Protes Manajemen, Supporter PSIM Tumpahkan Kekecewaannya Lewat Street-Art

Kompetisi musim 2017 bagi PSIM resmi berakhir saat Laskar Mataram dibekap oleh PSCS Cilacap di laga terakhir playoff Liga 2 pada 18 Oktober 2017 lalu. Setelah melewati perjuangan yang cukup mendebarkan, pada akhirnya PSIM berhasil mencapai target default-nya untuk bertahan di kompetisi kasta ke 2. Semua senang? sayangnya tidak. Belakangan diketahui ada hal-hal yang belum diselesaikan oleh pihak-pihak pengurus PSIM kepada pemainnya, gaji dan bonus belum dibayarkan.

Keterlambatan gaji pemain memang selalu menjadi masalah klasik bagi PSIM di setiap musimnya sejak APBD dilarang di sepakbola profesional. Namun hal ini menjadi tanda tanya besar ketika tahun ini PSIM relatif memiliki modal yang lebih baik dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya. Rataan jumlah penonton yang hampir selalu diatas angka 10 ribu penonton dalam setiap laganya, tentu seharusnya dapat menjadikan pendapatan dari ticketing lebih maksimal. Selain itu, jersey PSIM pada tahun 2017 ini juga penuh dengan sponsor, meskipun kita semua tidak ada yang tahu berapa besaran nominal yang didapatkan PSIM dari sponsorship ini. Belum lagi dari segi merchandising, jersey tim Parang Biru yang dibanderol dengan harga Rp. 400.000,- dan Rp. 250.000,- merupakan salah satu jersey tim sepakbola lokal yang paling mahal untuk tim Liga 2 bahkan mungkin juga diantara tim Liga 1.

Tidak aneh jika kemudian timbul pertanyaan di benak ribuan Pandemen PSIM mengenai bagaimana cara pengelolaan finansial PSIM oleh manajemen sehingga gaji dan bonus pemain masih saja telat dibayarkan. Protes pun gencar disuarakan oleh supporter terutama melalui media sosial, puncaknya laga Testimonial Ony Kurniawan pada pekan lalu juga dipenuhi dengan banner-banner yang ditujukan pada manajemen. Dan kemarin, sejumlah supporter PSIM mencoba untuk memulai protesnya dengan cara yang cukup artsy. Street art yang selama ini cukup lazim digunakan oleh para seniman jalanan untuk berekspresi menanggapi isu-isu politik, kemanusiaan dan lain sebagainya, dipilih sejumlah Pandemen PSIM untuk mengungkapkan kekecewaannya pada manajemen PSIM.

Poster-poster ukuran besar telah tertempel di sejumlah titik keramaian di kota Jogja. “Pergerakan ini kami lakukan untuk mengungkapkan kekecewaan kami kepada manajemen mas”, ungkap salah satu Pandemen PSIM yang dihubungi oleh Yodab!.

Pemanfaatan visual jalanan ini tentu diharapkan akan dapat mencakup audiens yang lebih luas dari protes di medsos, mengingat masih banyak Pandemen PSIM yang mungkin masih belum update mengenai kondisi tim kebanggaan kita saat ini. Sikap kritis suporter kepada klubnya sendiri tentulah hal yang sangat wajar, karena mencintai kebanggaan tidak selalu harus dengan memujanya (baca: Mewajarkan Protes Supporter pada Klubnya). Goal-nya tentu saja adanya pembenahan dalam tubuh manajemen Laskar Mataram seperti masalah legalitas yang hingga kini masih belum jelas apa badan hukum PSIM dan siapa yang bertanggung jawab didalamnya. Jangan sampai karena kita dekat dengan pihak-pihak tertentu, membuat kita tidak bisa bertindak adil dan menutup mata atas apa yang sedang terjadi. PSIM JAPEMETHE


Ditulis oleh Redaksi Yodab! (ADT)

Foto: @MataramOffender

Leave a Reply

%d bloggers like this: