Saat ini di Indonesia, sebagai negara yang menjadikan sepakbola menjadi olahraga nomor satu, sedang menuju ke industri sepakbola yang profesional. Hal ini dapat dilihat dari Permendagri No. 22/2011 tentang larangan klub sepakbola menggunakan dana APBD yang selama ini diandalkan sebagai nyawa setiap klub sepakbola. Kemudian dari regulasi PSSI, yang juga mengharuskan untuk setiap klub sepakbola memiliki standar profesional, seperti sporting, infrastruktur, personil dan administrasi, legal serta financial. Sebagai sebuah organisasi berbadan hukum, sudah seharusnya sistem sebuah klub sepakbola di Indonesia dijalankan layaknya mengelola sebuah perusahaan.

Yogyakarta dengan segala potensinya sebagai kota pelajar, budaya dan pariwisata, beberapa tahun belakangan menjadi target dari para pemilik modal baik dari dalam maupun luar daerah untuk berinvestasi. Hal itu dibuktikan dengan munculnya puluhan hotel dan banyak proyek lain yang dibangun di kota ini. Yogyakarta sendiri memiliki klub sepakbola lokal bernama PSIM Jogja. Setelah tak lagi menggunakan dana APBD, Laskar Mataram belakangan ini hampir selalu kocar-kacir dengan masalah finansial di setiap keikutsertaanya dalam kompetisi Liga Indonesia. Sampai saat ini pun pengoperasian PSIM Jogja hanya mengandalkan dari pendapatan tiket, belum mengoptimalkan pemasukan dari sektor merchandising maupun sponsorship.

Pertanyaannya, mengapa para investor yang ada di kota Jogja dan yang masuk ke kota ini tidak melirik PSIM sebagai terget investasi mereka? Apakah branding PSIM Jogja saat ini kurang menarik perhatian bagi investor dan sponsor? Perlukah dilakukan rebranding untuk mengubah citra PSIM selama ini?

Jawabannya Iya, untuk dua pertanyaan terakhir, yang sekaligus akan menjawab pertanyaan pertama. Mengapa? Karena agar mampu bertahan di era industri sepakbola saat ini dan menjadi klub yang lebih professional dan modern, PSIM Jogja perlu melakukan rebranding. Apa itu rebranding? Rebranding adalah strategi pemasaran yang mana perusahaan membuat sebuah nama baru, tagline, simbol, desain yang diciptakan untuk merek yang sudah terkenal dengan tujuan pengembangan, memberikan sebuah pembaharuan di benak supporter, investor, sponsor, dan pesaing. Sering kali rebranding ini melibatkan perubahan pada logo, nama, gambar, strategi pemasaran, dan advertising. Sekali lagi, Rebranding bukanlah hanya sebuah perubahan logo, namun rebranding juga meliputi perubahan pesan, perubahan cara pendekatan pada suporter, pemberian jasa-jasa baru, atau bahkan perubahan mengenai apa yang dijanjikan pada suporter.

Perubahan yang digarap dalam rebranding haruslah terpercaya dan meyakinkan, mengingat ada hal-hal yang harus dihapus atau diganti dari ingatan para suporter. Proses rebranding tidak semata-mata ditujukan pada suporter saja, tetapi pada seluruh stakeholders, termasuk orang-orang yang bekerja untuk perusahaan (PSIM) itu sendiri, yaitu internal manajemen.

Rebranding merupakan strategi branding yang sangat efektif untuk mencapai tujuan PSIM Jogja menjadi sebuah klub yang benar-benar profesional. Cara rebranding yang tepat terhadap PSIM Jogja harus meliputi corporate rebranding, repositioning dan rejuvenation. Corporate branding (merek perusahaan) harus dilakukan agar proses kerja di dalam manajemen berubah dari proses kerja konvensional ke proses kerja yang profesional. Repositioning berarti membuat ulang strategi penempatan posisi sebuah brand di benak elemen masyarakat, dengan cara memberi makna dan image baru. Rejuvenation atau peremajaan perlu dilakukan untuk proses penyampaian dari semua perubahan internal yang terjadi, seperti perubahan logo, maskot klub, maupun kartu identitas fans klub. Jadi, perubahan harus dimulai dari dalam dahulu yang kemudian baru menyeluruh, serta harus tersampaikan dengan baik kepada target audience. Sehingga proses rebranding ini dapat berjalan dengan baik tanpa meninggalkan culture brand PSIM Jogja sebagai klub kebanggaan masyarakat kota Yogyakarta.

Naga Jawa adalah makhluk mitologi Jawa yang sangat sakti & memiliki wujud berbentuk ular raksasa yang sangat unik dan khas, yakni memakai badhog atau mahkota diatas kepala layaknya Raja. . Naga Jawa digambarkan sbg simbol pelindung dan pengayom, serta melambangkan keberanian, ketangguhan dan kewaskitaan. . Orang Jawa percaya bahwa 8 arah mata angin di jaga oleh Naga. Naga mempunyai 8 keistimewaan yaitu, menyembur, menggigit, melilit, kuat, dpt hidup di air & darat, meronta, bertukar kulit dan bisa hidup dr minyak yg disimpan diujung ekornya. . Angka 8 jg merupakan watak bilangan dari Naga (candrasengkala) sbg tanda titimangsa berdirinya PSIM Jogja yaitu tahun 1860 Jawa/1929 Masehi, yg diungkapkan secara artistik serta mengandung makna simbolis sesuai latar belakang kebudayaan Jawa. 2 sayap yg ada pada Logo PSIM diyakini juga merupakan sayap dari Naga Jawa, yg berkonotasi cita-cita setinggi langit. . Jadi, itulah mengapa julukan Naga Jawa disematkan pada PSIM Jogja. Siap utk dijadikan Maskot PSIM lur? 😁 . #PSIMJogja #mascotdesign #mascots #NagaJawa #javanesedragon #candrasengkala #sengkalan #lyfe #folk #culture #java #footballmascot

A post shared by Ditya Fajar Rizkizha (@rizkizhaditya) on

Pembuatan maskot klub, salah satu cara yang dapat ditempuh dalam melakukan rebranding. (© Instagram @Rizkizhaditya)

Tidak ada yang instan, semua dilakukan dengan konsisten, bertahap, dan dengan jangka waktu yang rasional. Mimpi masyarakat Yogyakarta agar PSIM Jogja dapat bermain dikasta tertinggi bukan lagi sesuatu yang mustahil, akan tetapi sebelum berangan-angan ada baiknya kita berkaca terebih dahulu. Semuanya bisa terjadi di dunia, asal ada alur logis yang dapat diterima akal. Maju terus kebanggaan, Bravo Laskar Mataram!


Tulisan Kiriman Pembaca oleh Ditya Fajar R

Infografis oleh Redaksi Yodab! (DAZ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here