Mendadak Pundit

Oleh: Aryo Yudanto

Sebelum panjang lebar, saya mengawali tulisan ini dengan sebuah disclaimer bahwa saya menulis di sini bukan sebagai seorang ahli taktik sepakbola. Tulisan ini merupakan bentuk awur-awuran dari seorang penonton umum, walaupun di sini saya mengungkapkan sebuah rahasia bahwa saya sebenarnya sudah mendukung PSIM sejak zaman Panembahan Senopati mbabat Alas Mentaok. Lebih dari itu, saya sendiri memegang KTP DIY –jadi jangan tanya lagi, “KTP ngendi kowe?” kepada saya. Kali ini saya akan berlagak sebagai seorang pundit, tanpa keahlian sama sekali tentang taktikal sepakbola, tidak memiliki latar belakang sebagai pemain sepakbola profesional maupun tarkam, dan tidak pernah mempelajari kepelatihan sepakbola. Selanjutnya, sebagai pundit dadakan dan abal-abal tentu saja saya sudah menantikan musim kompetisi baru dimulai. Melewati musim pertama, setelah kembali pada level tertinggi sepakbola Indonesia dan mengakhiri musim pada posisi 11 klasemen, musim tahun ini, PSIM melakukan beberapa perombakan pemain, walaupun masih mempertahankan beberapa pemain lamanya. Oleh karenanya, dalam hal ini, sebagai orang yang merasa kemeng jika diminta untuk jalan kaki bahkan hanya beberapa ratus meter, saya akan memulai dengan melihat racikan tim PSIM pada musim lalu.

Racikan Musim Lalu

Mengawali musim dengan gagah sebagai tim promosi, PSIM sempat beberapa minggu beredar di papan atas klasemen Super League musim lalu. Bersama Van Gastel, seorang pelatih dengan pengalaman mentereng dan diasisteni oleh Sang Mesiah Erwan Hendarwanto, PSIM tampil sebagai sebuah tim dengan permainan sangat terstruktur. Sebagai pelatih dengan latar belakang Walanda, Van Gastel secara konsisten mengandalkan penguasaan bola dan sirkulasi pendek dari lini belakang sebagai senjata utama. Skema ini terbukti cukup ngeget-geti pada paruh pertama musim lalu, sehingga Persebaya dipaksa tenggelam oleh adonan Van Gastel pada laga pembuka. Selama musim lalu, sepertinya PSIM konsisten mengandalkan skema single striker, nampaknya sengaja untuk menjaga kepadatan lini tengah.

Namun demikian, selepas beberapa pertandingan PSIM terlihat mulai njendel, dan pola permainan PSIM mulai bisa diredam oleh tim lawan. Meskipun sering unggul dalam penguasaan bola, namun tidak jarang PSIM kepletre dan berujung pada kekalahan. Sebagai pundit un-profesional, saya seperti melihat skema yang terlalu text book dan kaku sehingga terkadang tampak gagap merespons permainan lawan. Walaupun demikian, kita juga harus menyadari sepenuhnya bahwa terdapat persolan kedalaman skuad PSIM pada musim lalu yang setipis UMR Jogja. Artinya bisa jadi pada situasi tersebut memang “wis kentekan ulur.” Kendati demikian, secara pribadi selama musim lalu saya sangat terkesan dengan cara bermain Savio Sheva. Tanpa dribbling meliuk-liuk layaknya pemain nagarikonoha lainnya, kepandaian Sheva dalam mengeksplorasi ruang antar lini sering menjadi pemecah kebuntuan serangan PSIM musim lalu. Posisi cair dan pergerakan tanpa bola oleh Savio Sheva dengan dukungan aliran bola dari Ze Valente dan Ezequiel Vidal menjadi modal berharga untuk mengolah racikan baru musim kali ini.

Meraba Olahan Van Gastel

Memasuki musim kompetisi 2026/2027, PSIM masih mempertahankan hampir 70% dari skuad musim lalu. Pertanyaannya kemudian adalah, dengan materi pemain yang sebagian besar masih merupakan kerangka tim sebelumnya, bagaimana Van Gastel akan meracik pemain pada musim kali ini? Tercatat PSIM hanya mendatangkan dua pemain lokal baru yakni bek muda Muhammad Alwi Fadilah dan gelandang senior Ahmad Agung serta mempromosikan kiper muda jebolan EPA U-16 PSIM Athaullah Daib sebagai kiper keempat.

Sementara itu, tidak tanggung-tanggung musim kali ini PSIM menambah lima pemain asing baru. Mereka adalah Adrian Purzycki (Polandia/gelandang bertahan), Ondrej Rudzan (Republik Ceko/bek kiri), Marvin Loria (Kosta Rika/ winger), Adrian Dalmau (Spanyol/striker) dan Mauro Caballero (Paraguay/striker). Melihat komposisi pemain baru yang didatangkan bisa jadi Van Gastel mencoba membongkar kebuntuan yang acap kali terjadi pada adonan penyerangan PSIM musim lalu. Penumpukan posisi striker (baru) bisa jadi merupakan upaya Van Gastel untuk memberikan sensasi manis, gurih, bantat atau justru mlenyek, alih-alih menambahkan keju pada racikannya. Lantas mendasarkan pada model permainan Van Gastel di musim lalu, seperti apa kiranya sajian dan komposisi permainan PSIM musim ini?

Sebagai seorang GK (Garis Keras) Walanda nampaknya Van Gastel akan mempertahankan model permainan seperti musim sebelumnya dengan pilihan pemain yang bisa jadi lebih dalam. Mengingat Van Gastel sendiri menyatakan bahwa cara perekrutan pemain di Indonesia sedikit berbeda, dan semoga saja rekrutan baru saat ini tidak kapusan brosur atau vidio agen. Menimbang regulasi baru Super League dimana mengizinkan tujuh orang pemain asing berada di lapangan dan sembilan pemain di daftar susunan pemain, di sini saya mereka-reka susunan pemain yang bisa jadi menjadi pilihan awal Van Gastel untuk mengarungi musim ini.

Pola 4-2-3-1 bisa jadi menjadi pilihan utama Van Gastel, mengingat sejak musim lalu secara konsisten menempatkan satu striker tunggal di depan. Dengan pola ini maka kira-kira susunan pemain pada awal musim ini adalah Cahya (GK), Ondrej, Franco Ramos (c), van der Avert, Raka, Purzycki, Valente, Abiyoso, Sheva, Vidal, dan Dalmau. Komposisi ini menjadi adonan aman dengan menjaga kekompakan tim yang sudah terbangun sejak musim lalu. Selain itu, tentu saja PSIM masih memiliki Loria pada posisi winger, Caballero pada posisi striker dan tentunya Yusaku sebagai bek tengah. Lalu dimana Haljeta yang musim lalu paling sering menjadi sajian dalam menu utama? Untuk itu, sepertinya kita harus menyerahkan kepada keputusan Gusti Ingkang Murbehing Dumadi. Saya sendiri, menantikan kiprah Sheva pada musim ini, apakah dia mampu bersaing dalam skuad baru ini? Sehingga bisa ngosak-asik gawang lawan. Namun demikian, formasi ini adalah formasi kiro-kiro, hasil dari penerawangan setelah sowanEyang Panembahan.

Mencoba Bumbu Baru?

Bagian terakhir ini bisa jadi tangeh lamun, mengingat hal ini adalah hasil khayalan saya pribadi dari wangsit dan sebagai seorang pundit karbitan. Melihat skuad tim PSIM kali ini, saya pribadi lebih condong menggunakan skema 3-4-2-1. Formasi ini akan memberikan keunggulan jumlah pemain pada lini tengah, sehingga gelandang serang bisa berada di ruang antar lini lawan. Saya membayangkan susunan pemain yang akan diturunkan adalah Cahya (GK), Yusaku, Franco Ramos (c), van der Avert, Ondrej, Ahmad Agung/Purzycki, Valente, Raka, Sheva, Vidal, dan Dalmau. Melalui formasi ini Sheva dan Vidal bisa lebih leluasa mengeksploitasi ruang antar lini sebagai double AM, dengan kebebasan bertukar posisi secara cair (fluid free role).

Terakhir, apakah bumbu yang saya ajukan ini lebih mirasa atau justru tambah anyep? Tentu saja saya tidak mengambil pusing akan hal tersebut. Jika pada akhirnya “analisis” ini dianggap tajam, maka akan membuktikan pernyataan bahwa saat ini sedang terjadi “kematian para ahli” namun jika anda menganggap ini adalah tulisan sampah, maka saya akan sangat berbangga hati menerimanya. Lantas, bagaimana PSIM akan mengarungi musim kompetisi ini? Maka, patut kita ambus terlebih dahulu olahan Van Gastel musim ini pada launching tim dan beberapa pekan awal Super League berjalan.

*Penulis adalah seorang bakul kopi pinggir ndalan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *