Fandy Edi gagal menghalau bola, bola liar tepat di depan gawang Putu Pager. Rudiyana sebagai orang terdekat tidak mampu menutup sepakan Slamet Budiyono yang melesak kencang. Ia lari melompati adboard stadion Wilis yang diisi ribuan Pasoepati. Slamet membanting jerseynya sembari meluapkan emosi selang beberapa detik beberapa orang suporter Persis Solo larut dalam selebrasi itu.
Sore itu saya menyimak youtube lebih tegang dari biasanya. Laga Persis Solo menjamu PSIM menjadi perhatian setidaknya khalayak suporter sepakbola. Perang di sosial media menghiasi sepekan ke belakang. Saya hanya beberapa kali membagikan arsip pertemuan kedua klub tersebut pada satu dekade ke belakang.
Sepintas ketika saya melihat pertandingan itu saya teringat ketika PSIM menjamu PSS Sleman di Stadion Sultan Agung. Saat itu PSIM diisi oleh para pemain muda dan beberapa pemain senior yang mungkin hanya grade C sedang PSS yang diisi oleh pemain jebolan Liga 1. Beda kelas. Itu juga yang terjadi pertandingan kemarin, dilihat dari skuadnya Persis Solo masih di bawah PSIM yang diisi oleh pemain bintang. Skor pertandingan memang berpihak untuk untuk rumah. PSIM kalah 2-1 dari tuan rumah. El Loco sempat menyamakan kedudukan. Sepakan kaki kirinya mampu melumpuhkan kiper kawakan Sukasto Effendi.
PSIM harus pulang dari Madiun dengan tangan kosong. Eh, tidak kosong mereka masih mendapatkan sambutan dari para suporter yang setia menunggu kepulangan rombongan tim PSIM dari Madiun. Mereka mengawal bus hingga mes PSIM. Sambutan begitu hangat meski gagal meraih poin dan juga kalah dari rival bebuyutan. Suporter terus mengelu-elukan pahlawannya. Jika dilihat lagi, target PSIM masih seusai yakni mengakhiri putaran pertama pada posisi 4 Besar.
Manajemen PSIM telah menyelesaikan kontrak pemain baru, Syaiful Indra Cahya dan Hendra Wijaya disusul sederet nama pemain mentereng di Liga 1. Harapannya para pemain tersebut bisa masuk skema pelatih PSIM, Aji Santoso. Siapakah pemain yang akan dicoret? belum ada informasi resmi dari manajemen.
Para suporter menyanyikan anthem AYDK, Raymond salah satu pemain yang cukup kecewa entah dengan hasil pertandingan atau permainannya ketika di lapangan. Di barisan agak belakang, Ichsan Pratama ikut melantunkan AYDK meski lamat-lamat terlihat bibirnya mengatup mengikuti lirik dari anthem tersebut. Saya yakin ia akan hafal melantunkan AYDK, setidaknya untuk Ichsan Pratama teruslah menyanyikan AYDK sampai kau bisa.

Dimaz Maulana (pengiat Bawahskor)