Sore itu, seisi Mandala Krida membiru. Pertemuan panas dengan tim Ibu Kota membakar semangat hingga membumbung tinggi. Sorak-sorai pecah saat Adolfo melesakkan gol yang membawa Laskar Mataram unggul lebih dulu. Gegap gempita membahana di tiap sudut tribun, sebelum akhirnya dua gol balasan Persija yang dicetak Roger Batoum dan Oscar Aravena membalikkan keadaan dan mengunci kemenangan bagi tim tamu. Momen emosional itu terukir tepat dua dasawarsa silam.
Laga berhadapan dengan Persija Jakarta memang selalu menjadi salah satu panggung yang paling dinanti. Sejarah panjang perserikatan serta kehangatan hubungan antarkelompok suporter menjadi bumbu manis yang memperkaya cerita pertarungan kedua klub.
Kini, setelah dua puluh tahun berlalu, PSIM kembali bersiap menjamu Macan Kemayoran di tanah kelahirannya. Bukan di rumput legendaris Mandala Krida — akibat jejak korupsi otoritas yang merenggut haknya — melainkan di Stadion Sultan Agung, arena yang lebih dekat dengan bekas pusat kejayaan Kerajaan Mataram.
Bukan sepak bola namanya jika tanpa persaingan demi membuktikan siapa yang terbaik. Dalam dua pertemuan terakhir, PSIM terbukti mampu merepotkan sang tamu, meski hasil akhir belum sepenuhnya berpihak. Momen perayaan ulang tahun yang nyaris ternoda, hingga laga alot di I Wayan Dipta di mana lawan dibuat kewalahan, semuanya masih menyisakan kata nyaris.
Kali ini, cerita harus berbeda. Tak boleh lagi sekadar nyaris, melainkan harus berbuah manis. Tiga poin menjadi harga mati. Catatan minor di tiga laga awal harus segera diakhiri. Nasib baik tak boleh lagi sekadar dinanti, tapi harus direbut dan disegerakan.
Biarkan persaudaraan abadi terus bersemi, namun kemenangan mutlak tetap milik kami!
Selamat datang di Bumi Mataram, Jakmania!