Membelah kota Yogyakarta, dari sisi barat luar kota, melintasi riuh jalanan pada sabtu malam (bukan malam minggu layak nya anak muda berpadu kasih). Hari itu, 12 Mei 2018, saya memacu sepada motor matik bikinan Jepang menuju XT Square –sebuah gedung pertunjukan dulu nya adalah terminal bus Yogyakarta. Sebagai suporter PSIM “anyaran”, rasa girang tak berperi menggelayut sepanjang perjalanan (seperti kencan pertama yang tak jua menghampiri). Tujuan saya adalah satu, menghadiri sebuah acara gigs bertajuk From Terrace to The Stage (FTTS)

Kala itu, saya merasakan debur atmosfir yang serupa dengan saat berada di dalam stadion, untuk pertama kali nya. Memasuki venue FTTS, riuh suara musik berbalas dengan gemuruh teriakan para suporter sontak menghanyutkan diri saya dalam euforia “suporteran tanpa bal-balan tapi pang-pangan“. Ya, bukan “ndangdutan” seperti hajatan kelompok suporter PSIM pada umum nya, FTTS mengusung genre musik “Pang”. Band-band Punk seperti Straight Answer yang membawakan cover lagu dari Cock Sparrer yaitu We’re Coming Back, dan tentu saja tak ketinggalan Dom 65 dengan lagu Fortuna sebagai pamungkas. Sejak malam hari itulah, saya mulai menikmati musik “Pang-pangan”.

Kembali pada soal acara From Terrace to The Stage, gagasan perhelatan ini adalah memberikan panggung pada band-band lokal di Jogja, terutama yang memiliki lagu “bal-balan” (red. PSIM). Mereka melihat bahwa banyak kelompok suporter maupun individu pecinta PSIM membuat karya bertema PSIM, namun minim ruang ekspresi. Mereka, para penggagas FTTS merupakan orang-orang yang sebagian tidak asing bagi pecinta Laskar Mataram. Ada nama Angger –lebih dikenal sebagai punggawa PSIMstat– ada juga Ozi, Rheza dan lainnya.

Nama-nama tersebut, selama ini juga merupakan bagian dari Lamidet Society Yogyakarta. Sebuah komunitas pendukung PSIM yang berawal dari tongkrongan di daerah Pakualaman dan obrolan mereka berlanjut di teras Rumah Ozi dan Rheza. Mereka, anak nongkrong dengan ragam latar belakang, dari pengangguran hingga driver ojol dan rupa-rupa pekerjaan lain untuk menyambung hidup sebagai tekyan kota. “Sing mesti, yang menyatukan itu ya keresahan dan kegemaran yang sama, seng sambatane podo randedet, pengen dugem randedet yo mung lodse ngoplos, terus band-bandan“, ujar Ozi salah satu personel Lamidet sembari tertawa.

Bermula dari teman se-tongkrongan, Lamidet akhir nya terbentuk dan pada mulanya tidak spesifik komunitas suporter sepakbola. Saling menimpal, Rheza dan Angger menyatakan bahwa, “ini dulunya nggak spesifik ke sepakbola, tapi ya karena seleksi alam itu tadi jadi Lamidet Society Yogyakarta seng saiki, jadi ya natural, ora njuk open recruitment kudu ngene kudu ngono, ora. Ya ada yang nggak suka bola njuk jarang ngetok ada, yang nggak suka bola tapi tetap bantu acara ini juga ada banyak“.

Menengok ke belakang, bagi Lamidet menyelenggarakan acara serupa bukan hal asing. Tahun 2012 dan 2013, Lamidet pernah melakukan hal serupa, kala itu menyelenggarakan acara dengan tajuk Konspirasi Bawah Tanah –sebuah acara musik kolektif. Pertongkrongan yang semakin mengerucut pada persinggungan musik “underground” (dalam hal ini Punk dan rupa-rupa aliran nya -red) dan persuporteran lah yang kemudian melahirkan FTTS.

Lebih dari acara musik, acara FTTS bagi Lamidet adalah bentuk ungkapan keresahan pada realitas keseharian kehidupan khusus nya di Jogja. Bagi mereka, musik merupakan medium untuk mendorong pikiran-pikiran kritis lahir. Mereka mencontohkan lagu dari Since K.O berjudul Babak Fiksi Belaka, “Ora mung nangisi wedokan wae koyo wong ra nduwe masa depan“, ungkap Angger dengan mimik muka serius. Sejalan dengan hal tersebut, mereka juga menyitir soal UMR Jogja yang rendah, mereka menyatakan bahwa, “Sing cetho ya ngekei hiburan barang sih, ha saiki acara tiap sabtu minggu ki harga tiket 50ewuan keatas nek nggo wong UMR yojo kan yo eman to“.

Sampai dengan titik ini, lebih dari sebuah acara perhelatan musik, saya memberikan garis bawah dari cerita di balik penyelenggaraan FTTS. Pertama, soal latar belakang komunitas suporter PSIM yang mungkin juga penting untuk kita kaji ulang adalah mengapa tidak sedikit dari suporter PSIM mengidentifikasi diri sebagai Tekyan? Kedua, mengapa jagad suporter khususnya PSIM bisa terhubung dengan musik underground (Punk? secara musik atau ideologi? -red)? Menarik nya lagi, persoalan tersebut mungkin bisa kita hubungkan dengan satu frasa “randedet“.

Akhir kata, mari kita meriahkan acara From Terrace to The Stage 2019 pada tanggal 22 Desember 2019, dengan riang gembira. Berjumpa dan berdistraksi bersama sesama tekyan. Berkaca bersama untuk mengenali rupa diri yang tentunya untuk menata wajah suporter PSIM lebih baik.

*Saya menuliskan “Pang” untuk membedakan dengan Punk sebagai sebuah genre musik maupun ideologi. “Pang” yang saya maksud disini adalah merujuk pada anggapan umum tentang aliran musik, walaupun dalam hal genre musik, masing-masing genre memiliki ragam berbeda dan kekhususan nya sendiri.

Yodab – fafa/arda