“Jangankan museum, belajar sejarah menjadi pekerjaan rumah yang berat”

Perjalanan membawa saya berkeliling Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara sampai Eropa mengamati sepak bola. Setiap kali berkunjung ke lapangan, stadion, mes pemain, hingga museum selalu memberikan pengalaman dan tentu pengetahuan baru. Melihat situs itu seperti membayangkan kejadian yang terjadi pada masa lampau. Membayangkan sepak bola dimainkan baik di lapangan atau stadion.

Kamar mandi yang rusak, rumput tinggi nan hijau dan jemuran yang terpasang di pojokan stadion. Papan skor yang besinya sudah berkarat sampai fasad stadion yang terkadang berbagi ruang dengan para pedagang kaki lima nyaris menutupi kemegahan jejak kejayaan. Bagian tribun tua dengan bantalan kayu lapuk sebagai kursi merupakan jejak bagaimana masyarakat memaknai sepakbola.

Pengalaman lain seperti mengunjungi National Museum Football di kota Manchester membawa pengalaman tersendiri. Saya hampir menghabiskan 2,5 jam. Setiap lantai saya amati satu persatu. Bagaimana mereka menyajikan narasi yang dikemas dalam koleksi-koleksi mereka. Deretan Jersey bersejarah dari George Best hingga Edwin van de Sar ada di museum ini. Foto-foto yang dicetak dengan berbagai macam dengan display yang interaktif. Secara umum museum ini sangat informatif dan bisa sebagai medium edukasi untuk semua kalangan umur.

Sepulang dari museum diperjalanan ke penginepan saya bergumam, “kira-kira kapan ya kami (PSIM) punya museum seperti itu?” mungkin kah?” Arsip PSIM tersebar dimana-mana. Koleksi jersey entahlah apakah PSIM sebagai klub juga turut menyimpan minimal satu stel tiap jenis jerseynya? Lalu tropi yang pernah diperoleh masih tersimpan? Ah, saya pernah melihatnya ketika perayaan Brajamusti beberapa tahun silam.

Lalu jika tidak ada semua artefak itu, apa yang bisa dilakukan? Museum alternatif adalah jawabanya. Museum saat ini telah berkembang ke dalam bentuk yang bermacam-macam tidak melulu mengawetkan benda-benda seperti jersey, sobekan tiket pertandingan, plakat penghargaan, tropi hingga foto-foto pertandingan masa lalu. Ingatan kolektif dari suporter, pemain dan pengurus bisa menjadi awalan untuk merangkai museum.

Inisiatif semacam ini menurut saya harus dimulai baik dalam tataran suporter maupun tingkat klub. “Kita bikin prestasi dulu baru museum, buat apa bikin museum kalau belum ada sesuatu (tropi) yang dipajang” celetuk Efendi Syahputra. Museum dipahami sebagai glorifikasi penguasa pada zaman tertentu. Menilik PSIM, bukankah kita memiliki rekam jejak yang tidak bisa dipandang sebelah mata bukan?

Sejarah mencatat bahwa Cirebon 1986 merupakan saksi dimana Maryono dkk. gagal melewati ujian dadakan PSSI dalam tajuk play off promosi degradasi. Format dadakan ini dilakukan PSSI ketika dua tim Divisi I yakni PSIM dan Persiba Balikpapan sudah pasti promosi harus berhadapan dengan tim degradasi dari Divisi Utama Persija Jakarta dan Persema Malang.

Empat tahun pasca Playoff 1986, lagi-lagi Maryono Cs. harus menangisi kegagalan PSIM yang kalah dalam Semifinal Divisi I. Mereka menjadi saksi bagaimana Persema dan Persijatim Jakarta Timur promosi ke Divisi Utama Perserikatan di Mandala Krida. Dari cerita itu bisa kita lihat bahwa PSIM tidak hanya melulu tentang kejayaan dan kemenangan. Cerita kekalahan dan haru biru perjuangan Laskar Mataram menjadi bagian yang harus diketahui oleh para pendukungnya.

PSIM punya sejarah panjang. Arsip demi arsip mulai saya buka sejak sewindu yang lalu. Rangkaian panjang cerita perjalanan Laskar Mataram masih jauh dari kata lengkap. Jangankan mendekati angka tahun 30-an dimana tim ini baru dibentuk. Saya sendiri masih buta apa yang terjadi dengan PSIM medio 70-an. Pada titik ini saya menyadari bahwa saya masih belum paham tentang sejarah PSIM. Ya, PSIM yang selalu melabelkan angka tahun 1929. Lawas tenan. PSIM salah satu pendiri PSSI juga. Namun sayang makam tiga orang pendiri, Daslam Hadiwasito, Abdul Hamid, dan Muhammad Amir Notopratomo yang ikut serta dalam rapat awal pembentukan PSSI juga tidak saya ketahui dimana rimbanya.

Dimaz Maulana, pegiat Bawahskor

Arsip foto: Berita Nasional, 1986.