Komunitas Motor (berbasis) Suporter Klub Sepakbola

“No Leader Just Together”, kira kira begitulah slogan yang diusung oleh basis suporter yang memiliki kebanggaan klub sepakbola dari DIY ini. Timeline sosial media hari ini sedang ramai atau cenderung lebih “berisik” dari biasanya, tak lain karena kontroversi terkait munculnya beberapa komunitas motor yang mengatasnamakan salah satu basis suporter sepakbola yang slogan nya disebut kan di atas. Tidak sekedar kehadiran nya saja yang lantas membuat suasana timeline menjadi berisik namun jelas raungan knalpot yang kabarnya sempat meresahkan beberapa warga saat jalanan-nya sempat dilintasi oleh konvoi komunitas motor tersebut, saat melakukan Kopi Darat atau disingkat “Kopdar”.

Kurang bisa dipahami apa visi dan misi pembentukan komunitas komunitas baru motor tersebut. Jelas baik jika spiritnya adalah untuk mengisi kekosongan jadwal kompetisi dengan kegiatan positif atau malah sharing session sekalian terkait masa depan klub yang mereka dukung. Bukannya para pemain kebanggaan sedang dilanda keterlambatan gaji seperti yang diberitakan media massa beberapa hari lalu? atau mengulang forum besar terkait agenda boikot nya? mungkin itu lebih berfaedah sepertinya.

Di tengah masa pandemi yang sedang serba sensitif seperti ini, hanya sekedar keluar rumah membeli kebutuhan sehari-hari saja jelas ada protokol kesehatan nya, lalu apakah yang ada di benak mereka ini ketika melakukan kopi darat kemudian dilanjutkan dengan konvoi bersama-sama?

Ada 3 alasan kenapa sebaiknya kegiatan komunitas atas nama basis suporter ini bisa dikatakan tidak berfaedah dan lebih baik disudahi sebelum terlambat. Krisis Identitas, Potensi Konflik Baru, dan Citra Komunitas Motor.

KRISIS IDENTITAS
Mereka selalu membawa slogan tambahan dan hashtag #oramuntir yang jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti “Tidak Takut/Mundur”. Di satu sisi mereka selalu merasa pride mereka berlipat ketika mengatakan Ora Muntir, namun di sisi lain basis suporter nya yang dinaungi memiliki MANIFESTO! No Leader Just Together, Bagaimana mungkin dikatakan Ora Muntir jika sekedar menunjukkan identitas saja mereka Malu-Malu Mau. Malu-Malu Mau? Di saat semua sorot media memuji kreatifitas di level tribun atau curva saat berkoreo, siapapun akan mendaku Saya B*S dari curva bla…bla..bla..HAHA, Di lain kesempatan ketika ada sedikit saja insiden baik saat di lapangan maupun di luar lapangan mereka akan beramai-ramai mengatakan “oknum”, “Ha piye mosok iso ngawasi wong sakmono akehe mas?”. Kira kira begitulah argumentasi yang selalu muncul.

Hal ini yang terlihat menjadi bias dan berbahaya ketika Basis Suporter Sepakbola di bawa ke ranah Komunitas sepeda motor yang jelas sepeda motor berbasis Merek notabene bersifat Public Needs (Kebutuhan umum), semua orang sanggup dan bisa membeli sepeda motor merk tertentu tanpa harus menjadi suporter bola.  Terbayang kah ketika salah satu anggota komunitas itu memanfaatkan untuk hal hal yang tidak baik di jalanan? sedangkan manifesto yang selama ini mereka ugemi adalah “Mboten Wonten Ketua, Sedanten ugi sesarengan”? dan lagi lagi mengatakan oknum? di sinilah Krisis Identitas itu menjadi celah bagi siapapun untuk bisa berlaku negatif, namanya juga manusia pasti memiliki 2 sisi kehidupan baik dan  buruk.

POTENSI KONFLIK BARU
Kok bisa dikatakan berpotensi konflik baru? Jangan pernah menutup mata bahwa fenomena kriminal jalanan di Yogyakarta itu intensitas nya lumayan tinggi. Fakta klitih, Geng Motor, Geng Sekolah itu adalah variabel tertinggi terciptanya kriminal jalanan, jangan sampai kehadiran komunitas sepeda motor berbasis suporter klub sepakbola seperti ini menjadi variabel berikutnya hanya karena para anggotanya tidak mematuhi peraturan di jalan raya dan tidak memahami protap konvoi yang sudah di sosialisasikan oleh bapak bapak kepolisian dari divisi Voorijder.  Semua ada aturan nya! Jangan karena tidak memiliki organisasi resmi, tidak memiliki “leader” lalu kemudian bebas liar membentuk underbow-underbow baru hanya untuk menunjukkan eksistensi dan hegemoni klub sepakbola yang di dukung.

Masih ingat pesan Bapak Kapolres bukan? Kalian besar di Stadion, bukan di Jalanan.

Sudah baik aktifitas mereka main kertas dan bernyanyi suara perut saja! Sebaiknya hindari kesan suporter merangkap sales ber-jersey, HAHA. Seselo itu kah hidup di tengah pandemi seperti ini, hingga memilih beli bensin hanya untuk kopdar atau konvoi lalu ujung-ujungnya melanggar protokol kesehatan yang dicanangkan pemerintah?

CITRA KOMUNITAS MOTOR
Seperti yang kita ketahui bahwa di Indonesia memiliki Organisasi besar sebagai induk untuk bernaung komunitas motor bernama Ikatan Motor Indonesia (IMI), bahkan keberadaan organisasi ini diakui oleh Negara. Kalau mau berorganisasi jangan nanggung sehingga bukan hanya kegiatan hore-hore dan tidak berfaedah saja yang pada akhirnya ditangkap masyarakat. Dari keseriusan ini mungkin komunitas motor berbasis klub sepakbola yang di usung justru bisa menjadi pioneer bagi suporter lain, meskipun sebenarnya tetap kurang esensial dari sisi filosofi nya. Bagaimana mungkin suporter sepakbola yang selama ini kita kenal berasal dari latar belakang dan strata ekonomi yang beragam, ada yang naik sepeda bahkan jalan kaki tiba tiba melihat rekan rekan nya yang lain datang ke stadion dengan komunitas baru nya yaitu sepeda motor. Ultras kan? Jangan kebanyakan narsis, Corteo ke stadion mungkin lebih greget.

Selain tidak esensial dari sisi filosofi mungkin dari aspek citra komunitas sepeda motor yang lebih dulu eksis seperti JAVACOMM (Jogja Vario Community), IMBI (Ikatan Motor Besar Indonesia), atau HDCI (Harley Davidson Club Indonesia) dll, mereka sudah terbiasa dengan rapih dan detailnya sebuah pengelolaan organisasi sepeda motor dan akan menjadi catatan tersendiri jika disandingkan, karena komunitas sepeda motor berbasis suporter sepakbola ini segala aktifitas anggota nya sulit dimonitor dan dikontrol, rentan gesekan di jalanan dan pada akhirnya menjadi kompleks jika ternyata bergesekan dengan komunitas motor yang resmi.

Disinilah citra Komunitas Motor dipertaruhkan, yang satu resmi dan yang lain lagi berbasis suporter, namun sama sama mengatasnamakan komunitas sepeda motor berbasis merek yang sama. Dari pertimbangan apapun mungkin jelas yang resmi pasti akan paling mudah disalahkan meskipun benar, karena lebih mudah diidentifikasi secara keorganisasian, selain resmi  juga dari aspek legal hukum tercatat di IMI, disinilah point sebenarnya urgensi kepemimpinan nya.

Lalu kenapa yang dibahas sisi negatif nya melulu yaa? Masa iya ga ada baik-baik nya sedikitpun dari munculnya fenomena komunitas sepeda motor berbasis klub sepakbola ini? Sejauh ini memang belum ada, bagaimana mau dikatakan baik jika dari cara mengelola organisasi saja tidak berlabel resmi? apakah eksistensi hanya bisa diukur dari kuantitas saat kumpul-kumpul? Mulai lah, bikin satu wadah atau induk besar khusus mengelola komunitas sepeda motor berbasis suporter ini, bikin konggres untuk melahirkan satu struktur organisasi baku yang memiliki AD/ART yang jelas, Siapa Pemimpin nya, Siapa Sekjen nya, Siapa Ketua Harian nya, Siapa Humas nya, Siapa Bendahara nya, andaikata perlu bisa didaftarkan sekalian pada satu badan hukum resmi, itu kalau kawan-kawan komunitas ini ingin dinilai baik dan positif.

Oh iya!, mau ngasih kabar kalau di belahan kotamadya sana ada satu  komunitas Gabur Doro (Burung Merpati), yang punya slogan #seduluranmergodoro. Mereka malah jelas komunitas hore-hore dan isinya sebenarnya para penggila bola juga seperti komunitas sepeda motor berbasis suporter sepakbola ini, tapi yang berbeda mereka tidak melabeli komunitas ini dengan menyematkan nama wadah/basis suporter sepakbola. Karena bagi mereka memang kehidupan ber suporter tidak selucu dan senarsis itu sih. Mau gabung?

Akhir kata semoga tulisan ini tidak dilabeli #paitansengit, karena saran dan kritik itu sejatinya wujud rasa kasih dan sayang yang interpretasi nya tidak selalu harus berjabat tangan dan berpelukan.

SEKIAN.

Kiriman pembaca – trbntmr