Putaran kedua Liga 2 tahun 2019/202 telah kembali bergulir, dengan regulasi transer window dijeda kompetisi, Laskar Mataram telah melakukan perombakan tim. Namun hasil dari perombakan tim belum maksimal, sejauh ini tim kebanggan masyarakat Yogyakarta masih menempati posisi keempat untuk sementara ini. Hasil yang kurang memuaskan karena dibekali pemain bintang tetapi permainan tim tidak sesuai dengan ekspektasi. Melihat dari hasil tersebut, para pendukung Laskar Mataram mulai risau apalagi target yang diusung tim besutan Aji Santoso adalah promosi Liga 1.
Pada musim ini, persiapan PSIM jauh lebih mumpuni dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berawal dari masuknya investor baru yang berani melakukan evaluasi dan gebrakan secara menyeluruh mulai dari tata kelola manajemen sendiri serta pembentukan tim yang lebih siap dengan mendatangkan pemain-pemain grade A. Maka para pendukung Laskar Mataram sangat antusias karena memasuki era baru dengan target utama mengembalikan kejayaan PSIM Yogyakarta.
Kebijakan-kebijakan manajemen sekarang sangat baik, dilatar belakangi oleh nilai jual PSIM yang prospek serta banyaknya penggemar tim asli Yogyakarta ini, manajemen mengembangkan PSIM Store dengan tata kelola lebih profesional karena industri modern sepak bola sekarang memerlukan kebijakan manajemen yang profesional guna menunjang kelangsungan tim secara jangka panjang. Kemudian manajemen memperhatikan pelaksanaan pertandingan mulai dari panpel pertandingan yang lebih terorganisir serta kemudahan dalam mendapatkan tiket pertandingan. Manajemen juga memperbaiki segi infrastruktur secara bertahap. Disisi lain secara tim, manajemen mendatangkan pelatih mumpuni sekelas Aji Santoso yang memilik pengalaman di kompetisi sepakbola nasional serta kebijakan transfer dengan mendatangkan pemain-pemain berpengalaman. Bagi pendukung Laskar Mataram dengan segala gebrakan yang dilakukan oleh manajemen, menumbuhkan rasa optimisme untuk lolos Liga 1 demi mengembalikan kejayaan PSIM Yogyakarta.
Seiring berjalannya waktu hingga putaran kedua sekarang, hasil kurang memuaskan didapatkan PSIM, tidak sebanding dengan ekspektasi yang ada. Persiapan tim yang matang dengan melakukan pemusatan latihan kurang lebih sebulan di Bogor, melakukan uji coba, perombakan pelatih yang berpengalaman serta mendatangkan pemain kelas kakap, namum kami dapat melihat sendiri permainan sangat jauh dari apa yang diharapkan. Maka kritik muncul disegala lini masa yang dilakukan oleh para pecinta bola PSIM Yogyakarta. Masih sangat diingat hingga kapanpun pada musim lalu, ketika Laskar Mataram harus memulai kompetisi dari -9, berbekal materi pemain yang dipandang sebelah mata oleh kompetitor kami, persiapan yang singkat serta segala persiapan teknis maupun nonteknis yang seolah-olah harus dipersiapkan dengan mendadak. Ya punggawa Laskar Mataram saat itu bermain dengan sepenuh hati bersinergi dengan para suporter setianya memperjuangkan marwah Laskar Mataram hingga titik terakhir perjuangan. Hasilnya PSIM mampu bersaing dan menjadi tim yang ditakuti pada kompetisi musim lalu. Apapun hasilnya hingga akhir musim pademan PSIM sangat mengapresiasi daya juang Laskar Mataram hingga muncul selogan “Kami Saksi Perjuanganmu” serta statment resmi dari akun official PSIM pada akhir musim “Entah, kata apa yang harus kami pilih, untuk menggambarkan perjalanan disepanjang musim ini. Tersuruk-suruk kenyataan pahit, hingga kemenangan penuh hingat-bingar, kita lalui bersama.” Namun pada musim ini sangat jauh dari apa yang telah dilalui pada musim lalu, perjuangan beberapa pemain yang bisa dikatakan tidak bermain dengan sepenuh hati serta pola permainan yang jauh dari standar yang pernah pecinta PSIM Yogyakarta lihat.
Sudah tidak ada waktu bermain-main, putaran kedua persaingan semakin ketat, ingat setiap laga yang dihadapi adalah final, buktikan apa yang telah kalian janjikan kepada kami. Jangan pernah main-main dan ragukan kecintaan kami terhadap Laskar Mataram, kami gak akan segan lagi bila tim kebanggan ini kalian permainkan. Perlu kalian ingat pula rohnya PSIM dari dulu sebelum kalian datang adalah kebersamaan dan kekeluargaan, karena kami tidak merasakan hal tersebut di musim ini. Salut bagi para suporter yang masih bersabar meski dikecewakan berulang kali, salam hormat bagi para suporter yang terus berteriak menuntut kemenangan demi mengembalikan marwah Laskar Mataram. Apakah liga 1 hanya mimpi? Mari kita kawal bersama.
Kesetiaan dan loyalitas kami tidak dapat kalian beli, kami akan kawal kebanggan kami hingga kapanpun. Yogyakarta memang berhati nyaman, namun bukan untuk kalian permainkan. OLEEE!!!

Kiriman pembaca – SBR