Sandi Firmansyah menjadi salah pemain yang jatuh bangun menghalau bola masuk ke gawangnya. Salah satu gerakannya adalah ketika berusaha menepis sundulan pemain Sriwijaya FC yang mengarah ke sudut kiri gawang. Bola jatuh melebihi tiang gawang, Sandi meloncat tidak mampu meraih bola. Ia terpelanting jatuh ke dalam jaring. Ia terduduk. Lelah. Berkali-kali Rudiyana dkk. menggempur habis pertahanan PSIM.
PSIM sudah tertinggal lewat Rudiyana setelah melepaskan kawalan Hendra Wijaya dan Purwaka Yudi. Ia dua langkah lebih depan dari dua pemain gaek PSIM. Sepakannya meluncur ke gawang Laskar Mataram.
Mas Seto nampak mencari solusi atas tumpulnya barisan depan Supriyadi ‘Eeng’ – Musafri – Slamet Budiyono. Eeng ditarik keluar digantikan oleh Nanda. Secara menit terpisah Slamet digantikan oleh pemain muda asal Bantul, Yudha Alkanza.
Benar solusi Mas Seto cukup berjalan, umpan Yudha ke sisi kiri pertahanan Sriwijaya FC mampu diolah olah Yoga Pratama. Umpan tarik Yoga ke depan gawang Sriwijaya FC mampu dimanfaatkan oleh Musafri.
Pada babak pertama PSIM harus menarik Tegar Herning yang mengalami cedera. Yoga Pratama masuk mengisi lini tengah bersama dengan Baasith.
Menjelang turun minum PSIM masih mampu menahan tuan rumah. Cukuplah satu poin untuk dibawa pulang ke Jogja. Usai pertandingan pekan pertama Liga 2 seyogyanya PSIM melawat melawan Babel United di Musi Banyuasin namun karena wabah Corona tim ini akan kembali ke Jogja. Namun sayang seribu sayang, tim tuan rumah mampu mendapatkan penalti setelah wasit, Rio Permana Putra menilai Risman Maidullah melakukan handsball di kotak penalti. Padahal jika dilihat dari tayangan ulang bola itu membentur kepalanya. Asisten Wasit 1, Yudha Dwi Cahyono yang sebelumnya memberikan isyarat bahwa itu merupakan tendangan gawang bagi PSIM.
Wasit berlari menghampiri asisten wasit di sisi kiri pertahanan PSIM. Ia nampak berdiskusi, para pemain Sriwijaya FC mengerubunginya seraya ikut mempengaruhi bahwa kejadian tersebut adalah pelanggaran yang dilakukan PSIM. Namun jika dilihat juga bahwa pemain Sriwijaya FC terlihat offside.
Aneh betul keputusan wasit sore itu. Ia menunjuk titik putih untuk tim tuan rumah. Stadion terdengar bergemuruh saat itu. Tuan rumah mendapatkan penalti. Giliran pemain PSIM memprotes, Risman yang terlibat langsung juga turut memprotes keputusan wasit. Sandi Firmansyah juga mendekati kerumunan itu. “Demi Allah, itu tidak penalti” suaranya sayup sayup terdengar dari layar kaca.
Aku yang melihat dari layar kaca nampak gugup. Kita hampir saja dapat satu angka di Palembang sebelum liga ini diliburkan. Eksekusi penalti Rahel mampu menipu kiper PSIM. Andai Sandi Firmansyah mampu menepis tendangan penalti itu mungkin ceritanya akan lain. Banyak keputusan berani yang dilakukannya selama pertandingan tadi. Cara mengambil bolanya cukup serampangan. Ada satu momen ia mencoba memotong bola namun gagal, bola sudah lebih dulu memantul ke gawang yang sudah melompong. Beruntung bola itu jatuh di belakang gawang. Momen yang lain ketika ia mendorong bola keluar kotak penalti. Terjadi kemelut di sana. Sekali lagi ia beruntung dengan keputusan itu. Wasit hanya mengganjarnya dengan kartu kuning.
Pertandingan berakhir hingga menit ke-100. Tambahan empat menit dari wasit pun menjadi berlipat ganda. Pertandingan benar-benar selesai setelah tuan rumah unggul atas tim tamu. “Wes maghrib, rampung pertadingane” peluit ditiup. Ujian pertama Mas Seto.

Dimaz Maulana (pegiat Bawahskor)

Foto: @psimjogja_official