Perhelatan Liga 2 2018 sudah usai. Laga penutup antara PSIM Jogja melawan Madura FC pada 15 Oktober 2018 menandai berakhirnya kiprah PSIM Jogja di Liga 2. PSIM harus puas menempati peringkat ke-6 pada klasemen akhir dengan poin 31, dan berhasil mengumpulkan poin 40 dari 22 pertandingan. Hasil ini sebenarnya bukan hasil yang buruk untuk Laskar Mataram. Jika PSIM tidak mengalami hukuman pengurangan poin (-9) diawal musim, tentunya sudah menempati peringkat 2 grup timur Liga 2 2018. Semangat juang yang pantang mundur dari para punggawa Laskar Mataram dalam mengarungi Liga 2 2018 musim ini patut diacungi jempol.

Menilik prestasi PSIM selama 3 tahun terakhir, peran dari pemain binaan asli PSIM cukup signifikan terhadap pencapaian Laskar Mataram. Bisa kita lihat pada perhelatan ISC B tahun 2016 yang lalu. Lebih dari 85 persen punggawa PSIM merupakan pemain hasil didikan akademi-akademi yang bernaung dibawah PSIM. Pemain-pemain kunci seperti Rangga Muslim, Pratama Gilang, Hendika Arga Permana, dan masih banyak yang lain, berperan penting dalam menghadapi perhelatan ISC B 2018. Dari statistik yang kami miliki, total gol yang diciptakan oleh pemain didikan PSIM dengan pemain ‘diluar’ binaan PSIM berbanding cukup jauh. Pemain binaan PSIM mencetak total 19 gol untuk PSIM, sedangkan pemain yang bukan binaan PSIM hanya mencetak 1 gol. Untuk persentase kemenangan selama ISC B 2016, dengan tim yang dipenuhi pemain lokal, PSIM menang dengan persentase 44%, Kalah 39%, dan Seri 17%. Bukan hasil yang cukup memuaskan sebenarnya, tapi cukup untuk membuktikan bahwa dengan dipenuhi pemain lokal pun PSIM mampu berbuat banyak di kompetisi.

Pada perhelatan Liga 2 2017, manajemen PSIM mulai mendatangkan punggawa-punggawa baru di skuad PSIM. Meskipun mayoritas skuad masih diisi oleh pemain-pemain lokal, namun kali ini skuad PSIM diisi oleh 40% pemain diluar binaan, dan beberapa diantaranya menjadi pemain kunci, seperti Dicky “Jack” Prayoga dan Andi Kurniawan. Dengan hadirnya wajah-wajah baru ini, PSIM mampu berbuat lebih pada kompetisi di 2017, terbukti dari pencapaian kemenangan PSIM yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Persentase kemenangan PSIM pada 2017 ini meningkat menjadi 47%, dengan 35% mengalami kekalahan, dan 18% pertandingan  berakhir seri. Namun untuk top skor tim masih dipegang oleh pemain lokal, yaitu Krisna Adi. Pada hasil akhir Liga 2 2017 PSIM berhasil lolos ke play-off untuk bertahan di Liga 2, dengan menempati peringkat 3, dan pada perhelatan play-off PSIM berhasil lolos sebagai juara grup, sehingga berhak bertahan pada lanjutan Liga 2 2018.

Liga 2 tahun 2018 sebenarnya merupakan ujian terberat bagi PSIM Jogja karena kasus trio Belanda pada tahun 2012 diusut oleh FIFA. Bagaimana tidak, selain dihukum wajib membayar kewajiban kepada trio Belanda plus denda dengan nilai yang tidak sedikit, PSIM harus mengawali musim dengan poin -9. Namun pada Liga 2 2018 inilah punggawa PSIM menunjukkan peningkatan kualitasnya, dari total 22 pertandingan di grup timur, PSIM berhasil meraih kemenangan  dengan persentase 55%, dengan kekalahan  hanya 27% dan 18% berakhir seri. Tetapi ada catatan dari pencapaian PSIM pada musim ini: Pemain binaan PSIM yang terlibat dalam pencapaian tim pada musim ini menurun drastis menjadi kurang dari 40% dari total pemain, berbanding terbalik dengan tahun-tahun sebelumnya. Pemain-pemain non-binaan PSIM seperti Ismail Haris, Supriyadi “Eeng”, Fandy Edi serta Hendrico berhasil menunjukkan kelasnya sebagai pemain kunci. Ismail Haris bahkan tercatat sebagai pencetak gol terbanyak bagi PSIM musim ini dengan  8 gol nya, hanya selisih 1 gol dengan Hendika Arga sebagai pemain binaan asli PSIM.

Dari grafik hasil pencapaian prestasi PSIM selama 3 tahun ini menunjukkan bahwa, semakin menurunnya jumlah pemain lokal, tidak membuat prestasi PSIM menurun, bahkan cenderung meningkat. Situasi ini perlu ditanggapi dengan serius. Tercatat, pemain PSIM yang berhasil di tim, rata-rata memilih hengkang dari PSIM jika ada tawaran yang lebih menarik dari tim lain. Pembenahan pembinaan pemain PSIM junior juga perlu dilakukan dengan serius jika ingin menghasilkan bibit unggul yang loyal pada PSIM, dan tentunya kejadian seperti Hendika Arga tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Apakah ini yang dimaksud dari tulisan “Manajemen Baik, PSIM Baik?”,  semoga saja mau berbenah.

Yodab.id – WSP