You’re The Saviours!

Protes, dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti pernyataan tidak menyetujui, menyangkal, dan sebagainya. Munculnya protes tentunya disebabkan oleh adanya rasa tidak puas ataupun tidak setuju dengan suatu hal. Hanya saja, setiap individu maupun kelompok yang mempunyai cara dan gaya yang berbeda dalam melancarkan aksi protes. Dalam dunia sepakbola, khususnya suporter pasti sudah tidak asing dengan segala macam protes. Salah satu contohnya adalah suporter Liverpool. The Kopites merasa dirugikan dengan kenaikan harga tiket. Hal itu terjadi pada Februari, Tahun 2016. Sekitar 10.000-an suporter Liverpool melakukan aksi walk out pada menit ke-77. Menit 77 diambil dari harga tiket terkini, yaitu 77 pound sterling yang semulanya seharga 59 pound sterling. Suporter Liverpool meninggalkan tribun sambil menyanyikan “Enough is enough, you greedy bastards, enough  is enough”. Alhasil pihak klub akhirnya membatalkan kenaikan harga tersebut dan dibarengi permintaan maaf kepada fans.

Protes Liverpudlian karena harga tiket yang naik

Sementara itu pada 28 April 2016, di benua Eropa sisi Timur, Serbia, kelompok Ultras Partizan Belgrade yang mempunyai julukan Grobari menyerang direktur Klub FK Partizan Belgrade. Peristiwa itu terjadi tepat di depan kandang Partizan Belgrade. Hal itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap Direktur Klub. Ultras Partizan Belgrade memang terkenal keras, baik dalam mendukung Partizan maupun melakukan protes terhadap apa yang dianggap tidak sejalan dengan pemikiran mereka. Apabila dibandingkan, antara suporter Liverpool dan Partizan Belgrade mempunyai cara dan gaya yang berbeda dalam menyampaikan rasa tidak puas terhadap kebijakan yang menyangkut kepentingan suporter. Sebenarnya memang tidak perlu dipermasalahkan, apalagi dibanding-bandingkan. sebab, satu dan yang lainnya hanyalah bagaimana mereka bersikap dan bereaksi akan suatu hal. Suporter satu dengan yang lainnya mempunyai selera protes masing-masing.

Sebetulnya, suporter memiliki andil besar dalam sepakbola. Memang tidak berlebihan apabila ada ungkapan “without fans, football is nothing”. Sebab suporter-lah yang membeli tiket, membeli jersey original, bahkan turut mempunyai andil dalam hasil akhir dengan suntikan semangat yang diberikan dari balik pagar tribun. Memang, bukan berlebihan bahwa suporter adalah pemain ke-dua belas dari sebuah tim. Tidak bisa dipungkiri, suporter mempunyai daya tawar yang tinggi. Secara harfiah, suporter berhak atas klub yang didukungnya. Lalu, sebagai suporter, apakah masih ingin diam ketika ada sesuatu yang tidak benar terjadi?

Untuk cara apa yang akan digunakan sebagai alat protes tentunya sebagai suporter mempunyai cara dan gaya tersendiri. Menurut penulis, baik cara yang dilakukan Supoter Liverpool maupun Suporter Partizan Belgrade tidak ada yang salah. Hanya saja mungkin suporter Liverpool sedikit terlihat lebih sopan dan beradab dalam menyatakan sikap dan melakukan protes. Namun, tidak ada yang salah juga dengan cara yang dilakukan oleh suporter Partizan Belgrade. Ada pepatah yang mengatakan “Violence is never the answer, until it’s the only answer” (Derek Landy dalam The Dying of the Light). Artinya ketika sudah tidak ada cara lain untuk mengahadapi orang-orang yang mungkin terlanjur bebal, terkadang kekersan memang dibutuhkan dan merupakan satu-satunya jalan untuk menyuarakan kebenaran. Toh, memang suporter memang dekat dengan hal tersebut. Namun, tentunya setiap perbuatan memiliki akibat dan resiko yang harus dipertanggung jawabkan pelakunya.

Sayangnya, budaya protes terkadang dirasa sebagai sesuatu hal yang masih tabu. Padahal harga diri suporter adalah ketika mempunyai sikap untuk menyuarakan kehendak baik untuk kepentingan klub, kepentingan suporter, dan bahkan isu-isu sosial yang terjadi diluar lapangan hijau. Hanya saja, tentu harus pintar memilih cara-cara protes yang sekiranya tepat dan efektif. Bisa jadi, satu-satunya pihak yang peduli dan mencintai klub tanpa imbal balik adalah suporter. Mengingat suporter selalu memberi dan tak pernah meminta. Kalau boleh meminjam kata-kata Harry whitewolf, kira-kira seperti ini; “Stop praying for salvation when it is clear, You are the saviours that we need around here”. Jadi, masihkah ingin diam jika nyatanya terkadang suporter-lah yang menjadi satu-satunya penyelamat yang diharapkan? Ataukah masih ada bongkahan ego, rasa eguh pekewuh, yang menutupi akal sehat dan hati nurani sebagai suporter? Oh, come on! Kalian tak serendah itu, bukan?

Singkat kata, Keep the faith, boys!


Ditulis oleh Pratiwa W. Maharsy

Credit gambar: Sportskeeda.comBBC

Landy, D., 2014, Skulduggery Pleasant #9: The Dying of the Light, Harper Collins Children’s Books.

 

One thought on “You’re The Saviours!

Leave a Reply

%d bloggers like this: