Hiperopia Sebagai Gejala Fanatisme Buta (Bagian 1)

Dalam istilah kedokteran, Hiperopia dapat dimengerti sebagai penyakit rabun dekat pada mata. Kelainan ini berupa susah melihat benda atau objek yang letaknya berada di dekat mata. Kelainan mata yang satu ini bisa ditolong dengan lensa plus. Tidak mengenakkan bukan? Setiap kali ada sesuatu yang ada didekat mata, namun yang terfokus adalah benda yang ada dibelakangnya atau jauh dari mata. Sungguh bukan kelainan atau cacat mata yang kita inginkan. Namun sadarkah hal tersebut kita sendiri yang menjadi penyebabnya?

Secara tidak sadar kita dengan sengaja sering menyebabkan hiperopia. Dalam hal ini, mari kita sepakati bahwa hiperopia yang dimaksud di sini adalah sebuah perumpamaan. Perumpamaan pada situasi yang memang sedang terjadi. Situasi dimana kita sedang berusaha merusak mata (pandangan) yang sebelumnya normal menjadi menderita hiperopia. Oh, ya, perlu disepakati bersama juga kata “kita” dalam tulisan ini adalah saya, sebagai penulis dan supporter klub manapun, khususnya Pandemen PSIM dimanapun anda berada.

Tulisan bagian pertama ini akan membahas tentang rabun dekat terhadap pemain. Berbicara tentang dekat dan kedekatan, karena memang materi pemain PSIM Liga 2 2017 tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan ISC B 2016 lalu tentu membuat segalanya lebih akrab. Tentu kita sudah mengenal satu dan lainnya bahkan ada yang pernah sarapan soto, bercengkrama di wisma PSIM, sampai siaran radio bersama. Kedekatan yang terjalin antara pemain PSIM dengan pendukungnya memang bisa dibilang sangat dekat. Mungkin, tidak semua suporter di Indonesia bisa nyoto (makan soto) dengan pemain hanya dengan mengajaknya via BBM atau WA. Sungguh kedekatan yang jarang dimiliki oleh suporter klub  lain di Indonesia, apalagi klub luar negeri.

Namun, terkadang itulah yang menjadi boomerang. Faktor kedekatan, terlanjur nyaman, dan rasa-rasa serupa lainnya memang tidak selamanya menghadirkan dampak baik. Hal-hal tersebut dapat membuat sedikit demi sedikit rabun dengan apa yang ada di dekat kita. Pemain adalah salah satu contohnya. Pemain yang biasa bermain bagus, ciamik, atraktif membuat kita berpikir bahwa selamanya mereka akan bermain baik. Padahal, terkadang ada titik dimana kritik kita dibutuhkan. Mungkin hanya satu-dua orang yang merasa performa Dicky Prayoga menurun, misalnya. Contoh lainnya, ada segelintir orang yang merasa tusukan Rangga Muslim ke dalam kotak penalti lawan tidak setajam awal musim. Misalnya.

Indikasi kita sudah terjangkit rabun dekat adalah ketika kita maklum dengan hal itu. Seakan menganggap itu masih baik-baik saja. Padahal pemain juga butuh dikritik. Pemain butuh masukan dari siapapun itu ketika faktanya memang performanya menurun. Siapa tahu pemain itu sendiri tidak merasa bahwa penampilannya menurun atau sedang tidak fokus dengan pertandingan karena permasalahan di luar lapangan hijau. Kritik yang disampaikan tentu saja harus bersifat membangun. Santun, jelas, dan tidak membuat pemain bersangkutan down.

Oleh karena itu, ada baiknya kita menjaga cara memandang suatu hal. Agar mata kita ini selalu sehat hingga akhirnya kita fair dalam memerlakukan segala hal, khususnya punggawa Laskar Mataram dan segala sesuatu yang menjadi bagian dari PSIM. Ada kalanya kita memuja dan ada kalanya mengritik. Mentang-mentang si A sering bermain bagus lalu kita sungkan untuk mengritik. Pemain juga akan senang ketika kesalahannya dikoreksi dengan baik-baik. Bagaimanapun, sedekat apapun, kita membutuhkan jarak untuk bergerak beriringan.

Semoga yang terlanjur terkena rabun dekat segera membeli kacamata, dan yang belum selalu menjaga kesehatan matanya dari hiperopia dan penyakit rabun lainnya. Amin.

Ditulis oleh Arsy (@pratiwarsy)

Gambar Tajuk © Instagram @PSIMJOGJA

2 tanggapan untuk “Hiperopia Sebagai Gejala Fanatisme Buta (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: