Dimz, teman-teman Legend ngajak bikin pameran
di Ulang Tahun PSIM 91 Tahun, aku ajak kamu ya!”

Ajakan FX. Harminanto –mantan pemain PSIM- kepada Dimaz Maulana melalui pesan seluler sore itu, seolah menjadi pembuka kerja bersama antara para mantan pemain PSIM (PSIM legend –red) dan beberapa komunitas supporter PSIM. Bukan hal mengherankan jika Harmin mewakili para legenda PSIM mengajak Dimaz Maulana untuk mewujudkan keinginan menggelar pameran relics para mantan pemain PSIM untuk menyambut HUT PSIM ke 91. Sudah lebih dari sepuluh tahun Dimaz Maulana bergelut dengan arsip dan sejarah sepakbola khususnya PSIM.

Bermula dari keinginan PSIM legend untuk menggelar pameran tersebut, Dimpil –panggilan Dimaz Maulana- bermodalkan ragam referensi museum sepakbola baik di Asia Tenggara maupun Eropa dan  pengalaman menggelar beberapa pameran sejarah PSIM, mulai memikirkan bagaimana artefact, koleksi mantan pemain PSIM bisa manjadi rangkaian narasi hidup dari perjalanan PSIM. Benang penghubung apa yang bisa merajut serakan barang masa lalu tersebut berkisah tentang pengalaman dan menjadi sejarah masa depan PSIM.

Dimpil bersama BawahSkor, megajak beberapa lingkar komunitas suporter PSIM seperti yodab.id, parangbiru.net, dan individu-individu suporter kritis seperti trbn_tmr dan lainnya, untuk turut serta menggawangi acara pameran yang kemudian diberi tajuk Museum of Laskar Mataram bersama PSIM Legend. Catatan berikut, kemudian adalah sebuah refleksi dari perjalanan singkat persiapan gelaran pameran Museum of Laskar Mataram.

“Bali ning Omah, Bali ning PSIM”

Musim kompetisi tahun ini, squad PSIM kembali menempati Wisma PSIM setelah pada tahun sebelumnya memilih untuk mengungsi dari mess yang terletak tepat di belakang monumen PSSI tersebut. Seiring peralihan manajemen tim, sejak beberapa waktu lalu, Wisma PSIM juga memasuki tahap renovasi bangunan. Kini, saat renovasi telah usai, dan squad PSIM kembali menempati ruang sakral di Jalan Mawar, Baciro, Yogyakarta, adalah momentum untuk kembali menapak dan melukis sejarah masa depan PSIM.

Kembalinya tim ke Wisma PSIM, bisa kita baca sebagai wujud dari “Bali ning Omah”. Omah (rumah) dalam hal ini, lebih dari sekedar perwujudan fisik, namun, omah sebagai ruang hidup dan reproduksi budaya (sepakbola) masyarakat. Oleh karenanya, tema pameran “Bali ning Omah, Bali ning PSIM” (Pulang Ke Rumah, Pulang ke PSIM) adalah upaya untuk merefleksikan gerak kita sebagai pemain, mantan pemain, suporter, dan seluruh manusia yang terhubung dalam ruang PSIM ini.

Lebih lanjut, melalui tema “Bali ning Omah, Bali ning PSIM”, adalah pijakan awal kerja kolaborasi bersama antara mantan pemain, suporter atau bahkan pengelola klub kedepannya. Bagi kami, pameran ini juga merupakan pondasi keberadaan Museum of Laskar Mataram, sebagai museum berbasis komunitas yang berkelanjutan.

Merajut Artefak para Legenda

Pekerjaan pelik selanjutnya adalah mengumpulkan benda-benda memorabilia beserta narasi dibalik peristiwa. Walaupun telah lebih dari tujuh tahun melakukan riset tentang PSIM, bukan hal mudah bagi Dimpil untuk mengemas ajakan Harmin dan para mantan pemain untuk menata koleksi masing-masing menjadi sebuah narasi pameran. Paling penting bagi kami adalah narasi, bukan sekedar caption mati yang menempel pada barang pameran. Narasi pada akhirnya adalah nyawa bagi tubuh-tubuh yang pernah menorehkan tinta bagi Laskar Mataram.

Sedikit menilik proses persiapan pameran, relawan dari komunitas suporter kemudian menjadi sentral dalam persiapan pameran yang semakin mendesak. Pengumpulan barang koleksi mantan pemain beserta wawancara dilakukan secara maraton selama kurang dari dua minggu. Pada saat bersamaan relawan lain mulai menyiapkan pernak-pernik pameran. Jika berkaca pada sistem kerja penyelenggaraan event secara profesional, maka tim relawan dengan segala keterbatasannya kemudian berhasil memposisikan diri sesuai dengan kemampuan dan kesediaan tenaga dan pikiran masing-masing. Sebagai contoh, Harmin, selaku mantan pemain dan bagian dari PSIM Legend, seolah menjadi Account Executive dan menjembatani komunikasi antara Legend dengan panitia dadakan ini. Dimpil pada sisi lain, berubah menjadi Project Officer dan fokus rajutan cerita serta tata kelola pameran.

Kembali pada upaya merajut serakan artefak dari para mantan pemain, tidak sedikit dari  relic mantan pemain urung ditampilkan. Memilah dan memilih, menghubungkan cerita antar puzzle relic masa berbeda tentu bukan pekerjaan mudah untuk waktu tidak lebih dari dua pekan. Namun, the show must go on, penggalan-penggalan cerita tersebut pada akhirnya bisa tersusun dan tersaji dalam pameran “Museum of Laskar Mataram: Bali ning Omah, Bali ning PSIM”.

Paitan” Semangat

Bagi orang-orang di balik penyelenggaraan pameran Museum of Laskar Mataram mungkin sudah menjadi sangat biasa melakukan sesuatu dengan hanya modal dedikasi dan cinta. Janji manis pejabat untuk pembiayaan pameran, tak juga kunjung hadir. Solidaritas dari lingkaran pertemanan PSIM Legend dan kerelaan beberapa individu pendemen PSIM pada akhirnya menjadi penyokong penyelenggaraan pameran.

Kurang tresno piye jal, wis kelangan tenaga, pikiran isih tambah cul-culan banda. Nek ra nggo PSIM, trima ora. Pokmen Los Dol!

Ujaran dari salah seorang relawan di atas, adalah bukti nyata bahwa kecintaan orang-orang di balik layar pameran terhadap PSIM. Lebih dari dana segar untuk operasional, beberapa orang merelakan barang-barang mereka untuk “diangkut” sebagai properti pameran.

Pada sisi lain, sempat muncul keraguan pameran ini bisa terselenggara mengingat situasi pandemi Covid-19. Keputusan untuk melakukan pembatasan undangan dan pengunjung, dan pengetatan protokol kesehatan menjadi pilihan rasional supaya pameran Museum of Laskar Mataram bisa tetap berjalan.

Akhir kata, bagi kami panitia pameran “Museum of Laskar Mataram: Bali ning Omah, Bali ning PSIM” –komunitas suporter dan PSIM Legend– pagelaran ini adalah bagian dari proses kerja kolektif dan utama nya bagi kami pecinta PSIM ini adalah laku kami dalam ber-suporter.