Yogyakarta dengan segala hiruk pikuk pariwisata nya selalu menyajikan sesuatu yang bisa dibicarakan, baik itu hal hal yang positif maupun negatif. Dari mulai isu mahalnya tarif parkir, destinasi rekreasi baru, hotel dan sampai dengan gelombang besar wisatawan yang pada akhirnya justru berdampak pada macet nya lalu lintas di beberapa ruas jalan besar yang ada di Yogyakarta. Terkait fenomena tersebut, melalui sebuah hajatan Gigs atau Konser Musik sebuah komunitas supporter sepakbola dari Kota Yogyakarta yang bertajuk From Terrace to The Stage akhir Desember 2019 lalu ada hal menarik, ketika audience pun turut andil menyampaikan kritik melalui banner yang terpasang di panggung utama gelaran musik tersebut, “Tourism Kills The City “ bunyinya.

Saya rasa sebagai warga Kota Yogyakarta yang sangat mencintai Kota ini, sayapun merasakan keresahan yang mereka ungkapkan lewat banner tersebut. Sah saja menurut pandangan kebebasan berekpresi sejauh diungkapkan pada tempatnya. Lalu sebenarnya indikasi apa saja yang bisa menjadikan kritikan tersebut sesuai dengan fenomena hari ini?, sehingga harus frasa “membunuh” yang dipilih. Seperti kita tahu bahwa Moratorium atau Izin mendirikan Hotel di Kota Yogyakarta yang sejak tahun 2014 dijalankan, kabarnya awal Januari 2019 lalu sudah dicabut kembali oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, yang berarti akses perizinan mendirikan Hotel di Kota ini telah dibuka kembali. Moratorium terbuka dengan opsi terbatas yaitu hanya hotel jenis bintang 4 dan 5 yang dibuka akses perizinan nya. Menurut kutipan artikel Harian Republika tanggal 2 Januari 2019 mengatakan bahwa IMB pendirian hotel baru yang sudah proses ada 16 ijin sehingga bisa dikatakan Kota Yogyakarta pada tahun 2019 akan memiliki setidaknya 5-10 Hotel Baru. Ironis jika pembangunan hotel ini tidak disertai dengan kenaikan upah buruh atau pegawai yang biasa kita sebut dengan UMK ( Upah Minimum Kabupaten/Kota ) sebesar Rp.2,004,000/bulan untuk Kota Yogyakarta,  belum lagi dampak lain seperti sumber daya alam berupa air bersih yang cepat atau lambat akan segera berbagi dengan korporasi dan hotel baru, Pemerintah harus senantiasa menjamin tersedianya distribusi air bersih yang lancar dan cukup untuk warga nya.

From Terrace to The Stage sejatinya adalah sebuah konser atau festival music komunitas suporter sepakbola yang biasa digelar saat musim kompetisi sepakbola berakhir, namun lepas dari apapun, saya pribadi sangat mengapresiasi pola pikir mereka yang peka nan kritis terhadap isu sosial dan ekonomi yang sedang terjadi di sekitarnya. Jika dikaitkan dengan sejarah maka mereka ini memang sedang kembali pada memori bahwa “Sepakbola adalah alat perjuangan”, solidaritas dan perjuangan sekecil apapun harus selalu terselip dalam setiap dukungan kepada tim kebanggaanya.

Menarik jika kemudian pola pikir kritis ini dihubungkan dengan keinginan investor baru yang mengakuisisi klub kebanggaan mereka sebut saja PSIM Yogyakarta. Disamping investasi bisnis yang sedang mereka rintis di tim ini, investor tersebut juga ingin memperkenalkan PSIM dan Kota nya sebagai sebuah produk Sport Tourism yang akan mulai disosialisasikan dalam waktu dekat. Lalu produk Sport Tourism seperti apa yang sebenarnya hendak mereka kenalkan kepada wisatawan yang berminat datang ke Kota ini ? apakah kita sudah siap menerima realita bahwa tim yang kita dukung menjadi bagian daripada isu yang selama ini kita kritisi ? Pariwisata. Yogyakarta memang memiliki segala aspek Sport Tourism jika dilihat dari kontribusi infrastruktur dan histories, sehingga sangat potensial untuk dimaksimalkan. Kehadiran bandara baru di Kulonprogo, Wisma PSSI sebagai bagian dari sejarah berdirinya PSSI dan selesainya Renovasi Stadion Mandala Krida akan menambah kemudahan dalam mewujudkan destinasi Sport Tourism seperti yang mereka design. Terakhir Yogyakarta juga dipilih oleh PSSI menjadi opsi venue untuk penyelenggaraan Piala Dunia U20 pada tahun 2021 mendatang.

Apakah ini momentum PSIM melalui suporternya mampu mendorong pemerintah kota untuk meninjau kembali kebijakan kebijakan publik yang selama ini mungkin kurang berdampak positif bagi sebagian warga Kota ? atau justru sebaliknya PSIM menjadi tantangan untuk berpikir kritis dari para pendukung nya sendiri. Kenyataan ini tidak lantas mengesampingkan dampak ekonomi dari pariwisata untuk warga, karena dari sebagian besar supporter pun ada yang bekerja dan mencari nafkah dari sana. Namun menjadi sulit untuk tidak mengatakan bahwa hari ini Jogja sudah sedikit jauh dari kata nyaman dan layak untuk destinasi wisata jika berkaca pada akses dan kelancaran lalu lintas nya.

Hari ini tepat 1 tahun sejak moratorium mengenai IMB dan Izin perhotelan dibuka kembali, adakah refleksi & evaluasi yang harus dikaji dan dibenahi ?. Perlu diskusi panjang dan pemikiran pemikiran dari berbagai pihak untuk bisa mewujudkan cita cita Yogyakarta Sport Tourism ( Untuk Siapa ? ) ini.

Sampai lupa, PSIM hari ini belum memiliki pelatih baru, apakah ini menjadi bagian dari Sport Jantung pendukungnya ? daripada menunggu pelatih yang tak kunjung tiba, mari menjalani destinasi pariwisata berikutnya.

Salam,

Benard, Event Enthusiast dan Penggemar PSIM Yogyakarta

Bisa disapa di akun twitter : benard_trbntmr