Junius Bate keluar lapangan menyalami Aji Santoso. Tangannya menghampiri pelatih asal Kepanjen Malang namun tidak disambut olehnya. Pertahanan PSIM morat-marit, gol pertama tercipta di area Junius Bate sehingga pemain Sulut United, H. Lontoh berhasil memanfaatkan llimpungnya pertahanan PSIM.

Aji Santoso mengubah formasi pada pertengahan pertandingan. Bachtiar Machrus masuk menggantikan Junius Bate. Aditya Putra Dewa di dorong lebih ke depan. Gonzalez masuk seperti biasa pada babak kedua. Aldier yang diplot sebagai juru gedor sejauh ini kurang “mengigit” di depan barisan pertahanan Sulut. Gonzalez nyaris tanpa peluang berarti kecual satu sontekan yang mampu diblok oleh bek Sulut United. Andai saja, Ia lebih cepat dua detik saja maka bisa jadi PSIM mampu menyamakan kedudukan. Hingga menjelang akhir pertandingan selesai, malah Sulut United mampu mengandakan angka. Tim asal kota Manado itu unggul dua angka dari PSIM.

Mandala Krida begitu sepi. Laga kandang sebelumnya juga sama hanya sekitar 5000 penonton yang hadir. Begitu pula ketika menjamu Sulut United, tim papan bawah yang berusaha mencari zona aman di Liga 2. Mayoritas pemain Sulut merupakan pemain Bogor FC. Kita ketahui bersama bahwa usai Bogor FC ditinggal oleh investornya ke PSIM maka tim asal kota hujan tersebut mencari induk semang yang baru. Manado menjadi petualangan baru bagi tim yang berkandang di stadion Klabat.

Kembali ke tribun, PSIM tidak kunjung menemukan bentuk permainannya. Dua pivot PSIM yakni Ade Suhendra dan Sutanto Tan belum mampu menekan tim lawan. Rosi Noprihanis dengan ikat kepalanya tidak mampu berbuat banyak. Ichsan Pratama sampai harus turun jauh ke belakang untuk menjemput bola.

“Pak Bambaaaaaaaang, PSIM ojo nggo dolanan!” beberapa orang meneriaki ke arah tribun VVIP.

Entah apa yang merasukimu Laskar Mataram. Bermain di kandang mereka seperti memanggul beban berat. Jauh lebih berat dari musim-musim sebelumnya. Pertandingan melawan Sulut menurut saya merupakan gunung es dari semua ekspektasi kita selama ini. Rasanya sulit mengandalkan permainan seperti kemarin untuk di adu pada 8 Besar Liga 2. Lolos ke 8 Besar tentu PR pelatih dan manajemen semakin berat. Lihat saja perombakan pemain pada jeda kompetisi kemarin seperti tidak bisa berbuat banyak.

Kita sebaiknya mulai berhitung soal peluang PSIM. Jikalau tidak lolos 8 Besar sebaiknya manajemen memikirkan ulang baik komposisi tim. Serta aspek lainnya seperti harga tiket dan permasalahan teknisnya. Sebagai tim berjuluk Los Galaticos Liga 2 seperti yang digadang-gadang media sebelum kompetisi dimulai. Tim ini sudah terlanjur terbentuk sebagai tim “pocokan” dari tim tetangga yang musim lalu promosi ke Liga 1. Harapannya sudah pasti jadi jaminan untuk melenggang promosi. Tapi apa daya lihat saja sendiri permainannya. “Jadi kita ambil jalan yang mana, Mbang?”

Dimaz Maulana (pengiat Bawahskor)