Laskar Mataram berhasil menutup putaran pertama Liga 2 musim ini dengan indah setelah berhasil menang comeback dari Blitar United dengan skor 3-1 dan bertengger diposisi 5 klasemen grup timur. Tim yang awalnya sempat diragukan karena melakukan persiapan sangat mepet dengan kick off dimulainya Liga 2 musim 2018 ini berhasil mengumpulkan total 24 poin hasil dari 7 kali kemenangan, 3 kali imbang dan 1 kali kalah. Akan tetapi 24 poin yang didapat PSIM Jogja harus dipangkas -9 karena sanksi yang didapat dari federasi sepakbola internasional yakni FIFA. Andai tanpa pengurangan -9 poin, poin yang didapat PSIM menjadi poin tertinggi diantara semua kontestan Liga 2 hingga putaraan pertama melampaui pemuncak klasemen, Madura FC.

Memulai kompetisi dengan kondisi tim yang kurang menguntungkan karena ada beberapa faktor yang mengganggu seperti sanksi dari FIFA dan terganjal masalah lisensi Coach Erwan Hendarwanto yang pada akhirnya Bona Simanjuntak masuk sebagai pengganti Coach Erwan diposisi pelatih kepala dan Coach Erwan digeser menjadi manajer tim.

Pemilihan pemain yang tepat pada saat seleksi menjadi kunci kecermelangan skuat PSIM musim ini. Banyak yang meragukan komposisi pemain PSIM musim ini dan membanding-bandingkan dengan skuat PSIM dimusim-musim sebelumnya. Seiring berjalannya waktu perlahan-lahan anggapan publik yang menyangsikan skuat PSIM musim ini mulai menghilang seiring hasil positif yang terus diperoleh Hendika Arga dkk

Menorehkan 18 goal dan 5 kali cleanseat dari 11 pertandingan menunjukan bahwa lini perlini anak asuhan Bona Simanjuntak ini sudah cukup merata. Terlebih dengan on firenya trio 3H (Hendika, Hendrico dan Haris) yang berhasil mencetak total 14 goal. Apalagi musim ini PSIM kehilangan mesin goal musim lalu Krisna Adi dan Engkus Kuswaha. Semakin matangnya penampilan penjaga gawang Ivan Febrianto memberikan rasa aman dibawah mistar gawang PSIM, ditambah dua tembok kokoh Edo Pratama dan M. Arifin.

Musim ini PSIM juga memperbaiki catatan buruknya ketika bermain tandang, dari 5 laga tandang yang dilakoni PSIM berhasil meraih 3 kali kemenangan,  1 kali seri dan 1 kali kekalahan dari Madura FC yang itu menjadi satu-satunya kekalahan yang diterima PSIM hingga akhir putaran pertama. Catatan 3 kali kemenangan yang diraih PSIM musim ini diraih ketika melawat ke markas tim-tim asal Jawa Timur yang sebenarnya Laskar Mataram memiliki rekor buruk ketika berkunjung ke Jawa Timur.

Selama paruh musim pertama ada beberapa pemain yang permainan cukup menonjol seperti Hendika Arga, Yoga Pratama, M.Arifin dan Hendrico. Hendika Arga setelah mendapat kepercayaan mengemban kapten PSIM permainannya kian menunjukan kematangan dengan berhasil menorehkan 6 goal termasuk 1 goal  emosional saat derby DIY 26 Juli lalu dan menjadi topskor sementara PSIM padahal Hendika Arga bukanlah seorang striker yang biasanya menjadi pencetak goal terbanyak.

Siapa yang menyangka seorang Yoga Pratama dengan usianya yang masih belia berhasil menjadi pemain kunci PSIM musim ini. Pemain yang musim lalu jarang sekali mendapat kesempatan bermain membuktikan dapat beradabtasi bahu membahu dengan pemain yang lebih senior Raymond Tauntu ‘gelandang pengangkut air’ dilini tengah PSIM membuat ciri khas permainan PSIM yang bernama Mataram Show semakin terasa.

Di benteng pertahanan, kepergian M.Taufik mampu digantikan dengan sangat baik oleh M.Arifin. Berduet dengan Edo Pratama yang telah lebih dahulu mengawal pertahanan PSIM menjadi jaminan kekuatan bagi lini pertahanan PSIM. Permainannya yang lugas tanpa Kompromi menunjukan tipikal pemain bertahan yang banyak diidamkan setiap pelatih. Tidak hanya disiplin dalam bertahan, M.Arifin juga sering membantu serangan ketika ada bola mati untuk PSIM, terbukti pemain yang satu ini telah mencetak 1 goal ketika bermain melawan Martapura FC.

Hendri Setiadi atau lebih dikenal dengan panggilan Hendrico, pemain yang lama malang melintang bersama klub-klub di Indonesia menjadi idola publik Jogjakarta musim ini karena permainan apiknya. Pemain yang sering diposisikan di sayap kanan ini telah menorehkan 4 goal selama putaran pertama, goal debut bersama PSIM diciptakan ke gawang mantan klubnya musim lalu Persiba Balikpapan. Permainan Hendrico yang memiliki kecepatan dan tusukan mematikan ini selalu membuat pertahanan tim lawan kocar kacir Seiring bertukar posisi dengan Supriyadi Eeng atau Arief Yulianto diposisi sayap kiri.

Transfer pemain diputaran kedua ini semoga bisa dimanfaatkan dengan baik oleh manajemen dan jajaran pelatih PSIM. Sampai tulisan ini dibuat (3/8/2018), PSIM telah berhasil menambah 3 pemain untuk memperkuat dan menambah kedalaman skuat demi mengarungi putaran kedua. Dengan hadirnya Risman Midullah eks Persik Kendal, Hasan Basri dan Muhammad Shulton eks Persibo Bojonegoro semakin menambah variasi pemain yang akan dipilih Coach Bona Simanjuntak.

Setelah melakoni putaran pertama yang sangat luar biasa dan berhasil melakukan comeback dari -9 menjadi 15 poin tidak serta menjadi jaminan PSIM aman dari jurang degradasi. Penampilan impresif seperti putaran pertama sangat dinantikan semua elemen pecinta PSIM.  Kekalahan di kandang saat memulai putaran kedua mejamu Blitar United 0-1 akibat serangan cepat tim lawan dan kekalahan telak 4 -1 saat melawat ke mojokerto menjadi evaluasi tersendiri untuk kembali berbenah tidak berpuas diri dan melanjutkan tren positif apabila masih ingin melaju ke babak 8 besar.

Harapan besar pandemen PSIM ada dipundak para pemain. Semoga apa yang diraih PSIM diputaran pertama mampu terulang atau bahkan lebih hingga menembus 4 besar klasemen akhir. Seperti kata Coach Erwan “Setiap Pertandingan adalah final”. Tetaplah membumi Laskar Mataram! Doa,dukungan dan semangat dari para pendukungmu akan selalu menamani dimanapun kalian berlaga.

Rifky Dwi Nur Cahyo