Skeptis menjurus kesal mungkin judul yang kami angkat pada artikel kali ini. Sebelumnya kita tentu saja memberikan apresiasi kepada operator liga yang akhirnya sanggup memberikan kepastian jadwal pertandingan. Terkait sering berubahnya jadwal pertandingan dan pertandingan yang dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa ada alasan yang spesifik seperti cuaca atau force majeure lain.

Kembali ke judul yang pada akhirnya menjadi sebuah kenyataan lucu, akhirnya melahirkan prasangka ragu ragu atas kualitas kompetisi yang seharusnya bisa menjadi representasi timnas di ajang internasional. Agak teoritis dan retorika jika kemudian membandingkan kualitas liga sepakbola kita dengan kualitas liga di Eropa, yang memang Sepakbola di sana rasanya sudah bisa seiring sejalan antara bisnis dan prestasi nya, minimal dari segi tata kelola kompetisi dan level kepercayaan sponsor serta suporter nya.  Namun apakah lantas kita akan terus menjadi bangsa atau suporter yang tidak ingin menikmati sepakbola yang baik dan sehat di negara sendiri? Sebelum jauh berpikir tentang tata kelola, lebih baik kita coba melihat yang terdekat dahulu dengan bercermin ke model atau misi manajemen klub yang ada di Indonesia, dimana sebuah klub professional selalu berdiri diatas 2 pilar yang kita sebut management dan sponsor.

Seperti kita ketahui bersama bahwa sejak lahirnya Peraturan Menteri Dalam Negeri No 1 Tahun 2011 tentang larangan penggunaan dana APBD untuk kegiatan sepakbola professional dirilis mengharuskan seluruh klub yang bernaung di bawah federasi PSSI harus segera bertransformasi menjadi sebuah klub yang mandiri dengan memaksimalkan segala aspek yang ada di klub tersebut. Kenyataan ini membuka peluang investasi dan potensi bisnis lain yang sebenarnya bisa menjadi awal sebuah pengelolaan liga yang baik. Mengelola uang sponsor, memaksimalkan pendapatan dari hak siar tentu akan sangat menguntungkan klub yang bisa memaksimalkan hal tersebut.

Tetapi ternyata yang terjadi sepertinya masih jauh dari misi professional yang sesungguhnya.

Drama apakah sebenarnya yang sedang disajikan oleh beberapa klub di Indonesia saat ini, sebut saja PS Tira Persikabo yang sedang bersengketa dengan Persebaya mengenai keabsahan pemain atas nama Abduh Lestaluhu yang sama sama berkeyakinan memiliki hak atas pemain tersebut , hal ini sungguh memicu pertanyaan, sudah era professional namun kenapa isu yang muncul di publik bahwa pemain yang bersangkutan adalah seorang anggota TNI aktif  yang selalu memegang teguh surat tugas dari kesatuan. Operator harus clear menyelesaikan sengketa ini jika memang asas professional yang selama ini mereka galakkan kepada klub bersifat mutlak. Karena bagaimana mungkin sebuah klub dikatakan professional jika dalam sistem rekrutmen pemain masih menggunakan ikatan dinas dari institusi negara sebagai sebuah pegangan, hal ini tentu akan menjadi trigger FIFA untuk melakukan investigasi lebih dalam.

Dari sengketa pemain mari kita lihat potret lain manajemen klub yang katanya sudah masuk era professional, dimana ada asas take and give yang harus disepakati antara klub dengan sponsor. Seperti kita lihat dari seluruh klub sepakbola yang ada di Indonesia hampir seluruhnya bisa dikatakan sudah berlabel sponsor di jersey masing masing sehingga logika kita lantas mengarah kepada bisnis to bisnis yang sedang mereka jalani. Namanya saja juga sponsor, pasti goals-nya adalah untung baik dari sisi brand awareness maupun secara naluriah yaitu uang! Nah, namun pertanyaan yang selalu timbul di benak penulis, Jangankan uang, lha kadang kadang pertandingan pun sering digelar tanpa penonton? Bagaimana mungkin alih alih mendapat brand awareness, justru yang didapat ujung ujungnya hanyalah stok photo yang di publish di social media official masing masing klub. Apakah signifikan model brand awareness seperti itu?

Terhangat adalah mundurnya pelatih PS Sleman yang isunya tidak mendapatkan keleluasaan dari sisi teknis sehingga mundur dari kursi kepelatihan hanya 5 hari jelang kickoff Liga 1 2020, hal ini juga menimbulkan pertanyaan, Apakah sponsor tidak khawatir dengan pergantian pelatih ini yang tentu saja program latihan yang sudah di bangun menjadi useless, padahal liga hanya terhitung beberapa hari ke depan dimulai, tentu saja hal ini sangat berpotensi menjadikan PS Sleman menjadi tim yang gamang di awal musim karena metode kepelatihan pelatih baru sudah pasti berbeda dengan pelatih sebelumnya. Disini logika bisnis sponsor seharusnya muncul menjadi sebuah kekhawatiran bahwa performa permainan di atas lapangan pasti akan berdampak pada atensi penonton atau suporter untuk hadir di stadion sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan dari sisi brand awareness atau tentu saja nominal jika mereka memiliki kesepakatan brand activities (booth) di sekitar stadion saat pertandingan berlangsung.

Sudah habis? belum, yang paling lucu adalah Madura United yang melepas salah seorang pemainya yaitu Brian Ferreira, lepas dari rumor yang beredar mengenai benar atau tidaknya tentang kondisi fisik Brian yang turun sehingga akhirnya dilepas, bahwa memang kabar terakhir sebelum akhirnya di-kontrak Madura United pemain yang bersangkutan memang dilepas oleh PS Sleman karena cedera yang mengharuskan menepi lebih awal sebelum kompetisi musim 2019 lalu selesai. Namun perhatian kita tidak lantas tertuju di sana karena sudah pasti ada hak sponsor kepada pemain yang bersangkutan dari sisi branding, bukan cerita baru jika terkadang klub mengontrak pemain tidak saja dari faktor teknis namun juga dari sisi branding yang ingin diekploitasi dari pemain tersebut, sehingga mengontrak pemain demi menaikkan pendapatan dari sisi penjualan jersey yang sudah pasti berdampak pada exposure sponsor yang tertera pada jersey. Dari hal ini sekali lagi melahirkan tanda tanya. Sebenarnya apakah misi manajemen klub dan sponsor yang sedang berbisnis atau berinvestasi di sepakbola Indonesia hari ini? Pemain yang sudah dikontrak sudah ada yang dilepas bahkan kompetisi saja belum dimulai.

Hanya mereka (manajemen dan sponsor) yang tahu tentang “kesepakatan” di antara mereka di tengah realita dan drama klub hari ini, apakah memang kondisi persepakbolaan di Indonesia seperti kenyataan di atas  sudah menjadi salah satu paket konsekuensi kerjasama yang nantinya akan dihadapi bersama? kalau sudah begini sebenarnya apa yang mereka cari di Sepakbola Indonesia? karena sungguh benar adanya, jika dari Liga dan Klub yang memiliki visi misi luhur untuk kemajuan prestasi dan tentu saja bisnis pasti akan berbanding lurus dengan performa timnas Indonesia di level Internasional.

Skeptis lagi? Tidak, semoga awalan yang baik dengan kepastian jadwal yang dirilis oleh Operator Liga bisa memberikan optimisme kepada seluruh komponen yang aktif di persepakbolaan Indonesia, bahwa Federasi melalui Badan Liga Indonesia serius ingin meningkatkan kualitas kompetisi yang akhirnya bermuara pada penampilan Tim Nasional pun demikian perpaduan manajemen dan sponsor bisa memaknai profesionalisme dengan sesungguhnya yaitu sukses prestasi dan sukses bisnis.

Salam,

Benard, Event Enthusiast dan Penggemar PSIM Yogyakarta.

Bisa disapa di akun twitter : benard_trbntmr