Gelaran Liga 2 tahun 2018 benar-benar sudah selesai setelah  PS Sleman, tim tetangga, mengangkat piala juara dengan berbagai intrik yang mengiringinya.  Tulisan ini tidak akan membahas tentang mafia  bola ataupun desas-desus lain, namun berusaha fokus untuk membicarakan PSIM.  Bukan musim buruk sebenarnya bagi  si Naga Jawa, rival si Juara. Bertahan di Liga 2 merupakan hal yang paling realistis untuk dicapai usai diberi hukuman -9, dan memang benar, harus diapresiasi. Tak cukup diapresiasi saja nampaknya, kinerja tim, manajemen, dan stakeholder yang memang menyelamatkan PSIM dari jurang degradasi. Akan tetapi musim 2018 menyisakan beberapa catatan penting untuk memulai kembali musim yang baru. Masih banyak hal-hal yang sepertinya penyakit menahun. Persiapan tim yang selalu mendadak, transparansi dana yang masih tertutup rapat seperti aurat, penjualan merchandise yang bisa dibilang “blong”, dan masih banyak lagi.

Musim baru sudah menjelang, di tahun yang baru pula. Besar harapan suporter terhadap musim besok, bahkan sampai  ada celetukan “kalau tahun 2019 kembali ke Mandala Krida, PSIM promosi”. Hah? Promosi? Tenane?  Sebentar dulu, mari kita tarik korelasi antara kembali ke Mandala Krida dengan  promosi ke kasta lebih tinggi. Perlu diingat, Persija bisa Juara lho mas, mbak, pakdhe, paklik, mbah, padahal Persija adalah  klub yang menjalani hampir separuh musimnya sebagai  “musafir”. Lalu sebenarnya apa yang perlu diubah? Menurut penulis, kembali ke Mandala Krida memang membantu, namun tidak cukup.

Pada paragraf pertama telah disebutkan penyakit menahun yang selalu dialami oleh PSIM. Ya, memang itu-itu saja sebenarnya penyakit si Naga Jawa. Artikel ini tidak akan menghakimi siapapun. Hanya ingin mengajak pandemen PSIM menyadari bahwa profesionalitas dan niat yang baik dalam membangun sebuah klub adalah hal sangat penting untuk klub manapun. Laskar Mataram bukan lagi klub amatir, tidak boleh hanya bergantung pada seseorang, suatu hal, apalagi hanya bergantu  ng pada tiket pertandingan. Sudah bukan masanya berpikir dengan pola pikir seperti itu. Baik, mari kita bahas hal elementer yang pertama-tama dapat dilakukan.

Persiapan Tim Lebih Awal

Mepet, dadakan, alakadarnya, sakmadyone. Kata-kata itulah yang selalu keluar ketika menghadapi persiapan Tim PSIM dari musim ke musim. Tidak ingin menyalahkan manajemen sepenuhnya, sebab, operator liga pun juga tidak pernah memberi kejelasan kapan akan menggulirkan liga. Masalah tersebut bukanlah tanpa solusi sebenarnya.  Yang menjadi pertanyaan adalah, apa iya sih keuangan PSIM itu selalu Rp 0,- di awal musim? Kok yang menjadi masalah adalah tidak adanya dana untuk “ngrumat team” sebelum kick-off.

Baik, mungkin perihal transparansi dana juga tinggal mimpi. Jadi, ada baiknya mencari solusi. Banyak hal yang dapat dilakukan di masa-masa “pra musim”. Yang jelas menunjuk pelatih, dan biarkan pelatih meracik tim dan mengomunikasikannya dengan pihak manajemen untuk negosiasi dengan para pemain. Setelah tim terbentuk dapat melakukan latihan dan uji tanding. Nah, dalam uji tanding ini memangnya tidak bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan uang untuk operasional? Memangnya tidak bisa bikin jersey pra musim? Dengan adanya keseriusan dan keterbukaan manajemen serta animo suporter yang baik, maka bukan tidak mungkin bila sponsor-sponsor kelas kakap akan merapat dan nyaman bersama Laskar Mataram.

Rekruitmen Tenaga Berkompeten

Perseroan Terbatas PSIM Jaya seharusnya dapat menjalankan bisnisnya dengan baik. Wahai Bapak-bapak pemangku jabatan, anda ini hidup di Yogyakarta, tempat berkumpulnya para akademisi maupun praktisi dalam berbagai disiplin ilmu. Masa iya masih memakai orang-orang terdekat untuk mengurusi PSIM? Sedangkan di luar sana mungkin banyak yang  berkompeten dan mampu membawa angin segar bagi PSIM.

Rekrutmen yang berkompeten dengan sistem seleksi yang fair dan profesional akan sangat membantu kinerja Manajemen. Hal itu juga akan berdampak positif terhadap kinerja seluruh elemen. Saya yakin, sebenarnya PT PSIM Jaya nantinya mampu memperkerjakan dan menggaji beberapa  orang yang mengisi kedudukan divisi-divisi yang dibentuk untuk membantu jalannya PT. Mengapa digaji? Ya karena kerja profesional, bukan kerja bakti. Menjalankan bisnis  yang memiliki profit masa iya karyawannya nggak digaji? Ingat, apapun keyakinan panjenengan pasti paham dan sepakat, bila memperkerjakan orang artinya harus membayar upahnya.

Stop Rangkap Jabatan

Dalam tubuh Manajemen PSIM Yogyakarta masih terdapat berbagai praktik rangkap jabatan. Hal itu tidak sehat untuk bekerja secara profesional. Ya manajemen, ya ketua umum, ya pemegang saham. Lha ra sisan main bal dewe? Bayangkan, seseorang cenderung dan hampir tidak mungkin menegur dirinya sendiri atas kesalahan yang dilakukannya. Pada akhirnya tidak ada koreksi dan evaluasi. Dan perlu diketahui, dalam Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas, pemegang saham yang juga ikut menjalankan PT harus bertanggung jawab secara materi dan rela harta pribadinya terancam terpakai untuk ”nomboki“  PT PSIM Jaya kalau terjadi kerugian apalagi pailit. (Naudzubillah, jangan sampai). Jadi jangan sambat dan diagung-agungkan kalau harus ngedol ini itu buat PSIM, lhawong memang resikonya sudah jelas.

Jadi, monggo dipilih saja jabatan yang sekiraya mampu diemban, jabatan yang lain silakan diselehke  dan dicari pengganti yang tepat. Kita sebagai suporter juga harus memperhatikan hal-hal seperti itu. Sudah tidak jamannya suporter  hanya datang,   membeli tiket, mendukung, lalu pulang. Bukannya ingin cawe-cawe, tapi masalahnya PSIM kan milik bersama jadi wajar kalau punya rasa “memiliki”.

Memasang Target Tinggi

Untuk memenuhi harapan para pandemen PSIM Yogyakarta manajemen haruslah memasang target tinggi, naik kasta. Bukan tidak mungkin untuk melangkah ke sana. Namun berbicara tentang target yang perlu disoroti adalah realisasi di lapangan. Jangan hanya memasang target tinggi tapi effort-nya nol besar. Target dan realisasi harus seimbang.

Namun, bagi penulis sendiri  tidak harus seketika target tersebut tercapai. Jika diperbolehkan mengubah sedikit quote  dari Tan Malaka, penulis berpendapat bahwa “Promosi haruslah 100%”. Mengapa begitu? Karena semuanya punya proses. Jangan sampai masih belum pantas, namun sudah “dipaksakan” naik kasta. Segala sesuatu seyogyanya disiapkan dengan baik, bukan dengan persiapan mepet apalagi instan. Yang terpenting, semoga PSIM nantinnya bisa naik kasta dengan ridha Tuhan Yang Maha Esa dan restu alam semesta. Tidak perlu menang dengan cara culas. Penulis yakin baik Brajamusti dan Maident bukanlah suporter “glory hunter”.

Mari kita kawal kinerja manajemen, klub, dan tim serta tentunya kita sebagai suporter juga harus BERBENAH. Nganti tak capslock. Tak ingin menggurui berbenah itu seperti apa, pasti sudah paham. Ayo sama-sama berproses hingga  mencapai 100%. Jangan lelah mengawal dan menyerukan perubahan sehingga bisa keluar  dari zona nyaman. Sekali lagi, Promosi haruslah 100%. AYDK!

PW Maharsy