Hari itu, di mana keputusan federasi diputuskan bahwasanya Laskar Mataram harus memulai musim ini dengan pengurangan poin. Ya, tidak tanggung-tanggung, minus sembilan poin. Sontak beberapa elemen suporter-pun berusaha menjadi peramal. Meramal masa depan PSIM di musim berikutnya, yang entah berhasil keluar dari lubang jarum, atau berserah dengan keadaan menjadi juru kunci klasemen wilayah timur.

Tidak banyak yang dapat berpikir positif menghadapi kenyataan minus sembilan tersebut. Termasuk penulis yang sebenarnya sudah pasang kuda-kuda dan ngecor pondasi yang kokoh untuk menghadapi kenyataan bahwa klub yang saya cintai sejak TK harus terjerembab ke Liga Tiga (amit-amit). Di tambah dengan dua laga pembuka yang menambah harapan-harapan untuk sekedar bertahan di Liga 2 akan sirna.

Namun, pertandingan demi pertandingan, pekan demi pekan, rasa percaya itu kembali tumbuh. Laskar Mataram mampu tak terkalahkan dalam 10 laga dan menutup paruh musim dengan manis. Ya walaupun tak semanis rayuan pacarmu, karena harus deg2an mengawali paruh musim berikutnya sebagai musafir pasca terusir dari Stadion Sultan Agung Bantul dan mendapat hasil buruk di dua pertandingan terakhir.

Setelah menonton beberapa match dari kejauhan, penulis setuju dengan salah satu banner yang bebunyi “Kami saksi perjuanganmu”. Penulis melihat harapan happy ending yang tersirat dari kalimat tersebut. Ada harapan bahwa PSIM akan mengakhiri musim ini dengan baik, sehingga suporter dapat berbangga hati menjadi saksi perjuangan tim. Namun harapan akan menjadi harapan apabila suporter justru menjadi saksi yang memberatkan si Naga Jawa yang tehukum. Sudah dihukum minus sembilan, masih harus menanggung dosa suporter pula.

Pemain, pelatih dan official sudah luar biasa, manajemen sudah mengarah ke lebih baik. Lalu bagaimana kita sebagai suporter? Tanpa menafikkan perbaikan dan perkembangan yang sudah ada pada suporter, memang harus diakui bahwa masih ada saja tingkah laku yang justru menyulitkan kebanggaan. Tidak usah berusaha menjadi yang terbaik se-Indonesia, se-Asia, dunia. Atau yang ter-ter lainnya baik versi TV, serta media apapun, apalagi versimu sendiri. Cukup menjadi yang terbaik untuk PSIM dengan segala kekurangan dan kenyataan yang harus dihadapi. Tidak perlu melihat ke belakang terlalu lama untuk mencari kambing hitam atas apa yang sudah terjadi. Cukup sejenak menoleh ke belakang agar lebih berhati-hati dalam melangkah.

The show must go on, Bro. Sing wisd yo wisd.  Tapi, jangan menjadi lebih bodoh dari keledai dengan masuk ke ‘lubang yang sama’. Intinya, tetap penuhi janji setia Mataram, kawal kebanggaan semampumu. Jadilah saksi yang baik bagi perjalanan Laskar Mataram yang semoga berakhir manis ini. Dari minus sembilan menuju tak terhingga. Menjadi baik dan lebih baik lagi, sehingga mencuri perhatian dewi fuortuna agar sudi menaungi si Naga Jawa. Maju terus Laskar Mataram! Aku Yakin Dengan Kamu!