(Mungkin) Mata Kami Memang Rabun

Pada suatu waktu, kami berdua bercakap-cakap di sebuah kantin pojokan. Kantinnya bisa dikatakan kumuh. Lalu seorang pemuda duduk di hadapan kami dengan sepiring nasi sayur munthuk-munthuk dengan lauk ikan asin ukuran kecil. “Serius, mereka makan setiap hari seperti itu?” tanya rekan saya.

***

baca juga Hiperopia Sebagai Gejala Fanatisme Buta

Ada rasa gugup yang menghampiri ketika pertama kali mewawancarai pemain PSIM untuk blog bawahskor medio 2010. Steven Anderson Imbiri yang menjadi incaran saya ketika itu. Pilihan ini tak lepas dari permainan yang apik ketika melawan tuan rumah Persikota dan PSIS Semarang.

Saya menghubungi Steven melalui chat FB. Ia memberikan nomer handphone-nya lalu segera saya bergegas ke wisma PSIM.

Itu kamarnya di pojok sebelah sana!” ujar Bang Nova (kapten PSIM saat itu), saya hafal betul wajah Bang Nova secara dia mantan pemain Nasional dan malang melintang di Liga Indonesia.

Steven dengan senang hati menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Cerita-cerita tentang perjalanan karirnya. Sebelumnya saya hampir salah mewawancarai, Elthon sempat saya kira sebagai Steven. “Oh, Steven sebentar saya panggilkan” tutur Elthon dengan dialek timurnya. Maklum mereka berdua terlihat mirip ketika dilihat dari tribun penonton. Saya juga tidak pandai menghafalkan wajah pemain kala itu kecuali Oni Kurniawan.

Dari dua cerita tersebut, saya memasuki fase mengenal lebih dalam ke tim PSIM. Pada 2012, saya membantu portal berita PSIMnews meliput pertandingan. Hal itu membuat saya lebih rileks dalam bercengkrama dengan pemain.

Sewaktu SMP hingga SMA, ketika berhadapan dengan Jaime Sandoval dan Sunday Seah saya hanya berani sekedar menyapa “hai“, tidak lebih dan tidak kurang. Malu. Tak punya nyali.

Pun dengan demikian saya tidak begitu mengenal banyak para pemain PSIM, hanya beberapa yang saya kenal secara personal. Rekan saya juga demikian, Ia sebelumnya menonton PSIM hanya ketika pertandingan saja. “Kehidupan” PSIM seusai pertandingan tidaklah menjadi atensinya.

Semua kemudian berubah sejak kejadian di kantin itu, kami mulai mengobrol banyak soal tim ini. Membayangkan mimpi-mimpi yang tak kunjung diraih hingga hal-hal remeh-temeh. Pada bangku pojokan di sudut Wisma yang saban siang digunakan para sales dan debt-collector melepas lelah atau mbolos dari jam kerja.

Saya percaya membangun suatu dialog lebih enak jika dilakukan saat makan. Maka jika ada waktu saya bersama rekan saya “mencuri” waktu luang pemain untuk sarapan bareng kami. Obrolan-obrolannya dari sepakbola hingga hal-hal yang jauh dari dunia si kulit bundar. Intinya kita lapar, makan kenyang plus senang-senang.

TURUNMINUM, bincang-bincang Pandemen PSIM yang terkadang juga menghadirkan pemain PSIM sebagai bintang tamu

Obrolan meja makan nyaris tanpa kritik secara langsung, kami lebih senang menggunakan perumpamaan saja atau mungkin malah ngerasani. Kritik hanya sebatas itu. Lha, kita sudah kenyang. Bukankah ada idiom “marah lapar, kenyang bego“.

Tapi ada benarnya mungkin juga kita rabun. Butuh kacamata yang cocok untuk umur kami. Mungkin perlu juga kami ke UNY memberi kacamata di pinggiran sembari menonton latihan sepakbola. Siapa tahu ada tambahan dari UNY untuk menambal pemain UNY di PSIM yang mungkin akan hengkang satu per satu.


Ditulis oleh Dimaz Maulana, lulusan kampus sebelah UNY

Credit foto: Damas Pilar

Leave a Reply

%d bloggers like this: