Rasa-rasanya kita dibuat menunggu oleh keputusan Mochammad Iriawan atau yang akrab dipanggil Iwan Bule tempo hari ketika mengadakan Pertemuan di Yogyakarta. Pertemuan itu seyogyanya mampu memberikan kejelasan tentang kelanjutan kompetisi. Apa mau dikata, pertemuan tersebut kurang lebih bernada seruan kepada pemerintah untuk memberikan izin pada operator LIB (Liga Indonesia Baru) menggulirkan kompetisi.

Poin-poin itu lebih bersifat pentingnya kompetisi ini berputar, mengingat banyak sekali elemen pelaku ekonomi yang terlibat. Mulai dari pedagang asongan di stadion, penjaja pernak-pernik baik yang orisinil maupun yang KW-KW an, pemain, perangkat pertandingan hingga para pemangku kepentingan, termasuk investor plus sponsor yang telah mengucurkan dana.

Oh iya, pertandingan yang dirundingkan ini akan memainkan pertandingan tanpa penonton, jadi ya terpaksa para pedagang asongan menepikan dagangannya dulu sementara. Ah, tetiba ingat celetukan manusia-manusia di tribun yang sering berteriak “bakule ulang tahun!”. Suara semacam itu nyaris tidak akan terdengar.

Pertemuan tersebut lebih membahas perubahan format kompetisi  Liga 1 dan 2 yang telah diramu menyesuaikan kondisi pandemi Covid-19. Liga 1 lebih menjadi porsi utama, lha gimana lagi, sebagai pendukung Liga 2 ya manut-manut saja. Jika Liga 1 bisa dimainkan pastilah kompetisi kasta kedua di Indonesia ini tentu digulirkan juga.

Asprov DIY malah lebih gesit dengan mengumumkan tidak akan menggelar kompetisi Liga 3 DIY. Kompetisi Liga 3 malah sering luput dari perhatian pusat. Pada dasarnya terlalu riskan juga menggelar kompetisi amatir.

“Para pemain Liga 3 malah tidak dikumpulkan dalam satu mess pemain, biasanya usai pertandingan mereka pulang ke rumah masing-masing” kurang lebih begitu komentar Syauqi Soeratno dalam forum Perempuan Dalam Sepakbola.

Syauqi menegaskan, situasi tim Liga 3 ini malah paling rentan terpapar Covid-19. Secara infrastruktur tim saja misalnya terkait mes pemain, tidak semua punya infrastruktur ini. Pola mengisolasi atau kemampuan menerapkan protokol kesehatan bagi tim Liga 3 ini dinilai belum siap. Ambillah contoh tim berbasis kampus seperti UAD FC dan HW UMY, usai pertandingan mereka pulang ke rumah masing-masing sehingga tingkat menulari (jika terinfeksi virus) menjadi tinggi.

***

Skuat PSIM kira-kira sudah dikumpulkan kembali 1,5 bulan ini. Mas Seto sebagai juru latih tentu sudah menyiapkan kurikulumnya yang baru terkait persiapan menghadapi putaran Liga 2 dalam format home tournament. PSIM akan bermain di tanah Sumatera nan jauh di sana. Para pemain digenjot saban hari demi mengembalikan stamina usai libur pandemi. PSIM menjajal latih tanding demi menguji taktik yang telah disiapkan. Aksi Yudha Alkanza ketika mencetak gol ke gawang tim liga 1, Barito Putera menjadi catatan tersendiri. Ia mencetak gol dari tendangan bebas.

Masih ingat laga melawan tuan rumah Sriwijaya FC? Yudha adalah kreator dari terciptanya gol Musafri. Kira-kira begini, bola dari Yudha dioperkan melambung ke arah Yoga Pratama yang berada di sisi kanan. Yoga mampu merangsek masuk kemudian memberikan umpan tarik di dalam kotak penalti. Sat set, seketika Musafri mampu mencocor bola. Bergetar juga jala gawang Sriwijaya FC. Sebenarnya menarik sekali kala itu tapi sudahlah, kita tahu kan insiden selanjutnya. Sudah tidak perlu dibahas lagi.

Sejauh ini PSIM praktis hanya mampu menjajal tim yang levelnya jauh di bawah mereka seperti Satria Adikarta, PS HW UMY, Rajawali FC dan JK Akademi. Tentu pertimbangan menjadi lawan tanding yang sepadan sudah direncanakan, sayangnya mobilitas serta mengundang tim dari luar kota masih terkendala situasi pendemi saat ini. Serentetan ujicoba PSIM selalu menang banyak sih, tanyakan saja Dwi Rafi Angga yang moncer selama laga ujicoba. Mungkin ke-moncer-an karena asupan gudeg Jogja! Nyasss. Tentu tidak lupa dengan minum teh dalam kemasan. He he.

Situasi ini memang membawa kita untuk benar-benar rehat. Beberapa hari lalu PSIM meliburkan lagi skuatnya. Sebagian besar pemain sudah pulang ke rumah masing-masing. Ketika artikel ini ditulis mungkin beberapa pemain sedang dalam perjalanan pulang. Akan ada satu cerita yang pasti dibicarakan kepada istri, anak, keluarga dan mungkin pacar bahwa “liga tidak jadi digelar”. Entah raut muka macam ketika menjelaskan hal itu.

Kira-kira apa ya ada dibenak Pak Bambang Susanto selaku CEO PSIM ketika liga dinyatakan tidak bergulir? Tentu bengkaknya biaya terkait operasional tim sudah dapat dibayangkan. Tekor. Jelas mumdas (mumet ndase). Ngapunten niki Pak nek salah.

 

Dimaz Maulana, pegiat Bawahskor