*Disclaimer: Tulisan ini saya sajikan untuk membaca fenomena laga antara Persis Solo menjamu PSIM Yogyakarta di Madiun mendatang. Tidak ada unsur maupun motif untuk menjatuhkan kedua belah pihak tim maupun pendukung. Sebelum melakukan penulisan, saya melakukan pengamatan di kanal media sosial twitter dari tanggal 8 Agustus 2019 hingga 12 Agustus 2019. Selama pengamatan, kurang lebih dua sampai tiga jam saya intensif menelusuri setiap akun dari kedua belah pihak. Mungkin ada beberapa informasi dari hasil pengamatan yang luput saya tuliskan, karena percepatan unggahan tiap tweets tidak dapat saya ikuti satu persatu secara komprehensif. Semua tulisan adalah murni dari hasil pengamatan tanpa ada unsur mengada-ada. Terimakasih

Boleh jadi belakangan ini, seusai laga pertandingan yang digelar di Stadion Mandala Krida, antara PSIM Yogyakarta melawan Martapura FC tanggal 8 Agustus 2019 silam, euforia besar terjadi setelah kembalinya tim dengan julukan Laskar Mataram ke rumah kebangganya. Tak hanya di stadion, cuitan (tweet) dari berbagai laskar yang tergabung dalam Brajamusti (Brayat Jogja Mataram Utama Sejati) maupun The Maident serentak menyuarakan ekspresi kegembiraanya secara bersamaan di jagat twitter. Tak luput, beberapa akun personal fans PSIM Yogyakarta turut memeriahkan euforia ini. Mayoritas mengungkapkan rasa kebahagiaan yang nostalgik dan tentu momen ini menjadi penting bagi para pendukungnya yang loyal. Sementara, nampaknya hampir seluruh lapisan masyarakat juga turut serta dalam euforia kental simbol ini. Misalnya saja, ketika perjalanan menuju stadion, saya melihat beberapa kalangan orangtua, baik beserta keluarganya ataupun tidak, maupun remaja-remaja yang datang tanpa atribut, atau bahkan gerombolan anak-anak kampung yang tinggal tidak jauh dari stadion, turut menyaksikan laga pertama di Stadion Mandala Krida setelah kurang lebih tiga tahun melakoni laga kandang di Stadion Sultan Agung, Bantul.

Ikut merasakan euforia yang sama, tak lama kemudian, kemeriahan itu pun semakin bersemi di jagat internet karena bertambahnya cuitan dari berbagai pihak, baik media maupun pihak lainnya. Saya hendak ingin mencari tahu lebih banyak ekspresi-ekspresi lain yang diunggah melalui kanal twitter dengan melakukan pengamatan pada setiap akun laskar yang berada di bawah naungan Brajamusti maupun akun-akun personal dari pendukung PSIM Yogyakarta lainnya. Ada sekitar kurang lebih selama tiga jam saya mondar-mandir dari satu akun ke akun lainnya, untuk melihat tanggapan yang muncul paska pertandingan tersebut. Tentu bervariasi dan begitu sangat ekspresif, hingga pada akhirnya, ada satu momen dimana saya mulai terpancing untuk merambah ke pemilik akun para pendukung Persis Solo, yang kala itu telah mulai menyemarakkan tagar seperti #wisdompol atau #mataramisred, yang bagi saya sedikit menggelitik. Sementara di satu hal, pendukung PSIM Yogyakarta nampaknya masih terbuai atas kemenangan 2-0 atas Martapura FC juga euforia pulangnya Laskar Mataram di stadion kebanggaan. Maka tak ayal jika cuitan yang berbau psywar belom nampak pada diri pendukung PSIM Yogyakarta.

Mulanya, di samping cuitan bertagar serupa, banyak cuitan yang sarat dengan narasi historis terpisahnya dua wilayah, Surakarta dengan Yogyakarta, diunggah. Selepasnya, sejarah atas keberhasilan kebijakan VOC dari sebuah perjanjian yang diselenggarakan di Giyanti pada tahun 1755, mulai bergulir dari satu akun ke akun lainnya.  Bagi pendukung Persis Solo, mereka mengamini satu premis dimana “Surakarta lebih pantas mendapatkan julukan mataram daripada Yogyakarta karena perjuangan Raden Mas Said atau  akrab disebut Pangeran Sambernyawa—nama belakang ini yang kemudian diambil oleh Persis Solo—yang telah konsisten menentang kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh VOC, sementara itu, Pangeran Mangkubumi tak lain dianggap koloni VOC yang kemudian diberikan jatah wilayah yang kelak menjadi Kesultanan Yogyakarta”. Sementara, di sisi lain, pendukung PSIM Yogyakarta punya premis yang kurang lebih berbunyi seperti ini “bila Surakarta berhak dijuluki mataram, lantas kenapa julukan laskar mataram justru disematkan kepada tim PSIM Yogyakarta”. Kedua premis tersebut memang saling menyudutkan dan tentu, ada pihak-pihak yang kemudian salah menafsirkan atau hanya mengambil beberapa kalimat dari wikipedia untuk diunggah sebagai cuitan balasan. Ini lebih dari sekedar menyebalkan.

Perdebatan sengit ini memang tak menghasilkan kejelasan. Malahan, ujungnya saling ejek dan esensi narasi sejarah yang tadinya diusung menjadi kabur. Baik dari pendukung Persis Solo maupun PSIM Yogyakarta, keduanya sama-sama alot memperdebatkan hal yang sebenarnya tidak perlu terlalu dipeributkan. Tagar seperti #mataramisred ataupun #mataramisblue disematkan dalam setiap balasan, untuk mempertegas keberpihakan. Mungkin, narasi ini bisa saja dibilang terlampau jauh untuk menanggapi laga kedua tim mendatang. Melihat konteks yang terjadi saat ini (bisa saja) jauh dari ihwal masa lampau, namun toh secara empiris kita dapat melihat bahwa kedua pendukung sama-sama tak dapat meluruhkan sejarah yang sudah kadung terjadi. Sialnya—dalam hemat saya—debat alot ini tak ayal adalah buah dari hasil politik adu domba yang ternyata kental terjadi hari ini.

Di samping itu, cuitan berbau psywar lainnya telah menyelimuti tiap akun pendukung. Walau selama pengamatan—tanpa ada maksud menyudutkan—cuitan serupa baru mulai banyak digempurkan oleh para pendukung Persis Solo hingga kemudian kedua pendukung saling membalas. Jauh sebelum saling balas, lagi-lagi berdasarkan pengamatan saya di media sosial twitter, pendukung Persis Solo mulai mengunggah poster-poster yang kurang lebih berisi informasi kepada para pendukungnya untuk turut hadir dalam laga (yang katanya) derby di Stadion Wilis Madiun pada 16 Agustus 2019 mendatang. Wsalau sebelumnya pihak suporter sempat mengumumkan akan melakukan boikot selama Persis Solo bertanding di Madiun.

Dalam unggahan poster tersebut, menariknya, beberapa gimik disematkan pada logo PSIM Yogyakarta sebagai sebuah ledekan. Seperti misalnya tulisan “wajib kalah” atau figur berupa “babi”, tentu dengan posisi logo terbalik disandingkan dengan logo Persis Solo yang berwarna merah itu. Demi mendapatkan atmosfer (yang katanya) derby, melalui kanal yang sama di waktu yang bersamaan, saya pun memastikan, bagaimana pendukung PSIM Yogyakarta—yang masih dirundung euforia—menanggapi laga (yang katanya) derby tersebut. Ternyata jawabannya begitu mengecewakan. Terlihat, loyalis PSIM Yogyakarta belum—secara serentak—menggaungkan aksi-aksi psywar seperti halnya suporter Persis Solo lakukan. Sejauh pengamatan saya, hanya sebuah gambar dengan tulisan “No Derby Just Party” yang memuat tabel hasil laga selama pertemuan antara PSIM Yogyakarta dengan Persis Solo, dengan tambahan cuitan yang agaknya bernada satire. Serta beberapa cuitan balasan atas unggahan pendukung Persis Solo.

Hal ini membuat saya berfikir ulang, jangan-jangan sebutan (yang katanya) Derby Mataram itu hanya bagi salah satu tim? Bagaimana dengan tim lawan? Berdasarkan pengamatan yang saya lakoni, semarak yang ditunjukkan oleh para pendukung Persis Solo dengan PSIM Yogyakarta cukup signifikan perbedaanya. Di saat yang sama, pendukung Laskar Sambernyawa lebih banyak meningkatkan tegangan atau tensi untuk menghadapi laga selanjutnya ketimbang tim lawan. Apalagi, pernyataan pihak suporter Persis Solo yang menyatakan bahwa akan memboikot seluruh pertandingan kecuali saat menjamu PSIM Yogyakarta, menyebabkan para pendukung Laskar Mataram berbesar kepala dan seolah-olah merasa bahwa pertemuan antara kedua tim tersebut layaknya sebuah pertemuan yang “berkelas”. Padahal, pihak pendukung PSIM Yogyakarta agaknya tidak sengoyo ini menghadapi laga tersebut. Malahan, banyak guyonan yang dilemparkan menghadapi psywar paska cuitan tentang narasi sejarah perjanjian giyanti bergentayangan.

Alih-alih boikot, antusiasme ditengah aksi tersebut kemudian dapat dibaca sebagai sebuah ketegasan posisi Persis Solo menghadapi PSIM Yogyakarta. Terlebih, tidak hanya melalui aksi (tidak jadi) boikot, ketika saya sedang berusaha memetakan akun-akun dari pendukung mana yang menggunakan tagar #derbymataram melalui mesin pencarian di twitter, saya menemukan bahwa mayoritas adalah pendukung Persis Solo. Bisa jadi, karena mereka terlampau bersemangat menghadapi laga mendatang, sampai-sampai mereka lupa bahwa sepakbola bukan hanya soal derby, tapi juga soal kesehatan manajemen tim dan suporter. Terlebih, konsistensi terhadap keputusan aksi boikot.

Salam. (Alwan)