Kompetisi BRI Super League menyisakan 1 pertandingan, pada laga pamungkas PSIM masih memiliki kesempatan mendulang angka jika lawatan ke Malang berhasil meraih kemenangan, laga melawan Arema FC sekaligus menjadi pertandingan terakhir di kompetisi tahun 2025/2026. Membaca ulang perjalanan Laskar Mataram rasanya tidak bisa dilepaskan dari upaya pendaftaran stadion ke operator sebelum liga ini digulirkan. Lobi-lobi yang telah dilakukan manajemen kepada pemangku kebijakan mengalami jalan buntu sehingga menyita energi yang cukup besar, akibatnya banyak aspek non teknisyang luput dari visi strategis.
Beruntung performa teknis tim asuhan Van Gastel ini dapat menjadi suplemennya, PSIM mampu bertahan di klasemen akhir tanpa harus bergantung kepada tim lain. Musim depan PSIM dipastikan masih akan mengarungi kompetisi strata tertinggi di Indonesia, belajar dari pengalaman sebelumnya manajemen hendaknya mulai mengambil langkah konkrit terkait infrastruktur. Kebijakan ini menjadi penting, karena kepastian stadion lebih awal akan memberi interval waktu yang cukup untuk menyusun program non football dengan lebih terukur.
Kali ini PSIM tidak boleh lagi berlindung dari balik kondisi maklum atas pencapaian promosinya setelah 18 tahun – serta lambannya investigasi kasus korupsi Mandala Krida oleh KPK. Kedua alasan itu membuat PSIM tidak kunjung menjadi tuan rumah di kota sendiri, bahkan dalam beberapa kesempatan justru mencerminkan inferioritas. Jauh dari falsafah “Nyawiji greget sengguh ora mingkuh”.
PSIM sebagai klub sepakbola sudah beyond dari sekadar entitas klub sepakbola professional, eksistensinya membawa pesan bahwa warisan kultural ini perlu dijaga dan dilestarikan. Maka tidak ada hal lain kecuali mendorong seluruh pemangku kebijakan memperjuangkan PSIM kembali ke rumahnya. Mandala Krida!
Hal lain adalah soal bagaimana kualitas klub saat bertaut dengan pendukungnya. Kita masih ingat ketika pucuk pimpinan klub ini mendapatkan kesempatan hadir dalam forum Club Management Summit di Qatar. Semua berharap pengalaman berharga itu dapat menjadi sinyal betapa klub ini semestinya tidak lagi bersikeras mendapatkan atensi dari fans, namun ternyata hasilnya belum seperti yang kita harapkan.
Tata Kelola pertandingan yang tertinggal, komunitas yang tidak dirangkul hingga arus komunikasi media yang serampangan. Paling akhir dapat menjadi preseden buruk, setelah manajer tim mengumumkan bahwa yang bersangkutan meletakkan jabatan hanya melalui kanal media sosial pribadi. Ini bukan hanya kelalaian, namun menjadi bukti minornya koordinasi pada tataran pengambil kebijakan.
Konteks hari ini PSIM secara de jure memang masih berada di Jogja, namun jika menengok beberapa pos jabatan strategis-faktanya mereka berdinas di Jakarta. Penulis tidak bermaksud mendiskreditkan kinerja mereka secara umum, namun kebijakan ini cukup beresiko. Realitas sosial dan dinamika pendukung yang ada di daerah seringkali bergerak begitu cepat, maka perlu dipertimbangkan untuk menyerahkan dedikasi ini kepada sosok yang memiliki kapasitas untuk mengambil keputusan secara komprehensif.
Urusan teknis dan non teknis dalam sepakbola merupakan konfigurasi yang tidak terpisahkan, keduanya berfungsi krusial sebagai pilar penyangga kelangsungan klub. Sekali lagi beruntung! PSIM ini lahir di Jogja, besar dan tumbuh dalam budaya handarbeni yang kuat. Akar seni, sejarah dan beragam komunitas saling berkelindan. Jika berhasil menautkan satu saja akar ini ke dalam rencana jangka panjang, maka PSIM tidak hanya menjadi ruang baru namun dalam waktu yang bersamaan dapat menyemai buah bernama regenerasi.
Sampai jumpa di musim depan teman-teman semuanya.
Benardi Iriawan