Tiga kali Heri Susilo kepayahan beradu lari dengan pemain depan Mitra Kukar. Mantan pemain PSIS Semarang itu harus jatuh bangun menerima tekanan sejak awal pertandingan.

Kali ini saya menonton dari tribun selatan, biasanya saya nonton di tribun tertutup sebelah barat. Sejak kenaikan harga tiket dari Rp 75.000,- menjadi Rp 100.000 sangat terasa terlebih jarak menontonnya hanya selang hampir seminggu. Harga yang “mencekik leher” itu nampak terlihat tadi sore, tribun bagian barat nampak sepi. Lantai atas nyaris tanpa penonton.

Kembali ke lapangan, Putu Pager memberikan refleks jempolan pada menit awal. Sebuah sepakan pemain Mitra Kukar berhasil dihalau dengan tinjunya. Sayangnya, kepiawaian Putu Pager ambrol serangan Mitra Kukar. Pertandingan belum genap 20 menit, PSIM tertinggal 2 gol dari Naga Mekes.

Saya tertegun namun perasaan saya berkata mungkinkah pertandingan ini bisa berakhir happy ending? Maklum beberapa hari yang lalu, tim asuhan Kak Seto Nurdiantoro berhasil menang atas PSM Makassar setelah tertinggal dua angka sejak paruh waktu babak pertama. Saya mulai berdoa, kejadian ini mirip semoga serupa, Ayo PSIM!

Seperti para pendemen bola pada umumnya, bolehlah berharap di babak kedua minimal PSIM mampu mencetak gol cepat sehingga semangat juang Laskar Mataram bisa kembali berkobar. Namun nasib berkata lain, Sutanto Tan bermain kurang tangkas. Ruang gerak Witan Sulaiman berhasil ditutup oleh pemain Mitra Kukar. Gonzales? Nampaknya PSIM harus segera mencari pelapis Papito. Fisik dan stamina Papito nampaknya cocok jika dimasukkan ketika babak kedua. Soal striker anyar PSIM, Aldair Makatidu saya kira cara mainnya tidak terlalu istimewa. Yah, anggap saja asumsi yang salah, harapannya asumsi saya kebalik.

Pertandingan menjamu Mitra Kukar ini PSIM menurunkan pemain barunya antara lain, Mahrus Bachtiar, Nugroho, Saldi, Witan, Sutanto dan Hendra Wijaya belum memperlihatkan arah pertandingan yang menghibur. Nampaknya, PR besar Aji Santoso mengurai masalah ini. Secepatnya ia harus mencari “ajian-ajian” baru untuk Laskar Mataram agar lebih beringas.

Kejadian di penghujung pertandingan membuat saya teringat cerita Anthony Sutton (Jakarta Casual) tentang pengalamannya menonton PSIM, waktu itu perpanjangan waktu diluar kewajaran. Pertandingan menjamu Mitra Kukar terasa serupa. Tidak banyak waktu yang terbuang akibat pelanggaran selama babak kedua namun wasit memberikan enam menit. Waktu yang cukup untuk menciptakan sebiji gol bagi PSIM melalui tendangan penalty oleh Rafi Angga. Gol yang sangat terlambat dan tercipta di luar perkiraan, setidaknya saya pribadi.

Seiring pindahnya homebase PSIM dari SSA ke Mandala Krida, menu pedagang asongan mengalami transisi. Meski masih ada arem-arem dengan tandem tahu pong lombok siji namun tiada lagi air putih kemasan kecil.  Hanya ada minuman yang punya potensi bikin watuk!

Pak, kita butuh kesegaran alami bukan buaian yang manis-manis saja.

Dimaz Maulana (Pegiat Bawahskor)