Ada Apa Dengan Rangga?

Rangga Muslim Perkasa mungkin adalah nama yang asing bagi orang kebanyakan, tapi pemuda berusia 23 tahun asal Bima Nusa Tenggara Barat tersebut adalah idola bagi pecinta klub sepakbola PSIM Jogjakarta. Dia bermain di posisi sayap, dengan kelincahannya ia sering ngosak-asik pertahanan lawan. Ia selalu terlihat bermain lepas dan penuh keceriaan disetiap pertandingan, bahkan ada juga yang menjulukinya “Hazard Kecil dari Timur”. Rangga telah membela Laskar Mataram sejak tahun 2014 dan penampilan ciamiknya bersama skuad muda PSIM di ISC B 2016 lalu semakin melambungkan namanya.

baca juga Kuncian Itu Bernama Rangga Muslim

Stadion Gemilang Magelang. 5 November 2016
PSIM menyisakan masing-masing satu laga kandang dan tandang di fase 16 besar ISC B 2016. Di partai kandang PSIM harus menjalani hukuman laga usiran tanpa penonton di Magelang saat menjamu Persiraja Banda Aceh. Jika menang maka PSIM dipastikan lolos ke 8 besar, tanpa menunggu hasil pertandingan terakhir. Di pertandingan itu,  PSIM unggul 1-0 dan menguasai permainan hampir selama 90menit penuh sebelum kemudian kebobolan melalui pinalti di menit akhir. Pada penghujung laga, sempat muncul asa untuk tuan rumah, Laskar Mataram mendapat hadiah tendagan penalti. Jika gol, maka PSIM menang dan langsung melenggang ke fase 8 besar. Rangga Muslim maju sebagai algojo. Tidak setenang biasanya, kali ini Rangga terlihat tegang. Ketegangan itu terasa sampai ke beberapa sudut kota Jogja dimana banyak supporter PSIM yang melakukan nonbar. Semua doa dan harapan para supporter tersebut saat itu tepat berada di pundak Rangga. Akhirnya bola ditendang. Senyap, semua terdiam. Rangga Muslim gagal menceploskan bola ke gawang, peluit akhir ditiupkan dan PSIM gagal menang. Dengan jersey nomor 15-nya, Rangga menutup wajahnya meski tangisnya tetap terlihat. Alih-alih jadi pahlawan, Rangga justru jadi aktor kegagalan kemenangan Pasukan Parang Biru. Tapi, berapa orang yang menyalahkan Rangga saat itu? Tidak ada. Rangga masih dianggap sebagai pahlawan. Rasa percaya bahwa Rangga suatu saat akan membawa PSIM berjaya lebih besar daripada rasa kecewa yang ada saat itu. Langkah PSIM pun terhenti di 16 besar setelah di pertandingan terakhir kalah 0-1 dari tuan rumah PSCS Cilacap.

Stadion Sultan Agung Bantul, 26 Agustus 2017
Peluang PSIM menuju fase 16 besar hampir tertutup setelah kalah 2-0 dari Persebaya, raihan mundur jika dibandingkan dengan ISC B 2016. Namun nama Rangga Muslim kian meroket, beberapa tim dikabarkan tertarik akan jasanya. Pasca kekalahan di Surabaya, PSIM harus menjalani laga kandang terakhir melawan PSBI Blitar. Kemenangan adalah target tuan rumah, tak ayal sejak awal pertandingan PSIM langsung terlihat menyerang. Krisna Adi membawa bola memasuki kotak penalti, melewati satu pemain sebelum melepaskan umpan tarik di depan gawang PSBI. Bola diterima Rangga Muslim dengan sempurna, sekali kontrol tendang lansung dan… GOAL! Penonton riuh merayakan gol cepat PSIM di menit kedua. Rangga berlari kecil ke pinggir lapangan sambil mencium lambang Tugu di dada kirinya, logo PSIM. Hal ini umum dilakukan  oleh pemain sepakbola untuk menunjukan kecintaannya terhadap klub yang ia bela. Pertandingan berakhir, PSIM unggul tiga gol tanpa balas berkat dua gol lain yang diciptakan Dicky Prayoga. Seusai pertandingan, Rangga Muslim melambaikan tangan ke arah kerumunan supporter yang memadati Stadion Sultan Agung. Sempat dianggap biasa, namun ada pula yang mengartikan lambaian itu adalah salam perpisahan Rangga kepada para supporter. Dua isyarat kontras dilemparkan Rangga pada sore itu. Apakah keduanya tulus dari hati? tidak ada yang tahu.

Tugu Pal Putih Jogja, 5 September 2017
Sinyal kepindahan Rangga semakin kuat. Peminat Rangga Muslim mengerucut pada satu klub, Persebaya Surabaya. Di media sosial maupun di burjo dan angkringan, rumor ini menjadi topik perbincangan hangat para Pandemen PSIM. Terlepas dari itu, untuk menyongsong HUT PSIM ke-88 tahun, diadakan aksi doa bersama di depan Tugu Jogja. Ratusan supporter hadir pada malam itu, beberapa pemain pun diundang, salah satunya Rangga Muslim. Rangga datang, lalu pada malam sakral kelahiran PSIM Jogjakarta itu pula ia dielu-elukan, digendong-pundak oleh para supporter seperti penonton pertunjukan musik yang sedang melakukan sydiving. Sebuah isyarat dan harapan kuat dari suporter  agar sang idola tak meninggalkan tim kebanggaan. Raut wajah Rangga terlihat tersenyum membungkus rasa haru dan bangga yang bercampur dalam dadanya pada malam itu. Bagaimana tidak bangga? Bagaimana tidak haru? Berapa banyak orang yang pernah diperlakukan seperti itu di depan Tugu Jogja? Tidak banyak, atau mungkin malah belum pernah ada sebelumnya.

Di luar hati dan pikiran Rangga, Perjalanan dari Jogja ke Surabaya
Fase penyisihan grup LIGA 2 2017 sudah berakhir. Dari 8 tim dalam satu grup, 2 teratas lolos ke 16 besar, peringkat 3-4 menuju play-off degradasi, sementara sisanya langsung turun kasta ke LIGA 3. PSIM berada di peringkat 3     harus bertarung lagi untuk menghindari degradasi. Sebuah torehan yang memprihatinkan untuk klub syarat sejarah. Bukan hal mudah untuk lolos dari lubang jarum degradasi, namun benang kusut drama kepindahan Rangga Muslim (dan Said Mardjan) malah makin menjadi. Gelagat tak enak dimulai dari sepulang laga tandang di Pamekasan. Rangga tak ikut rombongan bus pemain yang pulang ke Jogja, ada desas-desus ia turun di Surabaya guna menjajaki kontrak dengan manajemen Persebaya. Sesampainya di Jogja sang pemain justru dikabarkan mangkir dari latihan rutin klub. Keresahan kian menjangkiti supporter PSIM. Bukan tanpa sebab, tenaga Rangga dirasa masih diperlukan tim untuk mengarungi fase play-off yang tentu akan berlangsung dengan ketat. Namun, harapan tinggal harapan, apa lacur kini Rangga sudah resmi berganti warna kostum. Memang benar beras tak bisa ditebus dengan cinta dan kesetiaan, tapi apa sudah benar-benar tidak bisa bertahan barang tiga pertandingan terakhir sekedar untuk membuat lawan berucap “nasi sudah menjadi bubur” setelah kita kalahkan? Apapun alasannya, Rangga sudah meninggalkan PSIM saat sedang sangat dibutuhkan.

Mulai sekarang kita harus sadar bahwa PSIM bukanlah Rangga Muslim seorang, masih ada Edo Pratama, Riskal Susanto, Pratama Gilang, Hendika Arga, dan pemain-pemain lain yang siap menebus kemenangan dengan cinta dan kesetiaan.


Tulisan Kiriman Pembaca oleh Dhimas Deworo, Brajamusti UNY.

One thought on “Ada Apa Dengan Rangga?

Leave a Reply

%d bloggers like this: