Antara Asa dan Nestapa, PSIM dari Generasi ke Generasi

Sore itu seperti biasa, pukul 15.00 mbah kakung mengeluarkan sepeda motor Astrea Prima dan bersiap untuk menuju Stadion Kridosono yang terletak di bundaran Kotabaru untuk menyaksikan sepakbola, ya apapun pertandingannya karena memang Kridosono pada jamannya menjadi spot yang benar-benar menjadi magnet bagi sebagian pandemen bola DIY, Bukan hanya karena menyajikan pertandingan Sepakbola-nya, namun hanya disanalah kita akan menemui Judi Bola Kertas Linting Warna Warni yang akrab disebut sebagai “Judi Pool” yang bahkan saya sampai detik ini tidak mengetahui bagaimana cara menang dan bagaimana pula menentukan yang kalah, wong lintingan kertas itu isinya cuma angka 1-10, hahaha.

Ya berawal dari sanalah saya yang setiap sore diajak mbah kakung ke Kridosono dan sedikit demi sedikit mulai mengenal sepakbola.

Seiring waktu berjalan, mbah kakung mulai mengajarkan saya tentang arti kebanggaan yang sangat saya syukuri sampai dengan detik ini karena diberikan kesempatan hidup dan dikenalkan sejak kecil ke sebuah tim bernama PSIM Yogyakarta. Betapa loyalitas dan totalitas saya dibanding beliau terhadap kebanggaan kami ini, saya benar-benar tidak ada apa-apanya!

……………………………………………………………………………………………………………….

Saat itu seharusnya setelah general checkup mbah kakung dianjurkan rawat inap di RS. Panti Rapih, namun apa yang terjadi ? Saat menunggu kamar siap untuk pasien, mbah kakung justru menyelinap dan melarikan diri, karena sepertinya mbah kakung memiliki sebuah hajatan yang tidak ingin dia tinggalkan, apakah itu ? Yah benar! kami sekeluarga sontak kaget menerima kabar dari eks pemain PSIM Roy Gasper, yang kebetulan indekos di salah satu rumah mbah kakung di Ratmakan, mengabarkan bahwa mbah kakung sudah duduk di Tribun Mandala Krida bersiap menyaksikan PSIM berlaga melawan Persikota, Haa? Apakah ini yang dinamakan Definisi “Terserah mereka kuhanya Cinta Mataram” versi mbah kakung saya.

Ini belum cerita2 lain sepanjang dia mendukung PSIM seperti Tragedi Kandang Menjangan, Sriwedari, Astrea Prima-nya tertukar dengan milik orang lain di Mandala Krida, Judi Pool PSIM, banyak sekali yang mungkin di kesempatan lain akan saya tuliskan juga.

Sedemikian besar cinta mbah kakung terhadap PSIM yang diwariskan kepada saya, hampir seluruh match home PSIM mbah kakung mengajak saya menonton di Tribun Barat VIP dekat VIP Box kaca sebelah kiri yang saat itu biasa untuk Siaran Pandangan Mata RRI, dia seolah tidak memperdulikan orang tua saya yang setiap hari berdebat karena mengajak saya menonton bola yang memang saat itu medio tahun 1995 – 2000an PSIM sangat sering bermain malam hari menjamu lawan-lawannya, padahal pagi harinya saya harus masuk sekolah. Bagi mbah kakung tongkat estafet memiliki rasa bangga terhadap PSIM harus selalu ditanamkan kepada siapa saja termasuk kepada saya, cucu kesayangannya, karena dari sekian banyak cucu hanya saya yang mau diajak ke Mandala Krida.

Namun awal tahun 2000, penyakit komplikasi yang berada dalam tubuh mbah kakung tak lagi bisa membuatnya hadir ke stadion, bahkan tidak lama kemudian dia meninggalkan saya untuk selamanya. Teringat betul bahwa siang itu hampir seluruh wajah pandemen sepakbola Kridosono yang saya kenal, rekan tribun Mandala Krida, Pakde Narno si pemilik lelucuan di tribun tertutup hingga tukang becak yang sering botoh judi dengan simbah. Semua melepas kepergian mbah kakung saya, Soerodjo Ananta Sudarmo, ke peristirahatan terakhirnya di Wonosari. Terpukul jelas apalagi asa mbah kakung saat itu hampir saja terjadi jika PSIM tak kalah selisih goal dengan Persela Lamongan di laga playoff di Solo untuk naik kasta Divisi Utama. Sekiranya 1,5 tahun saya tidak memiliki ketegaran untuk kembali ke Tribun Barat VIP agar tidak teringat mbah kakung. Sedih, menangis setiap kali membaca jadwal di koran bahwa PSIM akan berlaga, drop selama itu pula lah saya benar-benar tidak memiliki gairah menonton sepakbola.

Hingga pada akhirnya kesedihan itu pun akhirnya dijawab dengan keseriusan manajemen saat itu yang kembali mencanangkan target PSIM naik kasta tahun 2005. Saya mulai ke stadion lagi namun sebagai penghuni Tribun Terbuka Timur agar tidak teringat dan bertemu bayang-bayang mbah kakung.

Seperti mimpi yang menjadi kenyataan dan bisa jadi mbah kakung saya saat itu tertawa bahagia melihat kebanggaannya tidak hanya sekedar naik kasta namun “Juara di Tanah Jawara”. Stadion Si Jalak Harupat, Soreang seolah menjadi saksi saat Sumarjono dkk menggetarkan seantero DIY bahkan nasional karena berhasil mengalahkan tim unggulan Persiwa Wamena 2-1. Benar-benar realisasi jargon saat itu yang banyak ditemui di kaos-kaos laskar “PSIM PUNYA NYALI PANTANG MUNDUR”. Tetap maju meskipun bayang-bayang kegagalan 2 musim sebelumnya masih membekas di ingatan.

Begitu semua punggawa pulang dari Bandung, dilakukan penjemputan di Stasiun Tugu. Kala itu bergegas saya pakai sepeda motor Astrea Prima mbah kakung ikut konvoi yang dimulai dari halaman depan kantor Kedaulatan Rakyat. Menangis sepecah-pecahnya dan tak henti-hentinya saya berteriak “Simbahhhh, PSIM JUARA!!!”, berharap dia mendengar di Tribun Surga-Nya.

Momen itu, PSIM dan mbah kakung saya berhasil mengajarkan tentang keyakinan & keteguhan bahwa apabila keduanya dipatri dengan usaha maksimal di atas lapangan, segalanya akan terjadi termasuk ASA JUARA DAN NAIK KASTA.

……………………………………………………………………………………………………………….

Empat belas tahun berselang, PSIM saat ini sedang dalam proses transformasi untuk menjadi sebuah Klub yang mapan, baik secara manajerial maupun industri, seiring datangnya investor baru yang mungkin bagi saya sendiri sebuah kado indah untuk merayakan 90 tahun berdirinya PSIM.

Asa itu kembali muncul dengan target yang diusung manajemen baru yaitu #NaikKasta. Sebagai seorang suporter saya hanya bisa berlaku sewajarnya, mendukungmu, melihatmu dan membeli merchandise-mu. Selebihnya kembali ke para pemain yang berada di atas lapangan. Tentu banyak sekali simbah-simbah kakung lain di luar sana yang mengharapkan kebahagiaan untuk cucu-cucunya nya termasuk saya dengan melihat Laskar Mataram naik ke strata tertinggi sepakbola Indonesia.

Satu yang terpenting adalah, apakah PSIM masih Warisane Simbah? Dengan segala proses menuju sepakbola modern yang sedang berlangsung di tubuh tim ini. Ataukah sekarang sedang berada di antara Asa dan Nestapa? Asa untuk maju menuju puncak tertinggi dan kekhawatiran akan nestapa kegagalan, ekspektasi Pandemen PSIM tidak pernah setinggi ini sebelumnya.

Harapan saya dan mungkin banyak Pandemen PSIM lain, tetaplah menjadi PSIM yang nggetih agar kebanggaan yang selama ini dikenalkan dan diwariskan oleh simbah saya dan simbah-simbah supporter PSIM saat ini tetap tertanam kuat dari generasi ke generasi. Pantang mundur, kuat pada tekanan, bangun rasa kekeluargaan dan hilangkan jarak yang memisahkan antara suporter dan kebanggaannya, seperti yang sebelumnya selalu menjadi ciri PSIM. AKU YAKIN DENGAN KAMU!

Salam.

Tulisan Kiriman Pembaca oleh benard_trbntmr

credit foto: Instagram @Brajamusti_YK