“Honor the Legacy”, lalu apa lagi?

Refleksi usia ke-97 tahun PSIM Jogja yang disampaikan melalui https://psimjogja.id/menapaki-usia-97-tahun-psim-jogja-menjaga-tradisi-lewat-slogan-honor-the-legacy/ menegaskan satu hal yang tidak bisa dibantah: PSIM adalah sejarah itu sendiri. Sebagai salah satu pendiri PSSI, merawat tradisi ziarah ke Imogiri, sungkem ke Keraton, hingga menyematkan motif batik di jersey mungkin adalah bentuk dari Honor the Legacy itu.

Namun, menuju usia satu abad, muncul pertanyaan besar oleh publik dan para pendukung Laskar Mataram: Setelah Honor the Legacy, lalu apa lagi?

Menghormati sejarah memang modal yang sangat berharga, tetapi warisan tidak akan pernah cukup untuk memenangkan laga di kompetisi. Keberhasilan PSIM “naik kasta” (mungkin) adalah bukti bahwa sejarah itu berhasil diperjuangkan. Kini, “honor” terbaik sebagai pendiri PSSI bukanlah sekadar mengenangnya atau sekadar “mampir ngombe”, melainkan membuktikan keseriusan PSIM untuk bersaing di papan atas Super League.

Untuk membuktikan bahwa Honor the Legacy bukan sekadar gimmick komersial atau jargon musiman, harapannya manajemen PSIM dapat mewujudkan arah tujuan yang terukur. Menghormati sejarah harus diterjemahkan dalam target teknis yang jelas, strategi yang konsisten untuk bersaing di papan atas Super League, juga pembentukan tim yang berkelanjutan, bukan sekadar bongkar-pasang pemain di setiap musim.

Selain urusan teknis di lapangan, keseriusan tersebut juga perlu dibuktikan melalui tata kelola dan infrastruktur yang profesional. PSIM sebagai klub dengan sejarah panjang, semoga pengelolaannya juga jangka panjang (hehe). Ya semoga fasilitas latihan mandiri, akademi usia muda, hingga pengelolaan finansial yang sehat dan transparan sudah terfikirkan.

Menuju usia se-abad, harapannya PSIM tidak hanya berfokus pada kelangsungan hidup dari musim ke musim. Rancangan strategis jangka panjang: bagaimana menjadikan PSIM sebagai industri olahraga yang mandiri, modern, namun tetap memiliki ikatan emosional dan budaya yang kuat dengan masyarakat Yogyakarta haruslah yang utama. Warisan sejarah yang panjang adalah identitas, tetapi prestasi dan keberlanjutan adalah masa depan. Kita semua bangga pada sejarah PSIM, tetapi Yogyakarta juga berhak bangga atas prestasi PSIM hari ini dan masa depan. Saatnya Honor the Legacy diterjemahkan menjadi aksi nyata demi membawa LASKAR MATARAM DIGDAYA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *