Dewasa ini sepakbola tidak hanya dinikmati selama 2 x 45 menit. Ia telah mengisi hari-hari para pengemarnya setidaknya bisa kita lihat di lingkungan suporter PSIM. Ekspresi suporter tidak hanya kita lihat di dalam stadion tetapi juga di luar mereka meluapkan dengan cara mereka masing-masing. Luapan ekspresi ini yang membuat kita tetap hidup dalam bersuporter. Percayalah setidaknya saya sendiri percaya dengan hal tersebut.

Grafiti atau coretan mural adalah salah satu elemen yang sering kita jumpai di jalanan. Mulai dari yang sifatnya dikerjakan secara spontan atau yang dirancang secara khusus dengan mengerahkan beberapa orang. Seorang kawan berkata kepada saya, “sebuah kota sepakbola selayaknya mencitrakan klub lokalnya”. Hal ini merujuk suasana warna kota, seperti kota Nottingham yang memiliki kecenderungan dominan warna merah karena adanya Notthingham Forest yang bermain di level Championship.

Kembali lagi, lalu bagaimana dengan Jogja? Guyub Seni Mataram (GS Mataram) setidaknya mencoba mewujudkan itu. Mereka tidak sendirian melainkan ada beberapa suporter PSIM yang membentuk crew gambar sendiri. Pada Gumregah, GS Mataram mencoba mengumpulkan serakan arsip PSIM yang kita sendiri tidak tahu juntrungannya. Sebagai klub yang sudah berumur 90 tahun, arsip PSIM bertebaran dimana-mana.

 

Serakan arsip mulai dikumpulkan GS Mataram bekerja sama dengan suporter PSIM lain. Mereka mengemasnya dengan cara open submission lewat sosial media bagi siapa saja yang memiliki arsip PSIM khususnya foto graffiti/mural bertema PSIM dengan rentang tahun 2000-an. Hal ini juga menjadi perhatian GS Mataram bahwa pada masa itu kegiatan street art marak di Yogyakarta. Saya jadi teringat mural wajah pemain PSIM, Jaime Sandoval di perempatan Gayam beberapa tahun silam.

 

Gumregah merupakan awal mula bagi kita semua untuk kembali memaknai kembali sejarah PSIM. Rangkaian Gumregah di mulai dengan mural bareng salah satu tembok di sudut kota bersama para suporter PSIM. Selain menampilkan arsip foto, ada pula pameran seni dari pelbagai medium mulai dari kanvas, kayu, kertas, relief, plat dan desain grafis.

Pameran ini juga menyajikan Sticker Slap Party sebagai salah satu bentuk baru di ranah suporter PSIM. Mereka juga merespon jersey pemain PSIM dengan cara meresponnya dengan sentuhan street art sebagai bentuk apresiasi suporter kepada pemain. Terakhir, mereka miliki Wall of Hope sebuah medium partisipatoris bagi pengunjung mencurahkan harapannya kepada PSIM yang baru saja menginjakkan umur 90 tahun pada sebuah tembok di salah satu sudut ruang pameran.

 

Saya berharap akan terus ada inisiasi-inisiasi seperti ini khususnya dari suporter PSIM. Sepak bola akan mati tanpa ekspresi dari suporternya. Kendati Gumregah hanya berlangsung tiga hari, semoga inisiasi semacam ini dapat berlangsung dengan format setahun sekali atau dua tahun sekali. Apresiasi tertinggi kepada semua pihak yang telah membantu seluruh proses Gumregah dari awal hingga saat ini.

Pada akhirnya kita harus bertaruh pada cat tembok dan suara pylox. Selama masih ada semangat, ayo warnai kota!

Dimaz Maulana (pegiat bawahskor)