Sebelumnya, istilah ‘mbah’ dengan sadar saya pakai dalam tulisan ini karena istilah tersebut dapat menggambarkan perasaan pandemen PSIM kepada klub dengan logo tugu tersebut, yaitu ‘sayang’ sekaligus ‘hormat’. Di banyak kultur penggemar klub sepak bola di dunia, fenomena menganggap klub kebanggan sebagai ‘kesayangan’, ‘yang terkasih’, atau bahkan ‘pacar’ adalah sesuatu yang wajar. Namun yang menarik dari PSIM adalah, ada perasaan ‘hormat’ seperti dengan mbah kakungnya sendiri. Ibarate nek simbah dawuh, putune kon ngopo wae gelem. Tepat seperti dukungan kami terhadap PSIM yang tak pernah berhenti meskipun sewu siji masalahe. Gelem dikon sabar senajan kalahan, gelem dikon legowo senajan rasido promosi, lan tetep gelem dikon tuku tiket senajan maine ra mbejaji.

Di musim lalu buktinya, ketika disuruh mendukung klub yang memulai musim dengan beban hukuman pengurangan poin sebanyak -9 pun, kami tetap mendukungmu tanpa keraguan, mbah. Walaupun di akhir musim hasilnya adalah gagal promosi, tapi kami tetap bangga karena dengan skuad yang jauh dari nama besar, dirimu malah bisa memainkan sepak bola yang memanjakan mata sekaligus ngayemke ati. Bisa bersaing hingga papan atas dengan modal poin minus sembilan merupakan sebuah prestasi yang cukup bagi kami. Alasannya mungkin sederhana: kami tau dirimu bermain dengan sepenuh hati, mbah.

Dikon ngopo wae gelem termasuk harus mendukung tanpa rasa malu sedikitpun ketika ‘dilangkahi’ tetangga sekota ke Liga 1. Jika menegok umur dan sejarah, rasanya wagu ada tetangga yang masih pubertas kok tiba-tiba melangkahi seorang simbah tanpa kulo nuwun. Tapi  apakah iman kami lantas goyah? Tidak juga, kami masih tetap yakin bahwa Liga 1 adalah tempat PSIM yang seharusnya. Maka dari itu, pandemen PSIM tetap wani berangkat ke stadion. Mendukung all out. Tanpo tedeng aling-aling.

Menyambut musim baru Liga 2 2019, harapan para pandemen PSIM bersambut baik dengan iktikad positif dari manajemen untuk berbenah dengan target utama: promosi ke Liga 1. Nama-nama dengan label Liga 1 pun didatangkan. Awalnya memang sempat melambungkan ekspektasi kami. Tapi ternyata dirimu masih menyuruh kami untuk bersabar mbah, ketika kami menyaksikan sendiri di lapangan, kami seolah tak mengenal siapa orang-orang berbaju biru yang sedang tendang-tendangan bola itu, mbah. PSIM kami musim lalu seperti hilang.

Tak ada lagi umpan satu-dua yang memanjakan mata. Tak ada lagi umpan terobosan yang disambut pergerakan tanpa bola. Tak ada lagi gol-gol indah yang selalu membuat kami bersorak. Dan yang paling tak ada lagi adalah sebelas pemain sepak bola berbaju biru yang bermain dengan sepenuh hati. Kami rindu itu, mbah. Padahal dengar-dengar, musim ini dirimu memiliki dukungan finansial yang memadai jika hanya untuk melengkapi skuad musim lalu demi membentuk tim yang kompetitif. Tapi pemain-pemain yang didatangkan ternyata cuma berdasarkan nama besar, bahkan merombak besar-besaran skuad musim lalu.

Tapi kami juga paham mbah, bahwa not all days is a sunshine. Dalam hidup, pasti ada fase-fase di mana kita berada di bawah. Mungkin fase itu adalah sekarang. Fase pesakitan, fase kalahan, fase permainan menyebalkan. Tapi dirimu bisa pegang kata-kata kami mbah: hanya karena permainan terbaikmu sedang sembunyi, bukan berarti kami berhenti bernyanyi.

Segala dawuh-mu untuk kami bersabar dan legowo sudah kami penuhi, mbah. Bahkan tak sedikit di antara kami yang rela memotong anggaran tabungan untuk modal rabi demi mendukungmu langsung di stadion. Tak sedikit pula dari kami yang tetap berangkat awaydays meskipun diliputi dua kekhawatiran, yaitu keselamatan jiwa kami dan juga melihat permainan yang jelek.

Maka, tampaknya ada satu hal lagi yang perlu dirimu ingat dan resapi betul-betul, mbah: aku dikon ngopo wae gelem tur ha nek aku berjuang, koe yo gentenan berjuang, mbah. Aku nek dewe ndak kuat, aku yo klenger. Wong tresnaku ning kowe keras koyo watu og.

Kami, sebagai pandemen PSIM, sebenarnya tak ingin menuntut banyak hal, mbah. Jujur, di titik ini, jikapun kami diberi kesempatan untuk berharap satu hal, kami bingung mau berharap agar dirimu bisa bermain sepenuh hati (nganti nggetih nek perlu), atau ya sudah dapat hukuman pengurangan poin -9 lagi saja.

Tulisan kiriman pembaca (AS)

Foto: PSIMJOGJA_OFFICIAL