Yodab.id – Akhir-akhir ini jika kita melewati jalan Suroto, kita akan disuguhi oleh pemandangan berupa pekerja-pekerja dan alat-alat berat yang sedang membongkar trotoar dan “mbredeli” jalan di sebelah utara Kridosono. Ya, Pemerintah Kota Yogyakarta sedang melakukan pekerjaan revitalisasi kawasan pedestrian di Jalan Suroto Kotabaru. Jalan Suroto termasuk jalan utama dari kawasan cagar budaya di Kotabaru. Terletak di Kecamatan Gondokusuman, Kotabaru dulu dibangun sebagai tempat pemukiman orang-orang Eropa yang bekerja dan tinggal di Yogyakarta. Kawasan Kotabaru dirancangsebagai sebuah kota taman yang berbentuk radial. Para arsitek, arkeolog ataupun sejarawan menyebutnya kawasan Kota baru. Banyaknya bangunan-bangunan yang bergaya Indisch, kawasan Kotabaru menjadi salah satu ikon sejarah berupa “kawasan” di Yogyakarta. Kawasan cagar budaya tersebut nantinya akan dijadikan sebagai “garden city” bergaya Indis oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.

Dilansir melalu Bernas.id, Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti berharap kawasan ini akan menjadi kawasan pedestrian sekaligus area publik yang tidak kalah dari kawasan pedestrian Malioboro.

“Nantinya, kawasan ini akan menjadi kawasan pedestrian sekaligus area publik yang nyaman untuk berbagai aktivitas masyarakat,” kata Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti saat mengawali pekerjaan revitalisasi kawasan Kotabaru, Selasa (26/6).

Menurut Haryadi, penataan tidak hanya akan dilakukan dengan merevitalisasi trotoar di Jalan Suroto tetapi juga melengkapi kawasan pedestrian tersebut dengan berbagai fasilitas pendukung, di antaranya kursi, wifi, hingga ornamen-ornamen lain.

Dirinya menyebut, keberadaan kawasan pedestrian yang aman, tertib, dan bersih atau nyaman menjadi salah satu tanda kemajuan sebuah kota.

“Kemajuan kota tidak ditandai dengan banyaknya kendaraan pribadi di jalan raya tetapi bagaimana tingkat kenyamanan masyarakat saat berjalan kaki di trotoar,” katanya.

Walaupun pekerjaan revitalisasi kawasan pedestrian di Jalan Suroto didanai menggunakan dana keistimewaan, namun walikota meminta agar pelaksana pekerjaan bisa benar-benar memperhatikan kualitas dan detail pekerjaan.

“Kualitas dan detail pekerjaan minimal harus sama seperti dengan kualitas pekerjaan revitalisasi di Malioboro, atau bahkan jika perlu lebih baik lagi,” harapnya.

Seluruh pekerjaan revitalisasi kawasan pedestrian di Jalan Suroto ditargetkan selesai pada 23 Desember 2018, sehingga kawasan tersebut diharapkan sudah bisa dinikmati saat libur panjang akhir tahun.

Namun, lanjutnya, berbeda dengan Malioboro, untuk Jalan Suroto bebas dari PKL.

Hal tersebut dikarenakan Jalan Suroto sudah banyak dipenuhi oleh pelaku bisnis yang menjajakan kuliner dengan konsep kafe maupun tempat makan.

“Saya minta agar warga masyarakat khususnya di Kotabaru agar bisa berpartisipasi aktif menyesuaikan bangunan dan keadaan usahanya sesuai dengan yang kami jalankan,” urainya.

Selain keberadaan tempat usaha, di sekitar Suroto juga terdapat bangunan yang memiliki atmosfer pendidikan, mulai dari perpustakaan hingga sekolah.

Selama pekerjaan berlangsung, tidak akan dilakukan penutupan jalan sehingga pengguna jalan diharapkan memahami karena dimungkinkan terjadi gangguan lalu lintas.

“Pekerjaan akan dimulai dengan pembongkaran trotoar lama dilanjutkan dengan pergeseran tiang listrik dan tiang lampu penerangan jalan,” sambung Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono.

Trotoar yang semula hanya memiliki lebar 1,1 meter akan dibuat menjadi 2,4 meter dengan mengubah saluran drainase terbuka menjadi saluran tertutup. Ukuran saluran pun ditingkatkan menjadi 80×80 centimeter.

“Kami pun akan melengkapi trotoar dengan guiding block untuk tunanetra. Trotoar pun dibuat menyambung meski berada di in  gang,” katanya.

Total panjang trotoar yang akan direvitalisasi di Jalan Suroto mencapai dua kilometer.

Trotoar dibangun menggunakan bahan teraso berwarna keabu-abuan dilengkapi ornamen yang mendukung citra kawasan Kotabaru sebagai kawasan Indis.

“Desain lampu dan kursi pun akan disesuaikan dengan kawasan yaitu menggunakan warna putih tulang,” ungkapnya.

Jika dana yang digunakan untuk revitalisasi kawasan pedestrian Jalan Malioboro menggunakan Danais Provinsi DIY, revitalisasi kawasan Kotabaru, khususnya kawasan pedestrian Jalan Suroto ini menggunakan Danais Pemerintah Kota Yogyakarta. Dana untuk penataan kawasan Kotabaru sekitar 9,5 miliar rupiah, dimana untuk kawasan Jalan Suroto sendiri di targetkan sekitar 6 miliar rupiah.

yodab.id – WSP