Putaran pertama Liga 2 musim 2019 telah usai, untuk sementara Laskar Mataram menempati posisi kedua kelasemen wilayah Timur. Selama jeda kompetisi, manajemen Laskar Mataram melakukan evaluasi selama putaran pertama disegala lini. Mulai dari perombakan tim dengan keluar masuk pemain demi kebutuhan dan target tim di akhir musim, serta yang tidak kalah pentingnya evaluasi manajemen tim sendiri demi menunjang akomodasi tim di putaran kedua, salah satunya dengan menaikan harga tiket di laga kandang.
Kebijakan manajemen tersebut menjadi pro kontra dikalangan pandema PSIM Yogyakarta sendiri. Kenaikan harga tiket walaupun hanya kategori VIP yang awalnya Rp 75.000,00 menjadi Rp 100.000,00 dampaknya terjadi kritik terhadap manajemen Laskar Mataram mengingat tribun VIP mayoritas diisi oleh kalangan keluarga yang mendambakan tribun ramah anak. Terobosan yang dilakukan manajemen ini belum diketahui apa alasannya, apakah untuk menunjang akomodasi tim sendiri maupun menunjang pelaksanaan laga kandang dengan segala akomodasinya seperti sewa stadion, keamanan dan sebagainya.
Secara tersirat terjadi perubahan porsi dan peran suporter di era sepakbola zaman sekarang. Dengan datangnya investor maka akan muncul berbagai terobosan dari segi kebijakan internal maupun esternal tim, disisi lain suporter sendiri menunjukkan respon dengan melakukan kritik terhadap setiap kebijakan yang muncul. Tidak bisa dipungkiri pemasukan terbesar tim didapat melalui tiket laga kandang, namun menjadi pertanyaan apa yang didapat dari sisi suporter. Kenaikan harga tiket tersebut apakah suporter mendapat fasilitas tambahan seperti, harga tiket Rp 100.000,00 suporter mendapat fasilitas tunjangan dari sponsor dalam bentuk satu paket bingkisan atau suporter mendapat akomodasi di laga tandang melalui subsidi silang untuk biaya perjalanan. Di era sepakbola modern suporter tidak hanya menjadi “konsumen” bagi tim kebanggannya, melainkan suporter juga dapat melakukan kritik secara terbuka dan mendapat fasilitas atau feedback yang sebanding.
Industri sepakbola modern bukan hanya sekedar olahraga semata, melainkan menjadi entitias ekonomi, sosial, dan culture. Korelasi antara manajemen dan suporter yang harmonis akan menjadi pondasi kemajuan tim kebanggaan kita. Karena loyalitas pandema Laskar Mataram tidak untuk diperjual belikan dan kita harus selalu mengawal Laskar Mataram sampai kapanpun. Oleeee! (SBR)