesuai kemampuan kita untuk mendukung, sesuaikan dengan isi kantong, jangan menjual barang-barang yang masih berharga, dan jangan terlalu dipaksakan  karena  selain merugikan diri sendiri ataupun orang lain tentu dapat berimbas kepada PSIM. PSIM memang butuh dukungan secara langsung, namun ada cara lain untuk mendukung PSIM sesuai dengan kemampuan. Berdoa-pun bisa menjadi dukungan moriil bagi PSIM, tidak ada yang tidak mungkin.

Gila-lah karena PSIM, tetapi mendukunglah dengan bijak. Mendukung dengan cara yang gila, namun tetap bertanggung jawab.


Tulisan Kiriman Pembaca oleh Dimas Firdausy Hunafa

Sumber Gambar: Instagram official PSIM Jogja

Lesmana, T., 2013, Bola Politik dan Politik Bola: Ke mana Arah Tendangannya, Gramedia Pustaka Utama.

Leave a Reply

%d bloggers like this: