Mengunjungi JOGJA dari arah barat menuju pusat kota. Melintasi jalan raya yang di apit oleh kampung-kampung lama tempat para punggawa Kerajaan ditempatkan. Melintas jalan yang kini memiliki nama RE Martadinata, kita menjumpai sebuah kampung bernama Wirobrajan. Bermula dari sebuah kampung tempat Prajurit Wirobrojo “dirumahkan” pasca Perang Spoy atau sering disebut Geger Sapehi, Wirobrajan kini menjadi sebuah wilayah administratif setingkat kecamatan. Wirobrojo yang berarti berani (wira) dan tajam (BRAJA) adalah sebuah kesatuan yang dulunya berada pada garis depan pertempuran.

Selepas kampung Wirobrajan, memasuki jalan KHA Dahlan, satu kilometer selepas menyebrang Sungai Winongo, kita akan sampai di titik nol kilometer Yogyakarta. Dari titik nol kilometer tersebut kita bisa melihat di sebelah selatan adalah jalan menuju paseban (alun-alun) Kesultanan Ngayogyakarto Hadiningrat dan memasuki wilayah njero beteng Kraton. Pada sisi utara kita bisa melihat Benteng Vredeburg pada sisi Timur dan Gedung Agung pada sisi Barat. Tepat di sisi utara Benteng Vredeburg terdapat Pasar Beringharjo, sebuah pasar yang berdiri seusia dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Memasuki wilayah njero beteng kita akan menjumpai Masjid Gede pada sisi barat, dan pada sisi selatan paseban terdapat Bangsal Pagelaran dan Siti Hinggil Kraton sebagai bagian terluar dari Kraton. Sedikit keluar dari area Kraton, sekitar satu kilometer ke timur kita akan menemui Pura Pakualaman. Sebuah Kadipaten mardika di bawah Kasultanan dan terbentuk setelah Geger Sapehi.

Enam puluh kilometer sebelah timur Yogyakarta. Memasuki kota Surakarta dan terkenal dengan kemolekan paras putri Solo yang lembut siap menyambut. Menyusur Jalan Slamet Riyadi, berbelok sedikit ke utara sekitar satu kilometer sebelah barat  perempatan Gladak, terdapat Puro Mangkunegaran. Kadipaten yang terbentuk paska perjanjian Salatiga tahun 1757. Kembali ke Jalan Slamet Riyadi, pada ujung kita akan menjumpai patung Slamet Riyadi atau perempatan Gladak. Serupa dengan Kraton Ngayogyakarta, menoleh ke sisi selatan kita akan menjumpai alun-alun (walaupun kini terdapat bekas los-los pasar tak terawat). Sebelah barat alun-alun kita juga bisa menjumpai Masjid Gede. Tentu saja Siti Hinggil bercorak warna biru terdapat disebelah selaan alun-alun. Kembali ke pada titik perempatan Gladak. Beteng Vastenberg berada di sebelah timur perempatan. Masih juga serupa dengan Jogja, di sebelah utara Beteng Vastenberg, terdapat Pasar Gede.

Melihat ulang kemiripan tata kota pada dua wilayah tersebut, lantas apa yang membedakan antara Jogja dan Solo? Tentu saja terlalu banyak jika kita mengurai satu per satu. GNFI pernah menyampaikan bahwa salah satu hal yang membedakan Jogja dan Solo adalah pada corak bangunan. Sementara Solo lebih mengimajinasikan kemajuan dengan memunculkan ornamen dan patung-patung bergaya Eropa, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memilih untuk lebih menonjolkan semangat penyatuan satu Mataram melalui bentuk dan gaya ornamen Jawa Klasik. Tidak berhenti pada bentuk dan corak Kraton, perbedaan antara semangat penyatuan Jawa dan orientasi Eropa sentris juga terlihat pada busana, blangkon, senjata (keris) bahkan hingga pada tata kelola pemerintahan.

Menilik persamaan dan perbedaan antara Jogja dan Solo, pertanyaan yang paling mendasar adalah mengapa terdapat persamaan antara Jogja dan Solo jika orientasi kuasa antara dua penguasa saling bertolak belakang? Lantas apa yang menjadi peletak dasar persamaan tersebut? Untuk itu menjadi penting membaca kembali pondasi dasar saat membangun Dinasti Mataram.

Foto Tugu Jogja : Muchlas Arkhanuddin

(yodab.id – arda)

(bersambung)